Login
Section Education

Gerontological Education Practices for Elderly Worshippers in Mosque Settings

Praktik Pendidikan Gerontologi untuk Jemaah Lansia di Lingkungan Masjid
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Nur Halizah Palem (1), Hasan Asari (2), Fatkhur Rohman (3)

(1) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia
(2) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia
(3) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Lifelong education is increasingly recognized as a vital component of human development, including in later life, as older adults experience physical, psychological, and social transitions. Specific Background: In Muslim communities, mosques function not only as places of worship but also as nonformal educational spaces that accommodate religious learning for elderly congregants. Knowledge Gap: Despite the growing participation of older adults in mosque-based religious activities, structured descriptions of gerontological education practices adapted to their conditions remain limited. Aims: This study aims to describe and analyze the planning, implementation, and evaluation of gerontological education for elderly congregants at the Sultan Ahmadsyah Grand Mosque in Tanjungbalai as a form of mosque-based lifelong education. Results: Using a qualitative case study approach through observation, interviews, and document analysis, the findings show that educational activities are conducted regularly through recitations and majelis taklim, applying simple, practice-oriented religious materials, adaptive teaching methods, and accessible learning media suited to elderly participants. Program evaluation is carried out informally and continuously by observing attendance, participation, and changes in religious attitudes and practices. Novelty: The study documents a community-driven gerontological education model rooted in local religious practices rather than formal curricula. Implications: These findings indicate that mosque-based gerontological education can support religious understanding, inner tranquility, and social relationships among elderly worshippers, while highlighting the need for further development in facilities and management to sustain such programs.


Highlights:




  • Educational activities are organized through regular religious gatherings adapted to physical and psychological conditions of older participants.




  • Learning relies on simple materials, practical demonstrations, and repetitive methods to support understanding and participation.




  • Continuous informal assessment is used to observe attendance, engagement, and changes in religious behavior among participants.




Keywords: Gerontological Education, Elderly, Mosque, Lifelong Education

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan merupakan aspek aspek penting dari dalam kehidupan manusia , tidak hanya di masa kanak-kanak kehidupan manusia ,di tempat kerja , tetapi terus menerus sepanjang hidup hingga kematian. Sebaliknya, setiap orang memiliki keinginan untuk melanjutkan​ untuk terus sedang belajar, bahkan jika mereka sudah menyelesaikan pendidikan mereka. Tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, tetapi juga pada peningkatan kesehatan mereka , penguatan kestabilan emosional, dan penguatan ikatan sosial mereka dengan orang -orang di sekitar mereka. Dalam konteks inilah pendidikan lanjut usia (lansia) menjadi suatu kebutuhan mendasar yang tidak boleh diabaikan, mengingat kelompok usia ini cenderung mengalami berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang jika tidak diimbangi dengan pendampingan edukatif akan berujung pada penurunan kualitas hidup.

Secara global, dunia tengah menghadapi fenomena aging population atau meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia secara signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa pada tahun 2050, satu dari enam penduduk dunia berusia di atas 60 tahun [1]. Kondisi ini tidak lagi dapat dipandang sebagai beban, melainkan harus dijadikan momentum untuk memperkuat peran sosial lansia melalui pendekatan pendidikan yang humanis dan partisipatif. Sejalan dengan hal tersebut, berbagai negara mulai mengembangkan program pendidikan nonformal bagi lansia, baik dalam bentuk community learning center, senior club, maupun religious-based education [2]. Program-program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan, tetapi juga diarahkan pada penguatan spiritual dan kesejahteraan mental, sebab pada usia lanjut seseorang tidak hanya membutuhkan pengetahuan, melainkan juga ketenangan jiwa dan rasa dihargai.

Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk muslim terbesar di dunia turut mengalami tren serupa. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk lansia telah melampaui sepuluh persen dari total populasi, sehingga secara demografis Indonesia telah memasuki fase aging population [3]. Kondisi ini tentunya membawa konsekuensi besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Selama ini pendidikan sering dipersepsikan hanya milik anak-anak dan remaja, sehingga program bagi lansia cenderung terbatas pada kegiatan rekreatif dan kesehatan. Padahal, secara kultural masyarakat Indonesia memiliki tradisi spiritual yang kuat, terutama di lingkungan muslim, sehingga pendidikan agama bagi lansia seharusnya menjadi bagian penting dari pembangunan sosial berbasis nilai [4]. Meski demikian, kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa pendidikan keagamaan bagi para lansia masih belum dirancang secara optimal dengan pendekatan yang sesuai. Sebagian besar kegiatan keagamaan masih dilakukan melalui metode ceramah satu arah, tanpa mempertimbangkan kebutuhan serta karakter psikologis jamaah yang telah berada pada usia lanjut.

Dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat, masjid memegang peranan penting sebagai wadah pembinaan umat dari berbagai kalangan usia. Masjid bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah wajib, tetapi juga berperan sebagai ruang untuk menjalin hubungan sosial, bertukar pengetahuan, dan menanamkan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Bagi orang-orang yang berusia lanjut, masjid sering kali menjadi tempat untuk mencari ketenangan ketika mereka mulai kehilangan peran dalam keluarga, merasa terasing dari kegiatan sosial, atau merasakan kesepian setelah ditinggal pasangan hidup. Kehadiran mereka di masjid tidak selalu menunjukkan​ bahwa adalah jamaah pasif , melainkan sebaliknya​ individu yang mencari kesatuan dan kepuasan dalam hidup mereka . Oleh karena itu , program pendidikan di masjid memiliki potensi yang signifikan untuk menjadi sarana memupuk pertumbuhan spiritual dan perkembangan emosional , terutama bagi perempuan yang lebih reseptif terhadap spiritualitas [5].

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai menjadi salah satu masjid utama yang berperan penting dalam kehidupan religius masyarakat di sekitarnya. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan, seperti dakwah, pengajian, dan berbagai program pembinaan umat yang berlangsung secara berkelanjutan. Dari hasil pengamatan awal yang dilakukan peneliti, terlihat bahwa lebih dari seratus jamaah perempuan lanjut usia secara konsisten mengikuti kegiatan keagamaan, antara lain wirid rutin, kajian tafsir, serta pembelajaran Al-Qur’an. Antusiasme mereka menunjukkan bahwa semangat belajar tidak pernah padam meskipun usia terus bertambah. Walaupun kegiatan keagamaan berlangsung secara teratur, belum ada pola pembelajaran yang dirancang khusus untuk orang tua. Materi yang diberikan tidak disusun dengan rencana kurikulum yang sederhana, cara penyampaian cenderung membosankan, dan hampir tidak ada evaluasi untuk mengukur pemahaman. Hal ini menyebabkan beberapa peserta hanya mengikuti kegiatan tersebut sebagai kebiasaan tanpa benar-benar mengerti seberapa jauh ilmu yang mereka pelajari dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari..

Dalam tradisi pendidikan Islam, proses belajar dipahami sebagai aktivitas yang berlangsung sepanjang hayat. Nilai ini memberikan landasan bahwa setiap orang, termasuk lansia, tetap memiliki hak dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas spiritual, emosional, dan sosialnya. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran di masjid seharusnya dirancang dengan memperhatikan kemampuan, pengalaman, serta kebutuhan psikologis peserta usia lanjut. Lansia lebih mudah mengikuti kegiatan pembelajaran ketika prosesnya berjalan santai, terbuka untuk dialog, serta memberi kesempatan bagi mereka untuk menceritakan pengalaman hidupnya. Cara belajar seperti ini tidak hanya memudahkan pemahaman materi, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mempererat hubungan sosial antarjamaah di lingkungan masjid.

Proses pembelajaran bagi lansia sebaiknya mengedepankan hubungan yang hangat serta sikap menghargai pengalaman hidup yang telah mereka lalui. Bagi lansia perempuan, pendekatan pembelajaran yang bersifat dialogis dan dilakukan dalam kelompok kecil umumnya lebih disukai karena mampu menumbuhkan rasa nyaman, aman, dan perasaan dihargai sebagai bagian dari kelompok. Ketika proses belajar berlangsung dalam suasana yang ramah usia tanpa tekanan, tanpa bahasa yang sulit, dan tanpa pola ceramah yang terlalu panjang maka kegiatan keagamaan di masjid dapat menjadi tempat yang menenangkan dan penuh makna. Dengan pendekatan pendampingan semacam ini, masjid tidak hanya berperan sebagai tempat untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat untuk membangun spiritual yang menjaga martabat dan kebahagiaan batin para jamaah yang telah lanjut usia.

Dari penjelasan di atas, peneliti menganggap bahwa penting untuk melakukan studi lebih mendalam mengenai pelaksanaan pendidikan bagi lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai. Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk menggambarkan aktivitas pendidikan yang telah berlangsung, tetapi juga ingin menyelidiki seberapa baik kegiatan tersebut dapat memenuhi kebutuhan spiritual dan psikososial jamaah lansia perempuan. Dari penelitian ini , diharapkan tidak hanya akan diperoleh rinci gambaran , tetapi juga saran yang dapat diterapkan pada pengembangan model pendidikan Islam berbasis masjid yang lebih terorganisir , ramah dalam kaitannya dengan penggunaan pribadi , dan bercirikan lansia di Indonesia.​​​ Pada akhirnya, pendidikan bagi Lansia dipahami tidak hanya sebagai proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya untuk menentukan harga diri sendiri, mengembangkan rasa yang optimal, dan membeli bekal terbaik untuk menghadapi kehidupan setelah menikah, hingga mati.

