Pendahuluan
Campak merupakan suatu kondisi penyakit akut yang dapat menular yang disebabkan oleh virus, cenderung mengenai anak-anak dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang. Penyakit campak dapat menular dari satu orang ke orang lain melalui droplet atau bahkan melalui udara. Penyakit ini termasuk dalam jenis penyakit yang bisa dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Sebagian orang menganggap campak sebagai ruam kecil dan demam yang akan hilang dalam beberapa hari. namun, campak juga berpotensi sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecacatan dan kematian akibat komplikasi yang ditimbulkannya. Campak bisa menimbulkan masalah yang serius pada individu dengan sistem kekebalan yang lemah seperti diare, pneumonia, ensefalitis, kebutaan, kurang gizi, bahkan kematian (Kemenkes, 2024).
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2017, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara dengan jumlah tersebut. terjadi peningkatan secara signifikan dalam jumlahnya terdapat 8.964 kasus positif campak yang tercatat Laporan telah tersaji pengawasan di Indonesia. setiap tahunnya dinyatakan lebih dari 11.000 anak telah terkena dampak tersebut. Penyakit campak diagnosa medis yang diterima sejumlah 12 hingga 39% anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan laboratorium telah terkonfirmasi positif terinfeksi campak. Dari dalam rentang tahun 2010 hingga 2015, hasilnya diperoleh ada 23.164 anak yang terjangkit penyakit sebanyak 70% campak terjadi di tempat tersebut [1].
Pada tahun 2019, tercatat 8.819 kasus suspek campak meningkat bila di bandingkan dengan tahun 2018. Kasus suspek campak terbanyak ditemukan di Provinsi Jawa Tengah mencapai 1.562, sementara di DKI Jakarta 1.374 kasus dan Aceh mencatat 972 kasus. Bagian yang harus diukur atau di bandingkan dalam sebuah objek atau situasi tertentu disebut sebagai proporsi. Kasus campak yang paling sering terjadi terjadi pada anak usia 1-4 tahun, Angka tertinggi tercatat pada angka 29,3%, sementara yang terendah terjadi pada rentang usia 10-14 tahun di angka 11,6% (kemenkes, 2020).
Penanganan campak terdiri dari tiga Langkah penting yaitu reduksi, eliminasi, dan eradikasi. Tahap Reduksi merupakan usaha untuk meningkatkan cakupan pemberian vaksin secara teratur dan vaksinasi pada waktu yang tepat, Mendapatkan imunisasi tambahan kedua di lokasi yang memiliki tingkat kasus campak yang tinggi. Tahap eliminasi mencakup program imunisasi lebih dari 95% kasus campak sangatlah jarang terjadi di daerah-daerah yang memiliki tingkat imunisasi yang rendah dan sangat sedikit jumlahnya. Anak-anak yang diduga rentan perlindungan yang tidak memadai perlu ditelusuri dan diberi vaksinasi. sementara kasus infeksi terus menurun campak kini tidak lagi ditemukan di mana-mana (Maryati Sutarno and Noka Ayu Putri Liana 2019).
Vaksin campak diperkenalkan pada tahun 1993, epidemi besar terjadi setiap dua hingga tiga tahun dan menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian setiap tahun. Diperkirakan 136.000 orang meninggal karena campak pada tahun 2022 dan kebanyakan anak-anak di bawah usia 5 tahun, meskipun tersedia vaksin yang aman. WHO kemitraan campak dan mitra internasional lainnya berhasil mencegah sekitar 57 juta kematian antara tahun 2000-2022. vaksinasi menurunkan perkiraan kematian campak dari 761.000 pada tahun 2000 menjadi 136.000 pada tahun 2022 (World Health Organization, 2024).
WHO mengungkapkan keraguan terhadap vaksin (imunisasi) terjadi ketika seseorang meragukan keamanan atau manfaatnya. Menunda atau menolak untuk menerima pelayanan imunisasi yang sudah disediakan sehingga menyebabkan kekurangan imunisasi dasar. Situasi ini terjadi karena jumlah berita yang tidak akurat yang tersebar di tengah masyarakat mengenai vaksin yang akan datang setelah di imunisasi, baik bahan pembuatannya maupun efek sampingnya telah diperiksa pada bayi dan anak saat di imunisasi. Berita telah tersebar mengenai adanya kasus yang ditemukan di beberapa daerah di kota-kota besar vaksin palsu serta berbagai peristiwa tidak mengenakan setelah imunisasi seperti kejang dan tubuh lemas seperti merasa akan pingsan, mual bahkan muntah, kondisi tersebut juga berdampak pada ibu dalam memberikan vaksinasi untuk anak [2].
