Login
Section Education

Self Concept and Communication Adaptation Among First Year University Students

Konsep Diri dan Adaptasi Komunikasi di Kalangan Mahasiswa Baru Universitas
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Akhmad Kholis (1), Nurvi Laili (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Transition into university life requires students to adjust socially and psychologically to new academic and interpersonal environments. Specific Background First year students frequently encounter communication barriers and social difficulties that relate to their personal self concept and confidence in interaction. Knowledge Gap Previous studies have discussed self concept and adjustment separately, yet limited research has examined their relationship within communicative adaptation among new university students. Aims This study aims to analyze the relationship between self concept and communication adaptation ability among first year students. Results Statistical analysis indicates a positive and significant association, showing that students with stronger self perceptions demonstrate better interpersonal adjustment and interaction skills. Novelty The study integrates self concept theory with communicative adaptation measures in a specific freshman context, providing combined psychological and communication perspectives. Implications Findings support the need for guidance programs and campus interventions that develop students’ self awareness and social competence to facilitate smoother academic integration.


Keywords: Self Concept, Communication Adaptation, First Year Students, Interpersonal Skills, Student Adjustment


Key Findings Highlights:




  1. Positive personal perception aligns with smoother social adjustment




  2. Freshmen with higher confidence display stronger interaction competence




  3. Guidance services recommended to support early campus transition



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Individu yang telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, individu telah menanggalkan statusnya sebagai pelajar dan menjadi mahasiswa baru. Istilah mahasiswa baru menurut Oxford Dictionary adalah tahun pertama di perguruan tinggi. [1]. Tahun pertama di perguruan tinggi adalah masa-masa kritis bagi mahasiswa baru. Hal ini dikarenakan adanya kendala yang biasa dialami oleh mahasiswa baru seperti kurangnya interaksi dengan teman sekelas, sulit menerima materi yang dipelajari, kesepian, menghindari lingkungan sosialnya, dan sulitnya mengatur waktu [2]. Savrianopolous juga menyebutkan bahwa tahun pertama kehidupan perguruan tinggi adalah masa transisi dan penyesuaian terhadap tuntutan sosial dan akademis universitas [3]. Sistem pendidikan universitas dapat membingungkan bagi mahasiswa baru dan kebingungan ini menjadi lebih besar lagi ketika mahasiswa berasal dari bahasa dan latar belakang budaya yang berbeda [4].

Menurut Gunarsa, mahasiswa mempunyai tantangan tersendiri saat memasuki dunia kampus, yaitu berhadapan dengan bermacam perubahan [5]. Perubahan yang terjadi antara lain adalah perubahan sistem pendidikan, permasalahan ekonomi, perubahan budaya, perubahan gaya hidup, perubahan lingkungan sehingga menuntut mahasiswa untuk mampu mengatasi tuntunan tersebut dengan baik. Tuntutan tersebut membuat mahasiswa membutuhkan kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara efektif agar lebih mandiri, aktif, dan berinisiatif dalam mencari informasi yang ada di sekitar lingkungannya [5]. Namun pada kenyataannya, terdapat mahasiswa yang justru kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain, baik dalam proses belajar di kelas maupun dalam suasana informal yang terjadi di luar kelas [5]. Ketika pertama kali mahasiswa melakukan interaksi di lingkungan yang berbeda tersebut, biasanya mereka akan merasa aneh dan berbeda dengan yang lainnya [6]. Bilicha mengungkapkan bahwa perbedaan karakter dari daerah asal membuat individu kurang memahami dalam menentukan sikap terhadap individu lainnya,

Copyright © Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. This preprint is protected by copyright held by Universitas Muhammadiyah Sidoarjo and is distributed under the Creative Commons Attribution License (CC BY). Users may share, distribute, or reproduce the work as long as the original author(s) and copyright holder are credited, and the preprint server is cited per academic standards.

Authors retain the right to publish their work in academic journals where copyright remains with them. Any use, distribution, or reproduction that does not

adanya persaingan antar individu, kesalahpahaman dalam menyelesaikan konflik, permasalahan komunikasi karena perbedaan budaya dan tempat asal serta adanya rasa kurang percaya diri ketika berhadapan dengan teman yang dianggap memiliki gaya hidup high class [5]. Kendala yang dihadapi mahasiswa baru tersebut dikarenakan oleh kurangnya kemampuan adaptasi, termasuk adaptasi dalam berkomunikasi [2].