Selanjutnya, keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini justru memberikan ruang bagi pengembangan kajian pada penelitian berikutnya. Penelitian ini masih dilaksanakan pada satu lokasi dengan pendekatan kualitatif deskriptif, sehingga belum mampu merepresentasikan keberagaman praktik pendidikan gerontologis di masjid-masjid lain yang memiliki karakteristik jamaah berbeda. Di samping itu, aspek evaluasi pembelajaran belum dianalisis secara mendalam dengan menggunakan instrumen yang lebih terstruktur, serta belum menelusuri dampak jangka panjang pendidikan gerontologis terhadap kualitas spiritual dan kesejahteraan psikologis lansia. Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menerapkan pendekatan komparatif atau metode campuran (mixed methods), melibatkan lebih banyak lokasi penelitian, serta merancang sistem evaluasi yang lebih komprehensif guna memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai efektivitas dan keberlanjutan pendidikan gerontologis berbasis masjid.

Tujuan tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memahami pendidikan gerontologi yang diberikan kepada individu di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai. Penelitian berfokus pada tahapan perencanaan , pelaksanaan, dan evaluasi program. Selain itu, penelitian ini mengkaji landasan pendidikan untuk lansia, proses pembentukan struktur pengelola , dan pengembangan kegiatan yang merupakan komponen penting dari pendidikan gerontologi. Di samping itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menilai penyelenggaraan pendidikan lansia dari segi kurikulum, materi pengajaran, metode, media, evaluasi pembelajaran, tugas pendidik, serta proses pelaksanaannya di dalam lingkungan masjid.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang diterapkan melalui strategi studi kasus. Pemilihan pendekatan kualitatif didasarkan pada pertimbangan bahwa penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam proses, pengalaman, serta makna pendidikan Islam berbasis gerontologi yang dijalani oleh jamaah lanjut usia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai. Pendekatan ini memberi ruang bagi peneliti untuk memahami realitas sosial secara apa adanya, menyeluruh, dan sesuai dengan konteks kehidupan lansia. Melalui cara ini, kebutuhan spiritual, psikologis, dan sosial lansia dapat dipahami lebih mendalam, karena aspek-aspek tersebut tidak cukup dijelaskan hanya dengan data berbentuk angka. Pendekatan kualitatif juga membantu peneliti melihat secara langsung proses pembelajaran, bentuk interaksi keagamaan, serta nilai-nilai religius yang berkembang dalam kegiatan pendidikan lansia yang berlangsung di lingkungan masjid.

Pendekatan studi kasus dipilih karena penelitian ini menitikberatkan perhatian pada satu tempat dan satu fenomena spesifik, yakni pelaksanaan pendidikan Islam bagi lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai. Melalui studi kasus, peneliti dapat mengkaji fenomena tersebut secara mendalam sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, di mana kegiatan pembelajaran, karakteristik usia lanjut, serta peran masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan secara kaku. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pendidikan bagi lansia dijalankan, serta bagaimana para lansia menghayati dan menerapkan pembelajaran keagamaan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Pengumpulan data dilakukan secara alami dengan melibatkan partisipasi langsung peneliti melalui observasi, wawancara mendalam, dan penelusuran dokumen. Dari sisi praktis, observasi digunakan untuk memantau aktivitas belajar mengajar, suasana pengajian, dan pengukuran tingkat akti peserta jamaah lansia pada beberapa kegiatan keagamaan. Untuk mendapatkan informasi lebih dalam, penulis melakukan wawancara mendalam dengan para lansia, ustaz/ustazah, dan pengurus masjid untuk mendapatkan data, pandangan, dan penilaian mereka tentang keberadaan pendidikan Islam yang responsif terhadap lansia. Sedangkan untuk studi dokumentasi, penulis mengumpulkan dan menelaah arsip kegiatan, jadwal pengajian, struktur kepengurusan masjid, dan dokumen lain yang relevan sebagai data tambahan. Ketiga teknik ini dipadukan untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan mendalam tentang fenomena yang diteliti.

Proses analisis data bersifat bertahap dan berkelanjutan dimulai dari penyortiran data, pengorganisasian, dan menarik kesimpulan. Data lapangan disaring dan dikategorikan berdasarkan kebutuhan penelitian. Data ini disajikan dalam bentuk naratif yang jelas dan deskriptif tematik. Kesimpulan ditarik dengan menginterpretasikan makna data dalam konteks dan memverifikasi hasil melalui triangulasi sumber dan metode. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas, sehingga hasil penelitian diharapkan benar-benar mencerminkan realitas pendidikan Islam berbasis gerontologi yang berlangsung di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah [6]

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Pada bagian awal pembahasan ini, fokus analisis diarahkan pada peran Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai sebagai ruang pendidikan keagamaan bagi jamaah lansia, bukan semata sebagai bangunan atau situs historis. Keberadaan masjid yang terletak secara strategis dan mudah diakses menjadikannya sebagai lingkungan sosio-religius yang potensial untuk pengembangan pendidikan gerontologi. Dalam hal ini, masjid dapat berfungsi sebagai ruang pendidikan nonformal di mana orang tua dapat terlibat dalam pembinaan agama yang bersifat berkelanjutan, adaptif, dan sesuai dengan kondisi fisik dan psikologis mereka. Dengan demikian, penelitian ini melampaui konteks institusional dan lebih memperhatikan karakter masjid serta bagaimana ia membentuk pola pendidikan untuk orang tua.

Sistem manajemen di masjid, yang dioperasikan oleh Badan Kemakmuran Masjid (BKM), sangat penting dalam menjaga keberlangsungan proyek pendidikan gerontologi. Kegiatan edukasi di masjid tidak beroperasi secara terpisah, tetapi justru bersinergi dengan fungsi da'wah dan sosial yang aktif di masyarakat. Visi masjid sebagai pusat pengembangan dan pemberdayaan masyarakat memberikan legitimasi institusional untuk pelaksanaan pendidikan bagi warga lanjut usia, bahkan di tengah ketiadaan kurikulum tertulis formal. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan gerontologis di masjid lebih berkembang melalui praktik sosial-keagamaan yang hidup daripada perencanaan akademik yang kaku, sejalan dengan karakter pendidikan nonformal berbasis komunitas.

1 . Temuan Khusus

a . Perencanaan Pendidikan Gerontologis Bagi Lansia Di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai

Perancangan program pendidikan bagi lansia (Gerontologis) yang dilaksanakan di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai dimulai dari penetapan alasan dan dasar penyelenggaraan program yang disesuaikan dengan kebutuhan jamaah lansia. Upaya perencanaan ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan berawal dari meningkatnya jumlah jamaah usia lanjut yang mengikuti kegiatan masjid setiap pekan. Peneliti menanyakan hal ini kepada Ketua BKM, Ahmad Fauzi, S.M., pada tanggal 14 November 2025 pukul 10.00 WIB di ruang pertemuan masjid. Dalam wawancara tersebut beliau menjelaskan dengan cukup panjang bahwa meningkatnya partisipasi jamaah lansia menjadi perhatian serius pengurus. Beliau mengatakan bahwa:

“Banyak jamaah kita yang sudah lanjut usia tetapi tetap ingin belajar dan menjaga semangat ibadah. Kami melihat bahwa mereka ini butuh program yang jelas, teratur, dan bisa membantu mereka tetap aktif. Makanya kami mulai merancang kegiatan yang lebih terstruktur supaya mereka punya tempat belajar yang pas, bukan hanya datang lalu pulang begitu saja.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa program pengajian lansia tidak hanya dipahami sebagai rutinitas ibadah, tetapi sebagai kebutuhan psikologis dan sosial yang harus diakomodasi secara serius.

Berdasarkan pemaparan tersebut, langkah berikutnya dalam perencanaan adalah pembentukan struktur pelaksana kegiatan. Pembentukan struktur menjadi penting agar penyelenggaraan kegiatan memiliki arah kerja yang jelas dan pembagian tanggung jawab yang teratur. Proses ini dikonfirmasi oleh H. Adlin, selaku Ketua Penasehat Majelis taklim, saat peneliti mewawancarainya pada tanggal 14 November 2025 pukul 13.30 WIB. Beliau menjelaskan bahwa kebutuhan untuk membentuk kepengurusan yang khusus menangani jalannya pengajian lansia muncul karena jumlah jamaah yang semakin banyak dan variasi kegiatan yang semakin kompleks dari tahun ke tahun. Dalam wawancara tersebut, beliau mengatakan “Kalau tidak ada kepengurusan yang jelas, kegiatan seperti ini tidak akan jalan. Jamaah lansia itu banyak perlu diarahkan, perlu dilayani dengan baik. Jadi memang harus ada susunan pengurus supaya kegiatan ini teratur. Kami bentuk kepengurusan agar semua tugas terbagi dan program bisa terus berjalan.” Pernyataan tersebut menguatkan bahwa struktur pelaksana bukan hanya kebutuhan administratif, tetapi kebutuhan praktis agar pengajian lansia dapat berkembang dan bertahan lama.