Perubahan dalam perilaku ibu juga terinspirasi oleh cinta dan dukungan keluarga. Bentuk bantuan kelompok keluarga adalah seperti anggota yang dapat diberikan keluarga dengan penuh kasih menunjukkan perhatian kepada ibu saat itu. Anaknya mengalami sakit setelah menerima imunisasi, keluarga menyediakan dana untuk imunisasi anaknya. Sementara anggota keluarga memberikan informasi yang diperlukan mengenai keuntungan dari imunisasi, perlu diperhatikan juga anggota keluarga menyarankan ibu agar mengajak anaknya pergi ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi [2].
Kepentingan pemberian imunisasi campak dipengaruhi oleh pengetahuan ibu mengenai hal tersebut imunisasi campak juga sangat penting bersamaan dengan dukungan dari keluarga. Apabila keluarga tidak memberikan dukungan terhadap pelaksanaan imunisasi, maka mungkin saja meskipun ibu memiliki niat yang baik, namun terhambat karena permasalahan di dalam keluarga, orang tua, kerabat, atau suaminya menolaknya. sama halnya dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Ilham (2017), ditemukan bahwa keterlibatan keluarga berpengaruh pada sejauh mana seorang ibu menjalankan imunisasi untuk anaknya pedoman yang lengkap mengenai perawatan bayi. di mana para ibu tidak membawa anak-anak mereka untuk diimunisasi campak karena keluarga melarang karena anak kemungkinan akan menjadi demam dan menjadi rewel [3].
Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada fokus kajian yang secara spesifik menelaah hubungan antara dukungan keluarga dan kepatuhan imunisasi campak pada ibu balita di tingkat pelayanan kesehatan dasar, yaitu Posyandu Desa Gayam. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya dilakukan pada skala wilayah yang lebih luas atau di fasilitas kesehatan formal, penelitian ini menekankan konteks lokal masyarakat pedesaan dengan karakteristik sosial, budaya, dan kepercayaan yang khas. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran empiris yang lebih mendalam mengenai faktor keluarga sebagai determinan utama keberhasilan imunisasi campak, serta menjadi dasar perumusan strategi edukasi dan intervensi yang lebih tepat sasaran di tingkat posyandu.
Metode
A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional yang termasuk dalam metode kuantitatif dengan cara cross sectional.
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini di Posyandu Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei 2025 sampai Juni 2025.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi usia 9 sampai 18 bulan sampai dan tinggal di Posyandu Desa Gayam. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 86,6 balita.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 33 responden [4].
D. Variabel Penelitian
1. Variabel terikat (dependen)
Dalam konteks penelitian ini, vaksinasi campak berperan sebagai variabel dependen.
2. Variabel bebas (independent)
Dalam penelitian ini, variabel independen yang diteliti adalah dukungan keluarga dan pengetahuan ibu.
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Tabel 1. Definisi Operasional
F. Prosedur Penelitian atau Pengambilan Data
1. Alur Penelitian
Figure 1. Bagan Alur Penelitian
2. Pengumpulan Data
a . Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui pemberian kuisioner yang dirancang berdasarkan parameter yang telah ditentukan oleh peneliti sesuai dengan tujuan penelitian.
1) Alat pengumpulan data
a) Lembar observasi
Variabel status imunisasi menggunakan skala Guttman yang terdiri dari dua pilihan, yaitu "ya" dan "tidak". Skor 1 diberikan untuk anak yang telah menerima imunisasi campak, sedangkan skor 0 diberikan bagi mereka yang belum.
2 ) Kuesioner
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang dirancang untuk mengukur pengetahuan tentang penyakit campak. Kuesioner ini mencakup beberapa aspek, antara lain pengertian penyakit campak, tanda dan gejala yang menyertainya, status imunisasi, serta pengetahuan ibu tentang topik ini [5].
3 . Teknik Pengolahan Data
a . Pemeriksaan Data
Pada tahap ini, peneliti melakukan pengecekan terhadap daftar pertanyaan yang telah disampaikan oleh pengumpul data.
b . Mengkode Data (data coding)
Setelah angket terkumpul, langkah selanjutnya adalah memeriksa kelengkapannya. Kemudian, setiap jawaban responden akan diberi kode sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setiap responden akan mendapatkan kode dari 1 hingga 33.
c . Memasukkan Data (data entry)
Pengolahan data menggunakan computer yang selanjutnya bertujuan untuk mendapatkan jawaban penelitian.
d . Analisis Data
Pengolahan data dan pengujian data dengan uji statistik.