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adaptasi adalah penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan, dan pelajaran [7]. Istilah adaptasi digunakan untuk menjelaskan dan menekankan serta menggambarkan ketika manusia menghadapi situasi dan kondisi yang berubah dan berbeda [8]. Sementara menurut Sari, komunikasi merupakan upaya untuk membuat pendapat, menyatakan perasaan agar diketahui atau dipahami oleh orang lain dan kemampuan untuk menyampaikan informasi atau pesan [9]. Saat individu melakukan komunikasi sebenarnya sedang berusaha membuat kesamaan dengan orang lain [10]. Adaptasi komunikasi sendiri dapat diartikan sebagai bentuk penyesuaian individu dalam berinteraksi dengan individu lain yang saling mempengaruhi satu sama lain [8]. Menurut Duran, definisi adaptasi komunikasi merupakan kemampuan kognitif dan tingkah laku individu untuk mempersepsikan hubungan sosio-interpersonal dan beradaptasi dengan sikap dan tujuan dalam berinteraksi sosial dengan individu lain [11]. Suranto mengemukakan bahwa individu berkomunikasi karena saling berbicara, saling bertukar gagasan, berbagi pengalaman menciptakan hubungan baru, serta bekerja sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan [12]. Adaptasi komunikasi sangat penting dalam memahami perubahan komunikasi dan adaptasi seseorang yang menyandang status mahasiswa baru dan memasuki lingkungan asing dari lingkungan sebelumnya.

Terdapat enam komponen yang berkaitan dengan kemampuan adaptasi komunikasi, yaitu; social composure, social experience; social confirmation; articulation; wit; dan appropriate disclosure [8]. Social composure adalah keadaan seseorang dengan tingkat kekhawatiran kecil terhadap kegagalan dalam berkomunikasi, social-experience merupakan keadaan di mana seseorang berpartisipasi secara terbuka dengan lingkungan sosialnya, social confirmation adalah keadaan seseorang dalam mempertahankan citra diri dan ikut berkomunikasi dalam lingkungan sekitaranya, articulation adalah kemampuan seseorang dalam pemilihan penggunaan kata-kata dalam berkomunikasi, wit adalah kemampuan seseorang dalam menampilkan penggunaan humor, dan appropriate disclosure adalah penyesuaian tingkat keterbukaan individu terhadap orang lain [8].

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 20 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tahun 2023 diperoleh hasil bahwa sebanyak 2 mahasiswa mengalami masalah kemampuan adaptasi komunikasi pada aspek social confirmation yang digambarkan dengan perasaan malu saat memulai percakapan dengan teman baru, 3 mahasiswa mengalami masalah pada aspek social composure yang digambarkan dengan perasaan gugup saat bicara dengan teman baru dan 3 mahasiswa mengalami perasaan takut saat bicara dengan dosen, 4 mahasiswa mengalami masalah pada aspek social-experience yang digambarkan dengan perasaan curiga saat teman baru bertanya pada mereka, dan 6 mahasiswa mengalami masalah pada aspek articulation yang digambarkan dengan pelafalan jawaban yang terbata-bata saat dosen bertanya kepada mereka. Hasil tersebut menandakan bahwa terdapat permasalahan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Sementara berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap 2 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo juga diperoleh hasil yang serupa. Salah seorang mahasiswa dengan inisial DV menjelaskan bahwa ia kurang bisa terbuka dengan teman-teman baru di kelasnya. Ketika teman-temannya bertanya sesuatu kepadanya, ia merasa curiga dan khawatir akan dihakimi, akibatnya ia merasa kesulitan untuk berbaur dengan teman-temannya. Sementara salah seorang mahasiswa yang lain dengan inisial DS merasa kesulitan untuk melakukan adaptasi komunikasi dengan dosen. Ia merasa tidak percaya diri dan gugup saat berkomunikasi dengan dosen. Menurut DS, dosen berbeda dengan guru di sekolah menengah. Ia merasa dosen adalah orang yang lebih berwibawa sehingga ia khawatir akan dimarahi apabila tidak sengaja melontarkan perkataan yang salah saat menjawab pertanyaan dosen.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa baik DV maupun DS sama-sama mengalami permasalahan kemampuan adaptasi komunikasi saat memasuki masa awal perkuliahan. DV mengalami permasalahan pada aspek social experience, sedangkan DS mengalami permasalahan pada aspek social composure. Social experience adalah keadaan di mana seseorang berpartisipasi secara terbuka dengan lingkungan sosialnya, sedangkan social composure adalah keadaan seseorang dengan tingkat kekhawatiran kecil terhadap kegagalan dalam berkomunikasi

Salah satu variabel yang mempengaruhi kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru adalah konsep diri. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sabrina terhadap mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala Banda Aceh menyebutkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru tersebut [12].

Hal yang sama juga dikemukanan oleh Potter dan Perry yang menyebutkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi kemampuan adaptasi komunikasi pada seseorang, antara lain: perkembangan individu; persepsi; konsep diri; budaya; jenis kelamin; pengetahuan; peran dan hubungan; dan lingkungan [12]. Konsep diri merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai persepsi individu terhadap dirinya sendiri, baik yang bersifat fisik, sosial, dan psikologis yang diperoleh melalui pengalaman dari interaksi individu dengan orang lain [13]. Konsep diri terdiri dari 5 dimensi, yaitu; dimensi fisik; dimensi moral etik; dimensi personal; dimensi keluarga; dimensi sosial; dan dimensi akademik atau pekerjaan [14].