Pandangan tersebut selaras dengan penjelasan Hj. Nur Haida Mingka selaku Ketua Majelis taklim ketika diwawancarai pada 15 November 2025 pukul 14.00 WIB. Beliau menyampaikan bahwa perencanaan untuk melayani jamaah lansia memerlukan manajemen yang konsisten serta pembagian tugas yang jelas. Dalam wawancara, beliau berkata:

“Ibu-ibu lansia ini perlu kegiatan yang tertata. Mereka tidak bisa kalau kegiatannya berubah-ubah tanpa aturan. Jadi kami buat struktur dan bagi tugas supaya setiap minggu alurnya jelas. Ada yang mengatur tempat, ada yang menyiapkan kegiatan, ada yang koordinasi dengan ustaz. Semuanya kami rancang supaya mereka merasa nyaman dan tidak bingung.” Beliau juga menambahkan bahwa struktur pengurus inilah yang memastikan keberlanjutan kegiatan, sekalipun jumlah jamaah yang hadir mencapai ratusan orang setiap pekan. Setelah struktur terbentuk, tahap berikutnya dalam perencanaan adalah penyusunan rancangan kegiatan. Bagian ini merupakan inti dari keseluruhan proses perencanaan, karena melalui rancangan kegiatan seluruh program dapat dijalankan secara terarah. Hj. Nur Haida Mingka menjelaskan bahwa penyusunan rancangan kegiatan dilakukan melalui beberapa kali musyawarah antara pengurus majelis ta'l im, BKM, dan tokoh masyarakat. Beliau mengatakan dalam wawancara,

“Kami tidak bisa sembarangan menyusun kegiatan. Kami lihat dulu kondisi ibu-ibu, kemampuan mereka, apa yang mereka perlukan, baru kami tentukan kegiatan apa yang cocok. Karena itu, kegiatan kami atur dan dibagi per minggu agar lebih bervariasi, sehingga mereka tidak mudah merasa jenuh dan bebannya pun tidak terasa terlalu berat. Beliau juga menjelaskan bahwa agenda mingguan itu disusun secara proporsional, sehingga mencakup pembacaan wirid, pelaksanaan ibadah, pembinaan bacaan Al-Qur’an, hingga kegiatan zikir dan khataman secara berimbang.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh penjelasan Ketua Penasehat, H. Adlin, yang menyampaikan bahwa perencanaan kegiatan dirancang dengan memperhatikan kebutuhan rohani sekaligus menjaga kondisi kesehatan mental para lanjut usia. Dalam wawancara, beliau mengatakan,

“Lansia ini kalau terlalu banyak teori juga capek, tapi kalau terlalu rutin tanpa variasi mereka bosan. Jadi kegiatan setiap minggu itu memang kami rancang beragam. Ada kalanya mereka membaca Yasin, ada kalanya belajar fiqih, atau perbaikan bacaan. Semua itu disusun secara bertahap supaya mereka bisa menikmati pengajian tanpa merasa terbebani.” Dengan penjelasan seperti diatas dapat dipahami bahwa variasi kegiatan yang disusun oleh pengurus kegiatan majelis taklim ini menjadi strategi penting dalam Pendidikan yang berbasis gerontologis. Ketua BKM, Ahmad Fauzi, juga memberi penjelasan tambahan terkait rancangan kegiatan ini. Beliau mengatakan,

“Kami mendukung penuh rancangan kegiatan yang disusun ibu-ibu majelis. Yang penting kegiatan itu bermanfaat untuk jamaah lansia. Jadi kami sediakan fasilitas, tempat, dan waktu yang fleksibel supaya jadwal mingguannya bisa dijalankan dengan baik. Semua kegiatan itu kami setujui setelah melihat bahwa jamaah sangat terbantu.”

Temuan ini memperlihatkan bahwa perancangan kegiatan tidak disusun secara mandiri oleh majelis taklim, melainkan dilakukan melalui kerja sama erat dengan BKM sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan masjid. Wawancara dan pengamatan langsung menunjukkan bahwa ada proses yang sistematis dan bertahap dalam perencanaan pendidikan untuk jemaah lanjut usia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai. Proses ini mencakup identifikasi kebutuhan jemaah lanjut usia, pengaturan administrasi yang terstruktur, dan persiapan rencana kegiatan yang sesuai dengan kondisi lansia. Kesiapan rencana-rencana ini adalah dasar untuk keberhasilan pelaksanaan program, menciptakan kegiatan yang inklusif dan nyaman bagi lansia serta memberikan kepuasan secara positif secara agama, sosial, dan emosional.

Perencanaan yang diterapkan oleh pengelola Majelis Taklim Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai tidak hanya berfokus pada pembentukan struktur kepengurusan dan penyusunan agenda mingguan, tetapi juga memperhatikan penyesuaian metode serta tempo pelaksanaan kegiatan agar selaras dengan kondisi dan kebutuhan jamaah lanjut usia. Penyesuaian ini menjadi penting karena lansia memiliki kebutuhan belajar yang berbeda dari kelompok usia lainnya. Dalam observasi yang dilakukan peneliti selama mengikuti beberapa kali kegiatan, tampak bahwa rancangan kegiatan disusun dengan mempertimbangkan aspek fisik, kognitif, maupun emosional jamaah. Misalnya, durasi setiap kegiatan dibuat tidak terlalu panjang dan diselingi jeda agar jamaah tidak mudah lelah. Selain itu, pemilihan jenis kegiatan juga disesuaikan dengan kemampuan lansia mengingat daya konsentrasi mereka cenderung lebih pendek. Dengan demikian, perencanaan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar berorientasi pada pemenuhan kebutuhan belajar lansia.

Peneliti juga kembali mendiskusikan hal ini dengan Ketua Majelis taklim, Hj. Nur Haida Mingka, untuk mendapatkan penjelasan lebih mendalam mengenai aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam perencanaan. Beliau menjelaskan dengan lebih rinci bahwa,

“Kami melihat sendiri bagaimana kondisi ibu-ibu lansia ini. Kalau terlalu lama duduk, mereka bisa pegal. Kalau materinya terlalu berat, mereka bingung. Jadi kami susun kegiatan itu supaya mereka tetap nyaman dan bisa mengikuti. Dalam rapat pengurus, kami selalu bicarakan hal-hal kecil seperti durasi, urutan kegiatan, sampai kapan waktu istirahatnya. Itu semua masuk dalam perencanaan.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan disusun secara teliti dan bersifat adaptif terhadap kondisi jamaah. Lebih jauh, aspek psikososial juga menjadi bagian dari perencanaan pendidikan gerontologis. Ketua Penasehat, H. Adlin, memberikan penjelasan tambahan mengenai pentingnya menjaga suasana pengajian agar ramah dan menyenangkan bagi lansia. Dalam wawancara lanjutan, beliau mengatakan,

“Yang kami pikirkan bukan hanya bagaimana mereka belajar, tetapi bagaimana mereka merasa diterima. Banyak dari jamaah yang rumahnya sepi, anak-anak sudah bekerja semua. Jadi pengajian ini juga menjadi tempat mereka bersosialisasi. Karena itu kegiatan disusun agar ada saat-saat berinteraksi, saling bertanya, atau saling membantu membaca doa. Itu juga bagian dari perencanaan.”

Dengan demikian, perencanaan bukan hanya berorientasi pada pembelajaran, tetapi juga memperhitungkan aspek kebahagiaan, interaksi sosial, dan dukungan emosional bagi para lansia. Peneliti juga menanyakan kembali kepada Ketua BKM mengenai tujuan jangka panjang dari perencanaan program lansia ini. Ahmad Fauzi, S.M. menjelaskan bahwa:

“Kami ingin kegiatan ini tetap berjalan lama. Bukan hanya setahun dua tahun. Karena itu kami rencanakan agar kepengurusannya bisa diganti secara teratur, dan kegiatan bisa diwariskan ke pengurus berikutnya. Kami juga membuat kegiatan yang tidak tergantung pada satu orang saja. Jadi misalnya kalau ustaz berhalangan, ada pengurus yang bisa menggantikan atau ada materi lain yang bisa dibaca bersama.”

Dari penjelasan ini terlihat bahwa perencanaan mencakup unsur keberlanjutan program melalui sistem regenerasi dan fleksibilitas kegiatan. Dalam perspektif gerontologi, semua upaya ini menunjukkan bahwa perencanaan program sudah mengarah pada prinsip dasar pendidikan bagi lansia: kegiatan harus fleksibel, tidak memaksa, memberikan rasa aman, dan memberi mereka ruang untuk tetap aktif dan produktif. Variasi kegiatan mingguan yang dirancang oleh kepengurusan juga merupakan bentuk stimulasi kognitif yang sesuai dengan teori-teori tentang kebutuhan perkembangan pada usia lanjut. Misalnya, kegiatan membaca Yasin dan Tahlil dapat memberikan ketenangan emosional; praktik fiqih membantu mereka tetap aktif menggunakan kemampuan motorik ringan; kegiatan tahsin memperkuat kemampuan membaca dan daya ingat; sementara khataman dan Asmaul Husna memberikan penguatan spiritual yang menjadi kebutuhan utama lansia.

Selain itu, saat merancang kegiatan, pengurus juga menganggap pentingnya kemudahan akses ke fasilitas masjid. Hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa lokasi kegiatan diatur sedemikian rupa agar jamaah yang berusia lanjut bisa duduk dengan nyaman di atas tikar yang datar, tidak terlampau jauh dari pengeras suara, serta memiliki cukup ruang untuk bergerak tanpa merasa sesak. Penataan ruang seperti ini adalah elemen penting dalam perencanaan kegiatan pembelajaran untuk lansia. Meskipun terlihat sederhana, pengaturan ruang yang mempertimbangkan kondisi lansia terbukti sangat berpengaruh pada kenyamanan dan tingkat partisipasi mereka saat kegiatan berlangsung.