G. Analisa Data
1. Statistik Deskriptif
Dalam penelitian ini, kami menggunakan analisis univariat, yang mencakup:
a. Analisis status dukungan keluarga terkait kejadian campak .
Tujuan dari analisis ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai dukungan keluarga, yang dikategorikan menjadi dua kelompok: keluarga balita yang selalu mendapatkan imunisasi campak dan yang belum. Dalam analisis ini, yang telah memperoleh imunisasi campak diberi skor 1, sementara responden yang belum menerima imunisasi campak diberi skor 0.
b. Analisis tingkat pengetahuan ibu
Mengenai kejadian campak dilakukan dengan mengkategorikan pengetahuan ibu ke dalam tiga kelompok: baik, cukup, dan kurang. Pada subbab metode analisis data dituliskan bunyi hipotesis statistik yang akan diuji (H0 dan H1) untuk setiap hipotesis.
H. Etika Penelitian
1. Perizinan
Peneliti mengajukan permohonan izin untuk melakukan penelitian di Posyandu Gayam, Setelah menerima izin dari Kepala Posyandu I Denpasar Selatan, peneliti pun memulai proses penelitian.
2. Persetujuan Informan (Informed Consent)
Terdapat lembar persetujuan yang diberikan kepada calon responden, yang menyatakan bahwa mereka bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Setiap responden memiliki hak untuk menolak atau tidak bersedia menjadi subjek penelitian.
3. Manfaat Penelitian ( Beneficience )
Para responden akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, yang mencakup pemahaman lebih dalam mengenai penyakit campak, termasuk penjelasan tentang gejala, faktor risiko, serta cara pencegahan penyakit tersebut.
4. Anonimitas
Peneliti berkomitmen untuk menjaga kerahasiaan identitas responden dengan menggunakan inisial nama mereka. Setiap calon responden diminta untuk memberikan tanda tangan, dan pengumpulan data penelitian hanya akan mencantumkan kode identifikasi.
5. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan adalah prinsip etis yang penting dalam penelitian. Peneliti memberikan jaminan bahwa semua informasi yang diberikan oleh responden akan dirahasiakan, dan hanya data agregat yang akan dilaporkan dalam hasil penelitian [6].
Hasil dan Pembahasan
A. Gambaran Umum
Penelitian ini dilakukan di salah satu desa, dengan responden sebanyak 33 ibu yang memiliki anak usia imunisasi campak. Penelitian ini untuk mengetahui distribusi tingkat pengetahun ibu dan dukungan keluarga terhadap pelaksanaan imunisasi campak. Data diperoleh melalui lembar kuesioner 25 pertanyaan yang terdiri dari 15 Pertanyaan mengenai Pengetahuan ibu dan 10 Pertanyaan mengenai dukungan keluarga. Hasil pengumpulan data di analisis menggunakan software SPSS Statistic.
B. Distribusi Data
1. Data Umum
a. Distribusi Usia Ibu
Tabel 1. Distribusi Usia Ibu
b. Distribusi Pendidikan Terakhir Ibu
Tabel 2. Distribusi Pendidikan Terakhir Ibu
c. Distribusi Pekerjaan Ibu
Tabel 3. Distribusi Pekerjaan Ibu
d. Distribusi Usia Keluarga
Tabel 4. Distribusi Usia Dukungan Keluarga
e. Distribusi Pendidikan Terakhir Keluarga
Tabel 5. Distribusi Pendidikan Terakhir Keluarga
f. Distribusi Pekerjaan Keluarga
Tabel 6. Distribusi Pekerjaan Keluarga
Tabel 7. Jarak Rumah Ibu ke Posyandu
Berdasarkan tabel, didapatkan hasil penelitian dari 33 responden yang diteliti didapatkan sebanyak 27 orang (81,8%) jarak rumah ibu jauh, dan 6 orang (18,2%) jarak rumah ibu dekat.