Sekilas, data tambahan hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa ada proses yang cukup baik, matang dan melibatkan banyak pihak, serta berorientasi pada jamaah, dalam merencanakan pendidikan gerontologis untuk jamaah lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai. Perencanaan tersebut meliputi identifikasi kebutuhan lansia, penyusunan struktur kepengurusan, penetapan dan pengjadwalan kegiatan mingguan, penciptaan dan pemeliharaan suasana sosial yang mendukung, serta penyediaan fasilitas untuk kenyamanan dan mendukung kegiatan para lansia. Seluruh aspek tersebut cukup beralasan, supaya kegiatan pengajian lansia tidak sekadar berlangsung, tetapi juga berkembang bagi kepentingan jamaah lansia.

b . Pendidikan Geromtologis di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai

Upaya pembinaan dan pendidikan lansia dilakukan melalui kegiatan keagamaan Majelis Taklim di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai, hal ini merupakan bagian penting dari upaya penguatan spiritual, peningkatan kualitas ibadah, serta pemeliharaan kesehatan psikologis jamaah lansia. Kegiatan ini berjalan secara rutin setiap hari Sabtu dengan pola pembelajaran yang berjenjang, terorganisasi, serta melibatkan berbagai unsur seperti ketua penasehat, ketua majelis taklim, pengurus, dan para ustaz pengisi kajian. Umumnya, penyelenggaraan pendidikan lansia ini mengedepankan pembinaan keagamaan yang aplikatif, metode pengajaran yang sederhana dan mudah dipahami, serta suasana belajar yang kondusif terhadap jamaah lanjut usia.

Dari hasil wawancara awal, Ketua Dewan Penasehat Majelis Taklim, Bapak H. Adlin, menyatakan bahwa program pelatihan bagi jemaah haji perempuan lansia di Masjid Raya berfungsi, karena tidak dimaksudkan sebagai kegiatan yang murni religius. Program-program tersebut juga bertujuan untuk menjadi tempat belajar yang terstruktur berdasarkan kemampuan, kebutuhan, dan pola hidup peserta lansia. Ia menegaskan bahwa setiap kegiatan disusun dengan menyesuaikan kondisi fisik dan psikologis jamaah, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara ringan, tidak memberatkan, namun tetap memiliki nilai spiritual yang mendalam. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa materi serta metode penyampaian terus disesuaikan agar mudah dipahami, sehingga jamaah mampu menghayati dan mengamalkan ajaran agama tanpa merasa tertekan atau terbebani.

Pembelajaran yang lebih dikhususkan untuk anggota yang telah menjangkau usia lanjut, Ibu Hj. Nur Haida Mingka, memaparkan bahwa untuk orang-orang usia lanjut, pembinaan agama tidak dapat dilakukan dengan cara ceramah satu arah. Pembinaan untuk usia lanjut memerlukan kesabaran, pengulangan, contoh praktik, dan suasana pembelajaran yang hangat dan mendukung. Dalam wawancara yang panjang, beliau menjelaskan bahwa kegiatan, seperti pembacaan Yasin, fikih ibadah, tahsin Al-Qur’an, ceramah, dan kegiatan lainnya, diatur melalui diskusi dengan ustaz untuk memfokuskan pada kebutuhan jamaah yang telah lanjut usia. Beliau sangat yakin, metode ini efektif dan meningkatkan usahanya karena membuat jamaah lebih aktif dan menilai lebih baik dan menghormati kemampuan yang dimiliki oleh jamaah.

Selain itu, dua ustaz, yang paling banyak memberikan pengajaran, yaitu Ustaz Trisandi Marpaung dan Ustaz Afrizal, juga berikan pendapat terkait metode pembelajaran. Ustaz Trisandi menjelaskan, untuk mengajar orang-orang usia lanjut, perlu pendekatan yang bertahap, berulang, dan penyederhanaan. Dalam wawancaranya beliau sampaikan bahwa, dalam mengajar fikih wudhu, tayamum, mandi jenazah, dan bacaan salat, beliau selalu mendemonstrasikan dan mengajak jamaah untuk mengikuti gerakan yang beliau lakukan. Hal ini karena jamaah lanjut usia lebih mudah menerima pembelajaran yang bersifat aplikatif, bukan hanya penjelasan yang bersifat teori. Beliau juga menambahkan bahwa salah satu bentuk adaptasi lain adalah meminimalkan penggunaan media visual seperti papan tulis karena banyak jamaah tidak mampu melihat tulisan dari jarak jauh, sehingga papan tulis kini dihapuskan dari kegiatan rutin.

Sejalan dengan uraian tersebut, Ustaz Afrizal menyoroti bahwa proses penyampaian materi kepada jamaah lansia memerlukan pengulangan serta kesabaran yang tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan peneliti, beliau mengungkapkan bahwa pada usia lanjut daya ingat cenderung menurun sehingga perlu diperkuat melalui pengulangan secara berkesinambungan. Sehubungan dengan hal ini, beliau selalu memulai dengan review materi yang ada pada pertemuan sebelumnya dan mengizinkan jamaah untuk bertanya sebanyak-banyaknya. Beliau menggarisbawahi bahwa bagi lansia, proses belajar bukan hanya penyerapan teori, tetapi juga menguatkan sikap dan ketenangan batin mereka. Oleh karena itu, beliau menyampaikan materi dengan menggunakan suara yang lembut, pelan, dan terstruktur untuk memberikan rasa aman kepada jamaah, agar tidak terburu-buru dan tetap dapat mengikuti proses pembelajaran hingga akhir.

Selanjutnya, peneliti juga menerima data langsung dari jemaah lansia mengenai efektivitas materi yang disampaikan. Pada pertemuan yang diadakan pada hari Sabtu, 22 November 2025, peneliti dapat memperkenalkan dirinya kepada jemaah. Pada saat itu, salah satu jemaah, Ibu Idah, menyampaikan pendapatnya tentang materi yang paling disukainya. Dia menyampaikan bahwa pembelajaran yang paling berkesan baginya adalah materi ibadah yang disampaikan melalui praktik langsung oleh ustaz.Menurutnya, pembahasan mengenai tayamum, tata cara memandikan jenazah, praktik wudhu, serta pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan pendampingan tajwid sangat membantu dalam meningkatkan pemahamannya. Menurutnya, pembelajaran seperti ini sangat penting karena ibadah adalah kegiatan sehari-hari yang harus dilakukan secara benar. Pengakuan jamaah ini memperkuat temuan bahwa materi berbasis praktik merupakan kebutuhan inti jamaah lansia, dan menjadi alasan mengapa metode pembelajaran berbentuk demonstrasi menjadi pilihan utama para pendidik di majelis taklim ini.

Setelah peneliti memperoleh gambaran tentang format penyampaian layanan pendidikan bagi lansia, langkah selanjutnya adalah mengeksplorasi pengalaman langsung dari para pengelola dan pendidik dalam pelaksanaan program ini. Penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan Ketua Dewan Penasihat Majelis Taklim, Ketua Majelis Taklim, dan ustadz yang bertugas sebagai pendidik tetap dalam kegiatan ini. Selain itu, peneliti mengumpulkan pengalaman langsung dari peserta lansia sebagai peserta utama program untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terkait efektivitas konten, metode, media, dan pelaksanaan proses pembelajaran.

Ketua Dewan Penasehat Majelis Taklim, H. Adlin, menjelaskan praktik pelaksanaan kegiatan pembinaan bagi lansia di Masjid Agung Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai. Menurutnya, kegiatan belajar bagi lansia yang diadakan setiap hari Sabtu berlangsung dengan pola yang disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikologis lansia. Penyesuaian ini dapat dilihat dari suasana tenang kegiatan, durasi penyampaian materi yang tidak terlalu lama, dan gaya penyampaian yang lembut serta tidak terburu-buru.

Hasil observasi peneliti selama kegiatan pengajian menunjukkan bahwa jamaah lansia mengikuti kegiatan dengan posisi duduk yang santai, sebagian menggunakan kursi, dan tidak ada tekanan untuk mengikuti kegiatan secara cepat. Dalam keterangannya, Bapak H. Adlin menyampaikan bahwa jamaah lansia membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda dengan usia produktif. Beliau menjelaskan:

“Para lansia ini membutuhkan tempat belajar yang tenang, tidak tergesa-gesa, dan disampaikan dengan cara yang lembut. Mereka tidak bisa menerima penjelasan yang terlalu cepat, apalagi materi yang terlalu teoretis. Maka dari itu kegiatan dimulai dari membaca Yasin, tahsin, praktik ibadah, sampai ceramah, agar mereka merasa nyaman. Kegiatan ini bukan hanya pengajian, tetapi juga tempat untuk menyejukkan hati dan menjaga kesehatan mental.”

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa dalam pelaksanaannya, kegiatan majelis taklim tidak hanya berfokus pada penyampaian materi keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai ruang sosial dan emosional bagi jamaah lansia. Hal ini tampak dari interaksi antarsesama jamaah sebelum dan sesudah pengajian, suasana kebersamaan yang terbangun, serta keterlibatan jamaah dalam kegiatan secara aktif meskipun dengan keterbatasan fisik. Dengan demikian, pembelajaran lansia yang berlangsung di majelis taklim ini bersifat menyeluruh karena memperhatikan kebutuhan religius sekaligus kebutuhan psikologis jamaah lansia.

Penjelasan tersebut diperkuat oleh keterangan Ketua Majelis taklim, Hj. Nur Haida Mingka, yang menjelaskan pola pelaksanaan kegiatan dari minggu ke minggu. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan peneliti, setiap pertemuan pengajian dilaksanakan dengan urutan kegiatan yang relatif tetap, dimulai dari salat Zuhur berjamaah, pembacaan Surah Yasin, praktik ibadah seperti tayamum dan wudhu, tahsin Al-Qur’an, hingga ceramah singkat. Pola ini diterapkan secara konsisten karena dinilai sesuai dengan kemampuan jamaah lansia.

Dalam keterangannya, Hj. Nur Haida Mingka menyampaikan:

“kegiatan ini berjalan bukan sekadar mengajar, tapi mendampingi. Banyak dari ibu-ibu lansia ini yang sudah tidak kuat duduk lama. Jadi kami selalu menyesuaikan durasi. Ada juga yang pendengarannya mulai berkurang, makanya ustaz harus bicara pelan, berulang-ulang, dan memberi contoh langsung. Dulu kami pakai papan tulis, tapi sekarang tidak lagi karena tulisan tidak terlihat bagi jamaah yang duduk di belakang. Makanya kami fokus pada metode praktik dan penjelasan lisan. Evaluasi juga selalu kami lakukan, misalnya dengan memberikan pertanyaan setelah ceramah atau membuat perlombaan setiap tiga bulan sekali seperti lomba baca Asmaul Husna, lomba doa-doa penting, atau lomba ceramah. Ini semua kami lakukan agar mereka tetap semangat belajar dan tidak merasa bosan.”

Keterangan ini menegaskan bahwa metode pembelajaran untuk lansia sangat berbeda dengan pembelajaran bagi usia muda. Lansia membutuhkan pembelajaran yang pendek, sederhana, repetitif, dan memuat banyak contoh nyata. Selain itu, strategi evaluasi pun bersifat fleksibel, menyenangkan, dan tidak menimbulkan tekanan.

Selanjutnya, pendapat dari para ustaz pengisi kajian memberikan lapisan informasi yang penting bagi peneliti. Ustaz Trisandi Marpaung menjelaskan bahwa pembelajaran lansia harus dilakukan dengan pendekatan emosional dan spiritual yang hangat. Dalam wawancara pada Sabtu, 22 November 2025, pukul 14.00 WIB, beliau mengatakan bahwa jamaah lansia sangat senang apabila ustaz tidak hanya berceramah, tetapi juga memperagakan langsung materi ibadah. Beliau menjelaskan bahwa:

“kalau hanya dijelaskan, mereka cepat lupa. Tapi kalau diperagakan, mereka langsung menirukan. Misalnya tayamum, mandi jenazah, atau cara membaca Al-Qur’an yang benar. Saya juga tidak bisa terlalu cepat menjelaskan, karena mereka perlu waktu untuk memahami. Mengajar lansia itu harus pelan, sabar, dan harus siap mengulang sampai tiga atau empat kali. Tidak boleh marah atau menunjukkan rasa lelah.” Penjelasan Ustaz Trisandi ini menunjukkan bahwa pendidik di majelis taklim bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga dituntut memiliki kesabaran, empati, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi lansia. Ustaz Afrizal juga memberikan penjelasan yang memperkuat temuan tersebut. Dalam wawancara yang dilakukan pada hari yang sama, beliau juga mengatakan bahwa:

“lansia memiliki daya tangkap yang berbeda-beda. Ada yang cepat paham, ada yang butuh pengulangan. Karena itu saya selalu memulai ceramah dengan mengulang materi minggu lalu, supaya mereka tidak lupa. Kami tidak memakai papan tulis lagi karena tidak efektif. Jadi fokus pada suara dan contoh praktik. Dan saya lihat mereka lebih nyaman begitu. Yang penting mereka paham, pelan-pelan saja, tidak perlu cepat-cepat.”

Selanjutnya, peneliti juga mengumpulkan hasil wawancara dari jamaah lansia yang hadir pada hari itu. Ketika peneliti diperkenankan memperkenalkan diri, seorang jamaah bernama Ibu Idah memberikan tanggapan mengenai materi yang paling disukainya. Dalam penjelasan panjangnya, ia menyampaikan bahwa ia sangat menyukai materi ibadah terutama yang diperagakan secara langsung oleh ustaz. Menurutnya, materi yang disampaikan melalui contoh nyata jauh lebih mudah dipahami dan diingat. Ia mengatakan bahwa pelajaran seperti tayamum, memandikan jenazah, hingga membaca Al-Qur’an dengan memperhatikan tajwid sangat bermanfaat baginya.

Selain itu, peneliti juga memperoleh informasi mengenai manfaat psikologis dari kegiatan majelis taklim. Ibu Nur Aisyah Nasution, jamaah lain yang telah mengikuti pengajian sejak tahun 2002, memberikan kesaksiannya mengenai perubahan yang ia rasakan sejak mengikuti kegiatan ini. Ia mengatakan bahwa:

“hati saya menjadi lebih tenang, lebih lapang. Rumah tangga pun lebih damai karena suami saya mengantar saya ke masjid setiap Sabtu. Badan pun lebih sehat, sakit-sakit berkurang karena doa bersama dan banyak bergerak. Yang paling penting saya mendapat ilmu baru, menambah teman, dan lebih rajin beribadah.”

Dari sisi hambatan, seorang jamaah bernama Ibu Salmiah juga menyampaikan bahwa ia sering mengalami kendala dalam menghadiri pengajian, terutama dalam hal transportasi dan kondisi fisik. Ia menuturkan bahwa anak-anaknya tinggal di tempat yang cukup jauh dan memiliki kesibukan masing-masing, sehingga tidak selalu ada kendaraan yang bisa digunakan untuk pergi ke masjid. Walaupun demikian, ia tetap berupaya mengikuti pengajian dengan menumpang becak motor bersama rekan-rekannya, meski kondisi lututnya sering kali terasa nyeri. Pengalaman ini menggambarkan bahwa berbagai keterbatasan yang dihadapi tidak melemahkan semangat para lansia untuk tetap aktif dalam kegiatan keagamaan. Bahkan, di antara para jamaah terjalin rasa saling membantu dan kebersamaan agar mereka tetap dapat mengikuti pengajian yang dirasakan memberi ketenangan dan manfaat bagi kehidupan mereka.

Berdasarkan keseluruhan temuan dari wawancara mendalam dengan ketua penasehat, ketua majelis taklim, para ustaz, dan jamaah lansia itu sendiri, dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai berlangsung dengan struktur yang terencana, materi yang relevan dengan kebutuhan usia lanjut, metode pembelajaran yang adaptif dan sabar, serta media yang disesuaikan dengan kemampuan penglihatan dan pendengaran lansia. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui pengulangan materi, sesi tanya jawab, quiz pasca-pengajian, hingga perlombaan setiap tiga bulan sekali yang berfungsi memperkuat pemahaman dan menjaga motivasi belajar jamaah.

Sementara itu, hambatan terbesar yang dialami lansia adalah terkait kondisi fisik dan akses transportasi, namun hal tersebut tidak mengurangi antusiasme mereka untuk hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Secara keseluruhan, penyelenggaraan pendidikan lansia ini telah memberikan manfaat spiritual, sosial, dan emosional yang signifikan, serta berhasil menciptakan lingkungan belajar yang ramah, suportif, dan memberdayakan jamaah lanjut usia.

c . Evaluasi Pendidikan Gerontologis di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai

Penilaian terhadap pelaksanaan pendidikan bagi para lansia di Majelis Taklim Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai dilakukan secara non-formal, lembut, dan berkesinambungan sebagai sarana refleksi bersama antara pengurus, pendidik, dan jamaah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Evaluasi tidak hanya menilai pemahaman materi, tetapi juga memantau perkembangan spiritual, emosional, dan motivasi lansia melalui pengulangan materi, tanya jawab, praktik ibadah, quiz ringan, serta kegiatan perlombaan yang bersifat edukatif dan menyenangkan. Pendekatan ini dinilai efektif karena menyesuaikan dengan kondisi fisik dan psikologis lansia, menjaga semangat belajar, serta memperkuat ketenangan dan kepercayaan diri jamaah. Dalam proses evaluasi yang dilakukan pengurus, ditemukan pula beberapa kelebihan yang membuat kegiatan pembelajaran untuk lansia di Majelis taklim Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai berjalan efektif. Berdasarkan hasil wawancara, Ketua Penasehat Majelis taklim, H. Adlin, menjelaskan bahwa salah satu kelebihan terbesar program ini adalah suasana kebersamaan yang terbangun di antara jamaah. Dalam penjelasan panjangnya, beliau menyatakan bahwa:

“ibu-ibu lansia ini bukan hanya datang belajar, tetapi mereka datang untuk merasa tenang, merasa ditemani, dan merasa tidak sendirian. Pengajian ini menjadi tempat mereka berkumpul, tempat mereka melepas lelah hati, dan tempat mereka mendapat nasihat tanpa merasa dihakimi. Ini yang membuat mereka semangat. Walaupun lutut sakit, walaupun tidak ada yang mengantar, mereka tetap berusaha datang. Itu artinya pengajian ini sudah menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Dan ini adalah kelebihan yang tidak semua majelis taklim punya, yaitu ikatan emosional yang kuat antara jamaah, ustaz, dan pengurus.”