2. Data Khusus
Tabel 8. Distribusi Data
C. Analisis Univariat
1. Karakteristik Skor Berdasarkan Pengetahuan Ibu
Tabel 9. Skor Berdasarkan Pengetahuan Ibu
Hasil uji univariat skor Pengetahuan Ibu menunjukkan bahwa sebanyak 32 responden (97%), termasuk dalam kategori pengetahuan tinggi, sementara hanya 1 responden (3%) tergolong pengetahuna rendah. Skor rata-rata Pengetahuan Ibu sebesar 11.94% dengan standar deviasi nya 1.105. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas jbu telah memahami aspek penting tentang campak, termasuk juga tentang gejala, cara pencegahan dan jadwal imunisasi.
Figure 2. Kategori Skor Pengetahuan Ibu
2. Karakteristik Skor Berdasarkan Dukungan Keluarga
Tabel 10. Skor Dukungan Keluarga
Figure 3. Skor Dukungan Keluarga
Hasil uji univariat skor Dukungan Keluarga menunjukkan bahwa sebanyak 23 responden (69.7%), mendapatkan dukungan dari keluarga dengan kategori buruk, sementara hanya 10 responden (30.3%) mendapatkan dukungan keluarga kategori baik. Skor rata-rata Dukungan Keluarga sebesar 1.3030 dengan standar deviasi nya 0.46669. Hal ini mengindikasi bahwa dukungan sosial keluarga baik dalam bentuk dorongan, pendampingan, maupun hanya perhatian kecil menunjukkan kurang merata dan masih berada dikategori buruk. Oleh karena itu dukungan keluarga sangat berperan penting dalam meningkatkan motivasi ibu untuk melengkapi imunisasi anak
D. Pembahasan
1. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Imunisasi Campak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa faktor terhadap pemberian imunisasi campak, khususnya pengetahuan ibu dan dukungan keluarga. Penelitian dilakukan di Posyandu Desa Gayam dengan responden sebanyak 33 ibu yang memiliki anak usia 9–18 bulan [7]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu (97%) memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai imunisasi campak, namun lebih dari separuh responden (69,7%) mengalami dukungan keluarga yang buruk [8]. Meskipun tingkat pengetahuan tinggi, angka cakupan imunisasi campak belum optimal, mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup dalam menentukan keputusan pemberian imunisasi [9].
Temuan ini diperkuat oleh penelitian (Rosada & Simangunsong, 2006) yang menemukan bahwa semakin tinggi penegtahuan ibu, semakin besar kepatuhan terhadap jadwal imunisasi. Selain itu penelitian oleh (Ananta Noor Baihaqi et al., 2024) menyatakan bahwa edukasi Kesehatan dapat secara signifikan meningkatkna pemahaman ibu tentang pentingnya imunisasi [10].
Tak hanya pengetahuan ibu saja, namun dukungan keluarga juga sangat berpengaruh, dalam peneltiian (Irene Mustika et al., n.d.) membuktikan bahwa dukungan emosional dan fungsional dari keluarga berperan besar dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan anak [11]. Pengetahuan ibu merupakan aspek kognitif yang memengaruhi persepsi terhadap manfaat dan risiko imunisasi. Pengetahuan yang baik akan mendorong terbentuknya sikap positif, yang pada akhirnya mempengaruhi tindakan kesehatan, termasuk imunisasi [12]. Penelitian ini konsisten dengan teori tersebut, dimana mayoritas ibu memiliki pengetahuan tinggi tentang pentingnya imunisasi campak, tanda dan gejala penyakit, hingga jadwal pemberian vaksin [13].
Namun, meskipun pengetahuan tinggi, keputusan akhir ibu dalam membawa anaknya ke posyandu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, melainkan juga oleh dukungan sosial, khususnya dari keluarga inti. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa hanya 30,3% ibu yang mendapat dukungan keluarga dalam kategori baik, sedangkan sisanya (69,7%) termasuk dalam kategori dukungan buruk [14]. Dukungan keluarga termasuk dalam faktor penguat (reinforcing factor) menurut teori Green, yaitu faktor eksternal yang memperkuat keputusan individu untuk berperilaku sehat [15].
Dukungan ini dapat berupa dukungan emosional (motivasi, dorongan moral), dukungan informasi (penyuluhan dari pasangan atau orang tua), maupun dukungan instrumental (mendampingi ibu ke posyandu, menyediakan transportasi, memberi izin atau waktu luang). Ketika dukungan ini tidak optimal, meskipun ibu memiliki niat baik dan pengetahuan yang memadai, kemungkinan besar imunisasi tidak dilakukan tepat waktu atau bahkan tidak diberikan sama sekali [16].