Pernyataan beliau ini menggambarkan bahwa nilai utama dari kegiatan ini bukan sekadar penyampaian materi, tetapi terciptanya lingkungan sosial yang suportif bagi lansia. Dalam teori gerontologi, aspek sosial-emosional seperti ini merupakan bagian dari indikator keberhasilan suatu program pembelajaran bagi lanjut usia. Kegiatan yang mampu meningkatkan koneksi sosial akan berdampak positif pada kesejahteraan psikologis peserta. Ketua Majelis taklim, Hj. Nur Haida Mingka, memberikan penjelasan tambahan mengenai kelebihan dan kelemahan program ini dari sudut pandang pengelola. Beliau menyampaikan bahwa:

“kelebihan dari kegiatan ini adalah jamaahnya sangat antusias dan mau belajar. Meskipun sudah tua, mereka masih punya semangat belajar yang tinggi. Bahkan mereka rajin bertanya dan tidak malu bertanya ulang kalau belum paham. Tapi kelemahannya tentu ada, misalnya kemampuan daya serap yang tidak sama, ada yang cepat paham, ada yang harus berulang kali dijelaskan. Selain itu, beberapa jamaah kesulitan datang karena tidak ada yang mengantar, sehingga jumlah kehadiran kadang naik turun. Tapi kami anggap itu sebagai tantangan yang harus kami jawab. Makanya kami selalu menyesuaikan metode, memperlambat tempo pengajaran, dan membuat evaluasi yang tidak membuat mereka tertekan.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengelola memahami benar karakteristik jamaah lansia, sehingga evaluasi dilakukan bukan untuk menunjukkan kekurangan, tetapi untuk memperbaiki metode dan pola pendampingan. Kelemahan yang muncul bukan dianggap hambatan yang menghalangi program, tetapi menjadi masukan yang memperkaya strategi pembelajaran.

Figure 1. Kegiatan Majelis taklim lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai

B. Pembahasan

1. Perencanaan Pendidikan Gerontologis Bagi Lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai

Perencanaan pendidikan gerontologis bagi lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai menunjukkan bahwa kegiatan majelis taklim yang berlangsung setiap hari Sabtu merupakan program yang disusun secara sadar, terarah, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah lansia. Program studi ini tidak lahir tiba-tiba. Panitia pengurus mulai dari tahapan mengidentifikasi kebutuhan jama’ah, memetakan peran antar pengelola, serta mendesain aktivitas dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan psikologis para lansia. Dalam kajian pendidikan masyarakat, aktivitas perencanaan seperti ini dikategorikan sebagai critical success factor karena berpengaruh langsung terhadap tujuan dan sustainability program pelajaran. Sukmadinata [7] menjelaskan bahwa perencanaan pendidikan merupakan proses yang tersusun secara sistematis, mencakup analisis kebutuhan, penetapan tujuan, pemilihan strategi, serta pengorganisasian kegiatan agar proses belajar dapat berjalan secara efektif. Prinsip ini tercermin dalam pengelolaan pengajian lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah yang berupaya menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan spiritual, sosial, dan emosional jamaahnya.

Proses perencanaan difokuskan pada situasi aktual jamaah lansia. Untuk jamaah lansia, kebutuhan adalah untuk kegiatan keagamaan yang sederhana, repetitif, mudah dipahami, dan tidak terlalu lama untuk disesuaikan dengan keterbatasan fisik dan memori mereka. Selain itu, lansia membutuhkan ruang untuk berinteraksi sosial guna meminimalkan kebosanan, kesepian, dan kecemasan yang sering muncul di akhir kehidupan. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada desain ruang studi sebagai tempat pembelajaran emosional, membangun hubungan emosional yang erat, dan sebagai tempat untuk menumbuhkan kebiasaan salat harian. Santoso [8] menegaskan bahwa pendidikan lansia harus menekankan kontinuitas, kesederhanaan, dan pengalaman spiritual, karena lansia cenderung lebih memahami pembelajaran praktis dibandingkan konsep abstrak. Ini sejalan dengan pelaksanaan studi agama di masjid, di mana materi keagamaan tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui pengulangan, praktik langsung, dan pembiasaan ibadah.

Pengajian ini dirancang untuk melihat kondisi sosial dan keagamaan masyarakat Tanjungbalai. Selain sebagai tempat ibadah, masjid bersejarah ini juga berfungsi sebagai pusat pembinaan umat. Dalam hal ini, masjid dapat menjadi lembaga pendidikan. Dalam hal ini, masjid dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan sepanjang hayat, sebagaimana dalam pendidikan berbasis komunitas, masjid berfungsi sebagai komunitas yang kompleks. Dalam hal ini, masjid dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Dengan demikian, masjid ini dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan. [9] Dalam konteks ini, pengajian bagi para lansia sekaligus menjadi pendidikan bagi masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan dengan lokalitas, komunitas, dan identitas agama para sebagaimana yang terpikul dalam tuntutan agama Tuhan.

Perencanaan kegiatan pendidikan di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah dirancang dengan pendekatan gerontologis yang menyesuaikan kebutuhan para jamaah lanjut usia. Perhatian utama diarahkan pada pemenuhan aspek spiritual, kemampuan berpikir, kondisi emosional, serta kesehatan fisik lansia. Keempat unsur tersebut menjadi dasar dalam merancang program pengajian, sehingga pelaksanaannya tidak sebatas penyampaian ajaran agama, tetapi juga mencakup pendampingan spiritual yang bersifat menyeluruh. Melalui pendekatan ini, diharapkan jamaah lansia dapat merasakan ketenangan jiwa, penghargaan diri, dan kenyamanan dalam beribadah, sejalan dengan pemahaman bahwa pada usia lanjut kebutuhan spiritual sangat berkaitan dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah serta menemukan makna hidup yang lebih mendalam.

Selain itu, perencanaan program tercermin dari adanya susunan kepengurusan yang tertata dengan baik serta perencanaan kegiatan yang disusun secara sistematis. Pengurus masjid, ketua majelis, dan para ustaz menjalankan peran masing-masing sesuai tanggung jawabnya, sehingga kegiatan dapat berlangsung secara berkelanjutan meskipun dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. Setiap rangkaian kegiatan dirancang dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan, kesesuaian materi, serta alur yang mudah dipahami oleh jamaah lansia, mulai dari pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, bimbingan praktik ibadah, hingga evaluasi sederhana di akhir kegiatan. Dengan pola tersebut, suasana pembelajaran dapat berlangsung secara tenang, terarah, dan ramah bagi jamaah lanjut usia.

Alasan yang disampaikan oleh Ketua Majelis Taklim tersebut juga memiliki keterkaitan dengan dalil hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan keutamaan khusus Surah Al-Mulk. Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa terdapat satu surah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan mampu memberikan syafaat kepada pembacanya hingga memperoleh ampunan dari Allah. Surah yang dimaksud adalah Surah Tabārakal-Ladzī Biyadihil Mulk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ  إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِىَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari ‘Abbas Al Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Ada suatu surat dari al Quran yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafaat bagi yang membacanya, sampai dia diampuni, yaitu: Tabaarakalladzii biyadihil mulku (surat Al Mulk)" (HR. Tirmidzi no 2891, Sunan at Tirmidzi jilid 4, hlm: 10, 2023)

Pembiasaan membaca Surah Al-Mulk dalam kegiatan pengajian lansia berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam yang diyakini memiliki keutamaan tersendiri, khususnya dalam memberikan syafaat bagi para pembacanya. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan spiritual yang membantu jamaah lansia memperoleh ketenangan batin serta menumbuhkan harapan akan rahmat dan ampunan Allah. Selain itu, perencanaan pendidikan bagi lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah diwujudkan melalui berbagai bentuk kegiatan ibadah dan pembiasaan yang terarah, disertai dengan evaluasi sederhana seperti kuis ringan, pengulangan materi, serta pelaksanaan lomba secara berkala guna meningkatkan semangat dan keterlibatan peserta dalam mengikuti kegiatan pengajian. Secara keseluruhan, program ini dirancang berdasarkan kebutuhan lansia, dilaksanakan secara terstruktur dan ramah usia, serta mampu memperkuat aspek spiritual, sosial, dan psikologis jamaah secara berkelanjutan [10].

2. Pelaksanaan Pendidikan Gerontologis di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai

Pendidikan gerontologi yang dijalankan di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai dilaksanakan secara berkesinambungan dengan pendekatan berbasis komunitas. Kegiatan ini bermula dari pelaksanaan ibadah rutin yang secara bertahap berkembang menjadi wadah pembelajaran sepanjang hayat bagi jamaah lanjut usia. Program tersebut diselenggarakan setiap hari Sabtu setelah salat Zuhur dengan konsep yang sederhana, namun dilaksanakan secara konsisten. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan Al-Mulk, kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama, sebelum memasuki sesi pembelajaran inti. Pola kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara bersama-sama ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penguatan spiritual, tetapi juga mampu menumbuhkan rasa kebersamaan, mempererat hubungan sosial, serta menciptakan kenyamanan emosional bagi para lansia. Seluruh pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan kondisi fisik, kemampuan kognitif, dan keadaan psikologis peserta[11].

Dalam kerangka tersebut, pelaksanaan pendidikan gerontologis di masjid ini dapat dipahami melalui beberapa komponen utama yang saling berkaitan, mulai dari materi pembelajaran, metode, media, evaluasi, peran pendidik, hingga proses pelaksanaannya secara keseluruhan

a. Materi Pembelajaran

Keteratrikan jamaah lansia pada materi pembelajaran yang disampaikan dalam pendidikan gerontologis di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai tidak terlepas dari kesesuaian antara karakteristik usia lanjut, kebutuhan spiritual, serta pendekatan pembelajaran yang digunakan. Materi tidak disusun secara teoritis-abstrak, melainkan berangkat dari persoalan ibadah dan kehidupan sehari-hari yang sering dihadapi jamaah lanjut usia. Pendekatan ini menunjukkan adanya kesadaran pengelola dan pendidik bahwa lansia membutuhkan pembelajaran yang aplikatif, mudah dipahami, dan dapat langsung diamalkan dalam konteks keterbatasan fisik maupun kognitif yang mereka alami. Secara rinci, materi pembelajaran yang disampaikan meliputi:

1) Pembacaan Surah Al-Mulk atau Yasin, Tahtim, dan Tahlil disukai karena memberikan ketenangan batin dan rasa aman secara spiritual. Rahmawati dkk. [12] menjelaskan bahwa lansia cenderung membutuhkan aktivitas ibadah yang bersifat repetitif dan kolektif untuk memperkuat kedekatan dengan Allah serta mengurangi kecemasan terkait kesepian dan kematian. Pembacaan yang dilakukan secara berjamaah juga menciptakan rasa kebersamaan dan penerimaan sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Padang [13] menunjukkan bahwa pengajian yang berlangsung dalam suasana akrab dan melibatkan jamaah secara aktif mampu menciptakan rasa nyaman bagi para lansia, sehingga mereka cenderung lebih menikmati dan memilih mengikuti ibadah secara berjamaah.

2) Kegiatan praktik serta pendampingan fikih dasar mendapat respons positif karena mampu menjawab secara langsung permasalahan ibadah yang kerap dialami lansia, khususnya ketika mereka menghadapi keterbatasan kondisi fisik. Rahmawati dkk [12] menekankan bahwa bimbingan fikih bagi lanjut usia perlu mengedepankan prinsip kemudahan atau rukhsah, agar para lansia dapat menjalankan ibadah dengan rasa yakin dan ketenangan batin. Penjelasan mengenai pelaksanaan salat dalam posisi duduk, penyesuaian tata cara wudu, maupun penggunaan tayamum menjadi bentuk kejelasan hukum yang penting untuk mengurangi keraguan dalam beribadah. Selaras dengan pandangan tersebut, Padang [13] menyatakan bahwa penyampaian materi yang bersifat aplikatif dan disesuaikan dengan kondisi kehidupan lansia cenderung lebih mudah dipahami dibandingkan penjelasan normatif yang bersifat abstrak dan teoritis.

3) Kegiatan tahsin Al-Qur’an diminati karena proses pembelajarannya berlangsung secara tenang, penuh empati, serta tanpa memberi kesan menyalahkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Padang [13] yang menyatakan bahwa keberhasilan pengajian bagi kalangan lanjut usia sangat dipengaruhi oleh cara penyampaian materi yang menghormati kondisi dan keterbatasan para peserta. Metode pengulangan dan koreksi ringan dalam tahsin membuat jamaah merasa dihargai atas usaha mereka, bukan dinilai dari kesempurnaan bacaan. Dalam perspektif Rahmawati dkk. [12], proses memperbaiki bacaan Al-Qur’an pada lansia juga merupakan bagian dari pembangunan spiritual yang memberi makna bahwa belajar agama tetap relevan hingga usia lanjut.

4) Asmaul Husna dan khataman Al-Qur’an diminati karena menyentuh aspek afektif dan pembinaan akhlak secara mendalam. L. dkk. [14] menegaskan bimbingan keagamaan bagi lansia memiliki peran yang sangat berarti dalam membantu mereka mencapai ketenangan batin, mengelola emosi, serta menumbuhkan sikap sabar dan rasa syukur saat menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan. Kegiatan seperti pembacaan Asmaul Husna mendorong jamaah untuk menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam diri sebagai dasar pembentukan akhlak, sedangkan khataman Al-Qur’an menjadi sarana perenungan yang dapat memperkuat penerimaan diri sekaligus kesiapan spiritual. Sejalan dengan hal tersebut, Padang [13] mengemukakan bahwa lansia cenderung lebih menyukai aktivitas keagamaan yang bersifat reflektif dan menyentuh emosi karena mampu memberikan makna hidup serta kepuasan batin.

Penekanan pada penyampaian materi yang kontekstual dan mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sejalan dengan konsep meaningful learning. Proses pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika peserta didik mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman pribadi serta kebutuhan nyata yang mereka hadapi. Kostiainen [15] menjelaskan bahwa pembelajaran bermakna tidak hanya berfokus pada penguasaan konsep, tetapi juga menekankan pentingnya refleksi dan penerapan, sehingga peserta didik dapat memahami bahwa materi yang dipelajari memiliki relevansi langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Dalam konteks jamaah lansia, materi yang bersifat realistis dan menenangkan batin memberikan dampak psikologis positif serta mendorong keberlanjutan praktik ibadah secara mandiri.

b. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam pendidikan gerontologis di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai dirancang secara fleksibel, praktis, dan ramah lansia, sehingga pembelajaran berlangsung tenang dan tidak membebani. Metode yang digunakan meliputi ceramah dialogis dengan tempo lambat dan bahasa sederhana, demonstrasi praktik ibadah, pembacaan kolektif yang berulang, serta tanya jawab terbimbing. Pendekatan ini mencerminkan prinsip experiential learning yang menekankan pengalaman langsung, sehingga membantu jamaah lansia memahami materi secara bertahap, meminimalkan beban kognitif, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan suasana belajar yang inklusif.

c. Media Pembelajaran

Pemanfaatan media pembelajaran dalam pendidikan gerontologis di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai dilakukan secara sederhana dan fungsional dengan menyesuaikan kondisi fisik jamaah lansia, seperti penggunaan pengeras suara, mushaf berhuruf besar, teks bacaan kolektif, serta kursi lipat dan alas duduk. Media diposisikan sebagai alat bantu untuk mempermudah keterlibatan dan pemahaman jamaah, bukan sebagai unsur teknologi yang rumit. Hal ini menegaskan bahwa efektivitas media ditentukan oleh kesesuaiannya dengan kebutuhan peserta, sejalan dengan pandangan Zulaiha [16] serta Miftah dan Rokhman [17] yang menekankan pentingnya aksesibilitas dan kenyamanan media bagi kelompok usia lanjut.

d. Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pembelajaran dalam pendidikan gerontologis ini dilaksanakan secara nonformal dan lebih menekankan pada pengamatan perubahan sikap serta kebiasaan religius jamaah. Evaluasi tidak dilakukan melalui tes tertulis atau penilaian akademik, melainkan melalui indikator partisipatif dan spiritual yang relevan dengan kebutuhan lansia. Indikator evaluasi yang digunakan meliputi:

1) Konsistensi kehadiran jamaah dalam kegiatan pengajian.

2) Kemampuan mengikuti bacaan kolektif dan praktik ibadah.

3) Keberanian jamaah untuk bertanya atau menjawab pertanyaan sederhana.

4) Perubahan kebiasaan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Tolok ukur keberhasilan utama terletak pada meningkatnya ketenangan batin dan keberlanjutan amalan jamaah. Pola evaluasi ini sejalan dengan temuan Jadidi [18] yang menegaskan bahwa kebutuhan spiritual paling mendasar pada lansia Muslim adalah transcendence, yakni dorongan untuk merasakan kedekatan dengan Allah dan memperoleh makna hidup dalam menghadapi fase akhir kehidupan.

e. Penugasan dan Peran Pendidik

Sejalan dengan model evaluasi yang menitikberatkan pada pembinaan spiritual dan kualitas relasi, peran pendidik dalam kegiatan pengajian lansia ini melampaui fungsi sebagai penyampai materi semata. Ustaz berperan sebagai pembimbing spiritual, fasilitator dialog, sekaligus komunikator yang menjaga ritme emosional jamaah selama proses pembelajaran berlangsung. Tanggung jawab pendidik mencakup pemilihan tema yang relevan dengan kondisi lansia, pengaturan gaya penyampaian yang humanis dan mudah dipahami, pemantauan partisipasi peserta, serta pemberian perhatian individual ketika jamaah mengalami kesulitan dalam mengikuti materi atau praktik ibadah.

Peran yang dijalankan guru tersebut selaras dengan pendapat Arfandi dan Samsudin [19] yang menyatakan bahwa profesionalisme guru tidak sebatas pada penyampaian materi semata. Guru juga berperan sebagai fasilitator yang mampu menghadirkan lingkungan belajar yang nyaman, sekaligus sebagai komunikator yang membangun hubungan pembelajaran yang bermakna. Dalam konteks pendidikan lansia, kedekatan hubungan antara ustaz dan jamaah yang terjalin secara hangat dan penuh empati menjadi faktor penting, karena hubungan personal ini menumbuhkan rasa aman, memperkuat ikatan sosial, serta berdampak positif terhadap kondisi psikologis peserta.

f. Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan ritme yang sama setiap pekan sehingga jamaah mudah mengikuti alurnya. Jamaah datang lebih awal, saling menyapa, kemudian mengikuti pembacaan Yasin atau Al-Mulk yang dilakukan secara bergantian. Setelah itu, tahlil dan doa bersama menciptakan suasana khusyuk dan tenang sebagai persiapan memasuki materi inti. Penjelasan ustaz berlangsung dalam suasana kekeluargaan, diselingi pertanyaan dan diskusi ringan.

Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung secara konsisten menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menenangkan bagi para lansia. Pola kegiatan yang terstruktur dan jarang mengalami perubahan membantu peserta lebih mudah beradaptasi sekaligus mendukung pemeliharaan daya ingat mereka. Setiap sesi pembelajaran ditutup dengan doa bersama, yang berperan dalam memperkuat ikatan emosional, baik antarjamaah maupun antara jamaah dengan pendidik.