Hasil Fisher’s Exact Test juga menunjukkan nilai p = 0,364 (> 0,05), memperkuat kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan. Namun demikian, secara praktis, hasil ini tetap memberikan wawasan bahwa peran keluarga tidak boleh diabaikan dalam intervensi imunisasi. Dukungan keluarga yang rendah dapat menghambat tindakan positif ibu, sekalipun memiliki pengetahuan yang memadai [17].
Selain faktor utama tersebut, dalam pembahasan ini juga perlu dikaji variabel-variabel lain yang secara tidak langsung turut memengaruhi hasil penelitian, seperti:
a. Jarak ke Posyandu:
Sebanyak 27 ibu (81,8%) tinggal jauh dari posyandu. Jarak yang jauh menjadi hambatan fisik dan psikologis. Hambatan ini memengaruhi kemauan ibu untuk datang secara rutin sesuai jadwal imunisasi [18]. Hal ini juga dapat memperburuk keadaan jika transportasi terbatas, biaya tinggi, atau tidak ada pendamping.
b. Tingkat Pendidikan:
Ibu dengan pendidikan tinggi cenderung lebih mudah menyerap informasi dan memiliki akses terhadap informasi kesehatan. Dalam penelitian ini, 15,2% responden adalah lulusan sarjana, sedangkan sisanya mayoritas hanya sampai SMA atau SMP. Pendidikan yang rendah sering dikaitkan dengan kerentanan terhadap informasi palsu (hoaks) tentang vaksin.
c. Pekerjaan Ibu:
Sebanyak 51,5% responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT), yang seharusnya lebih fleksibel secara waktu. Namun, IRT juga bisa saja sibuk mengurus rumah tangga sehingga sulit meluangkan waktu untuk datang ke posyandu. Sementara ibu yang bekerja mungkin memiliki kendala waktu yang lebih besar namun juga memiliki akses informasi yang lebih luas.
d. Usia Ibu dan Kematangan Emosional:
Ibu usia muda lebih rentan terhadap pengaruh luar dan kurang berani mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan keluarga. Hal ini menjadi tantangan jika keluarga tidak mendukung.
e. Budaya dan Kepercayaan Lokal:
Beberapa responden menyebutkan adanya larangan dari orang tua atau mertua karena anak akan rewel setelah imunisasi. Mitos-mitos ini masih kuat berakar di beberapa komunitas pedesaan dan menjadi faktor penghambat yang perlu diatasi melalui penyuluhan intensif.
Dengan mempertimbangkan berbagai variabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keputusan ibu dalam pemberian imunisasi campak adalah hasil dari interaksi kompleks antara pengetahuan, dukungan sosial, serta kondisi sosial-ekonomi dan budaya. Oleh karena itu, program edukasi imunisasi tidak cukup hanya menyasar ibu, tetapi harus melibatkan keluarga dan tokoh masyarakat secara aktif [19].
2. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu:
a. Desain cross-sectional hanya menggambarkan hubungan antar variabel pada stau waktu, sehingga tidak bisa memastikan hubungan sebab akibat.
b. Data diperoleh melalui kuisioner yang bergantung pada ingatan dan kejujuran responden, yang berpotensi menimbulkan bias.
c. Penelitian ini belum memasukkan faktor lingkungan seperti kondisi sanitas, dan akses pelayanan Kesehatan, yang juga mempengaruhi pelaksanan imunisasi.
Diharapkan penelitian selnajutnya dapat menggunakan pendekatn longitudinal, serta menggabungkan obersvasi objektif untuk mendaptkan hasil yang lebih komprehensif.
Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pemberian imunisasi campak di Posyandu Desa Gayam. Dan dapat disimpulkan bahwa:
1. Tingkat pengetahuan ibu yang tinggi tidak secara otomatis mendorong tindakan pemberian imunisasi campak, karena masih dipengaruhi oleh faktor lain di luar pengetahuan itu sendiri.
2. Dukungan keluarga terbukti berperan penting dalam keputusan pemberian imunisasi campak, namun dalam praktiknya dukungan tersebut belum selalu diberikan secara optimal kepada ibu.
3. Faktor karakteristik ibu dan lingkungan, seperti usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, serta jarak tempuh ke posyandu, turut memengaruhi tingkat dukungan keluarga dan berdampak pada rendahnya cakupan pemberian imunisasi campak.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kader Posyandu Desa Gayam, petugas kesehatan, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan masukan dalam meningkatkan cakupan dan kualitas pemberian imunisasi campak di Posyandu Desa Gayam.