Secara umum, pelaksanaan pendidikan untuk orang tua di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai dapat dilihat sebagai proses belajar yang terorganisir, fleksibel, dan sesuai dengan keadaan peserta. Materi yang disampaikan bersifat praktis, metode yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan orang tua, serta penggunaan media yang sederhana namun efektif, dan evaluasi yang lebih fokus pada pengembangan, bersama dengan sikap pendidik yang penuh rasa empati, membuat kegiatan ini lebih dari sekadar penyampaian pengetahuan. Selain itu, aktivitas tersebut juga berfungsi sebagai tempat spiritual yang memberikan rasa tenang, memperkuat hubungan sosial, dan meningkatkan iman para jamaah yang lebih tua. Oleh karena itu, pendidikan untuk lansia di masjid ini dapat dilihat sebagai sebuah contoh pembelajaran agama yang bisa memenuhi kebutuhan spiritual dan emosional peserta secara menyeluruh.

3. Evaluasi Pendidikan Gerontologis di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai

Evaluasi pelaksanaan pendidikan lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai menunjukkan bahwa kegiatan pengajian mingguan berjalan konsisten, diterima dengan baik, dan memiliki nilai spiritual serta sosial yang kuat. Kegiatan dimulai dengan pembacaan surah, tahlil, dan doa, dilanjutkan pembelajaran inti yang disampaikan ustaz secara sabar, fleksibel, dan sesuai kebutuhan lansia, seperti materi ibadah praktis dan penguatan akhlak. Proses pembelajaran berlangsung dalam suasana yang akrab, penuh empati, dan saling mendukung. Hal ini tidak terlepas dari keterlibatan aktif para pengurus yang menyiapkan kebutuhan kegiatan serta mendampingi jamaah selama proses berlangsung. Walaupun sarana yang tersedia masih tergolong sederhana, kegiatan pembelajaran secara umum mampu menghadirkan rasa nyaman, kebersamaan, serta mendorong keterlibatan aktif jamaah lansia dalam setiap sesi.

Pelaksanaan pendidikan lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai menunjukkan berbagai keunggulan yang berkontribusi pada keberlanjutan program. Jadwal dan pola kegiatan yang konsisten membantu lansia menyesuaikan diri, sementara suasana pengajian yang hangat dan bersahabat membuat kegiatan terasa lebih manusiawi. Materi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan ibadah lansia, didukung partisipasi jamaah yang cukup tinggi serta komitmen kuat dari pengurus dan pendidik. Pendekatan kegiatan yang terencana namun tetap ramah menjadikan jamaah merasa dihargai, nyaman, serta memperoleh manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Di sisi lain, masih dijumpai beberapa kendala, seperti jumlah pendidik yang terbatas, penggunaan media pembelajaran yang belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik lansia, fasilitas fisik masjid yang belum ramah lansia, ketergantungan pada pengeras suara, durasi kegiatan yang cukup panjang, serta kondisi fisik dan kognitif jamaah yang memengaruhi pemahaman materi[20].

Menindaklanjuti hasil temuan tersebut, pengurus masjid mengambil sejumlah langkah perbaikan, yang antara lain adalah memperkuat kerja sama dengan para ustaz, menambah mushaf Al-Qur’an dengan huruf besar dan menyediakan bacaan yang lebih mudah diakses oleh lansia, menyesuaikan waktu dan ritme pembelajaran, mempertimbangkan penyediaan fasilitas penunjang seperti kursi lipat, serta mendorong partisipasi jamaah untuk lebih aktif dalam proses belajar. Usaha ini menunjukkan keseriusan pengelola dalam mengadaptasi program berdasarkan hasil evaluasi dan kebutuhan nyata jamaah lansia. Secara umum, program pendidikan untuk lansia di masjid ini telah berjalan dengan baik dan memberikan dampak yang positif, serta memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai model pembelajaran komunitas yang inklusif, fleksibel, dan fokus pada kesejahteraan spiritual, emosional, dan sosial para lansia.

Simpulan

Berdasarkan temuan penelitian, pendidikan gerontologis bagi lansia di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai menunjukkan bahwa masjid memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan keagamaan sepanjang hayat. Praktik pendidikan yang dilaksanakan secara nonformal dengan pendekatan sederhana, kontekstual, dan menyesuaikan kondisi fisik serta psikologis lansia terbukti mampu meningkatkan keterlibatan jamaah dan pengamalan nilai-nilai keagamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa kurikulum formal dan kaku tidak diperlukan untuk mengajarkan keagamaan kepada generasi mendatang. Sebaliknya, proses proses pembelajaran bisa berupa/ dapat dilakukan dengan cara fleksibel melalui pendekatan andragogis dan humanistik , dengan fokus pada proses pembelajaran , gaya belajar , dan kesinambungan jamaah lansia. Dari perspektif teoretis , studi ini berkontribusi pada kemajuan pendidikan Islam dengan menyajikan konsep pendidikan gerontologi berbasis masjid yang inklusif dan memperhatikan kebutuhan generasi mendatang .​​​​​​​

Dalam tataran praktis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya perencanaan yang lebih matang serta dukungan kelembagaan dalam pelaksanaan pendidikan gerontologis di lingkungan masjid. Pengurus masjid tidak hanya dituntut untuk menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan yang sudah ada, tetapi juga perlu merancang pedoman kegiatan yang lebih sistematis, meningkatkan kapasitas pendidik dalam memahami karakter dan kebutuhan lansia, serta memastikan aspek keamanan dan kenyamanan sarana pendukung yang digunakan. Penyediaan lingkungan yang ramah lansia, seperti pencahayaan yang memadai, lantai anti licin, pegangan tangan, dan akses yang aman, menjadi faktor penting untuk menunjang keberlanjutan program. Dengan pengelolaan yang lebih terarah dan lingkungan yang inklusif, pendidikan gerontologis di masjid berpotensi menjadi model pembinaan keagamaan lansia yang efektif dan dapat direplikasi di masjid-masjid lain.

Ucapan Terima Kasih

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepadaKetua BKM Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai, yang telah mempersilahkan peneliti melakukan penelitian di Masjid.Selanjutnya, penulis juga berterima kasih kepada ketua Majelis Taklim, dan masyarakat khususnya masyarakat lansia yang telah bersedia menjadi sasaran penelitian yang dilakukan penulis. Sehingga penelitian ini berjalan dengan lancar.

References

A. Ahmadi, Psikologi Sosial, Revised ed. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2002. [Online]. Available: https://rinekacipta.co.id

S. Al-Asyqar, Zubdat Al-Tafsir Min Fath Al-Qadir. Madinah, Saudi Arabia: Islamic University of Madinah Press, 1998. [Online]. Available: https://ium.edu.sa

S. M. N. Al-Attas, Islam and the Philosophy of Science. Bandung, Indonesia: Mizan, 1997. [Online]. Available: https://mizanpublishing.com

S. Anwar, “The Role of Islamic Religious Education in Improving Qur’anic Reading Ability,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, 2014. [Online]. Available: https://journal.uinjkt.ac.id/index.php/jpi

A. Arief, Introduction to Islamic Education Science and Methodology. Jakarta, Indonesia: Ciputat Press, 2002. [Online]. Available: https://repository.uinjkt.ac.id

Desmita, Educational Developmental Psychology. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2011. [Online]. Available: https://www.remajarosdakarya.co.id

R. Fauziah, “Optimizing the Function of Mosques as Centers of Lifelong Education,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 14, no. 2, pp. 120–135, 2022. doi: 10.14421/jpi.2022.142.120-135

L. Hakim, Psychology of Religion in Old Age. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022. [Online]. Available: https://www.alfabeta.co.id

Hamka, Tafsir Al-Azhar, vol. 5. Jakarta, Indonesia: Gema Insani, 2020. [Online]. Available: https://gemainsani.co.id

D. Haryanto, “Lifelong Education in the Islamic Perspective,” Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, vol. 8, no. 1, pp. 55–70, 2020. doi: 10.24252/jipi.v8i1.13467

S. Hasanah, “Nonformal Education for the Elderly in Improving Quality of Life,” Andragogi, vol. 3, no. 2, pp. 89–102, 2021. doi: 10.18326/andragogi.v3i2.89-102

A. Hidayat, “Application of Participatory Learning in Elderly Religious Study Groups,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 9, no. 1, pp. 66–78, 2021. doi: 10.14421/jpi.2021.91.66-78

M. Hidayat, Religious Learning Strategies for the Elderly in Majelis Taklim. Yogyakarta, Indonesia: Deepublish, 2020. [Online]. Available: https://deepublishstore.com

K. Kartono, Psychology of Old Age. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2019. [Online]. Available: https://rinekacipta.co.id

Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia, The Qur’an and Its Tafsir. Jakarta, Indonesia: Kemenag RI, 2019. [Online]. Available: https://quran.kemenag.go.id

N. Lumongga, Elderly Psychology. Jakarta, Indonesia: EGC, 2013. [Online]. Available: https://egcmedbooks.com

S. Mutmainah, “Islamic Religious Education for the Elderly in Majelis Taklim,” Jurnal Pendidikan dan Dakwah, vol. 5, no. 2, pp. 44–53, 2022. [Online]. Available: https://journal.staidarussalam.ac.id

Statistics Indonesia (BPS RI), Statistics of the Elderly Population in Indonesia 2023. Jakarta, Indonesia: Badan Pusat Statistik, 2023. [Online]. Available: https://www.bps.go.id

S. Yuniarti, “Islamic Religious Education for the Elderly in the Context of Mental Health,” Jurnal Konseling Islam, vol. 3, no. 2, pp. 55–69, 2022. doi: 10.21043/jki.v3i2.16234

UNESCO, Education for All: Lifelong Learning for Every Generation. Paris, France: UNESCO Publishing, 2020. [Online]. Available: https://unesdoc.unesco.org