Konsep diri adalah cara seseorang melihat dan melakukan penilaian kepada dirinya sendiri [15]. Fitts mengemukakan bahwa konsep diri ini merupakan aspek penting dalam diri individu, karena dalam berinteraksi dengan lingkungannya, kerangka acuan (frame of reference) seseorang merupakan konsep diri [16]. Kemampuan dalam beradaptasi ada pada seseorang yang memiliki konsep diri positif, sehingga tercipta hubungan baik dengan orangorang di sekelilingnya. Sebaliknya, kesulitan dalam melakukan adaptasi dialami oleh individu yang memiliki konsep diri salah, hal negatif akan mudah mempengaruhinya, juga bisa merugikan orang lain [16].

Menurut Enoch & Roland, semakin positif konsep diri pada seseorang, maka akan semakin baik kemampuan adaptasi komunikasinya, sebaliknya, semakin negatif konsep diri pada seseorang, akan semakin buruk kemampuan adaptasi komunikasi seseorang tersebut [8]. Sari mengemukakan bahwa semakin baik konsep diri individu maka semakin tinggi juga kemampuan komunikasi interpersonalnya, sebaliknya semakin tidak baik konsep diri individu maka semakin rendah pula kemampuan komunikasi interpersonalnya [17]. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh

Sujudi juga menjelaskan bahwa konsep diri memiliki peran terhadap percepatan adaptasi budaya pada mahasiswa di Kalimantan Barat [18]. Hal ini dikarenakan dengan memiliki konsep diri yang baik akan mempermudah hubungan komunikasi pada mahasiswa [18].

Stefany mengemukakan bahwa ketika individu mengalami ketidakmampuan dalam beradaptasi komunikasi, hal ini dapat disebabkan oleh salah satu faktor yaitu konsep diri individu tersebut [12]. Individu yang memiliki konsep diri positif memiliki pemahaman diri yang sebenarnya mengenai sejumlah fakta tentang dirinya sehingga evaluasi terhadap dirinya positif dan dapat menerima keberadaan orang lain, sedangkan individu dengan konsep diri yang negatif akan memandang dirinya sebagai sosok individu yag memiliki banyak kekurangan, kurang percaya diri, dan enggan membuka diri terhadap orang lain, sehingga individu tersebut akan menemui hambatan dalam melakukan adaptasi di lingkungan yang baru, salah satunya adalah dalam adaptasi komunikasi [12]. Berdasarkan sejumlah pemaparan di atas, peneliti kemudian tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sabrina dengan judul “Hubungan Konsep Diri dengan Kemampuan Adaptasi Komunikasi Mahasiswa Baru Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala Banda Aceh” menyebutkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru tersebut [12]. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian tersebut ada pada cakupan subjek yang digunakan. Sebjek yang digunakan pada penelitian tersebut adalah mahasiswa baru di salah satu program studi, sementara subjek pada penelitian ini terdiri dari mahasiswa baru yang berasal dari sejumlah program studi.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sujudi dengan judul “Konsep Diri Dalam Adaptasi Budaya Mahasiswa Rantau Asal Kalimantan Barat Yang Berkuliah Di Surakarta” menjelaskan bahwa konsep diri memiliki peran terhadap percepatan adaptasi budaya pada mahasiswa baru asal Kalimantan Barat. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian tersebut ada pada variabel independen yang digunakan. Pada penelitian tersebut, variabal independen yang diteliti adalah percepatan adaptasi budaya, sedangkan variabel independen yang diteliti pada penelitian ini adalah adaptasi komunikasi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Diharapkan hasil penelitian ini akan mampu menjadi bahan informasi bagi mahasiswa untuk dapat mengenal konsep diri serta kemampuan adaptasi berkomumunikasi agar dapat diterapkan di lingkungan Universitas. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi rujukan teori bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian serupa.

Metode

Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan jenis korelasional. Penelitian korelasional merupakan penelitian yang menguji perbedaan karakteristik dari dua atau lebih variabel atau entitas, hubungan antara variabel-variabel terjadi dalam satu kelompok tertentu [19]. Variabel independen (X) pada penelitian ini adalah konsep diri, sementara variabel dependen (Y) pada penelitian ini adalah adalah kemampuan adaptasi komunikasi. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tahun 2023 yang berjumlah 2752 orang. Sampel yang digunakan dalam berjumlah 339 orang yang dihitung menggunakan tabel bantu Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 5% [20]. Pemilihan sampel dipilih melalui teknik insidental sampling. Menurut Sugiyono, insidental sampling adalah teknik penentuan berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang tersebut cocok sebagai sumber data [20]. Variabel konsep diri (X) diukur dengan menggunakan alat ukur Konsep Diri yang diadopsi dari Akhmadi yang mengadaptasi Tennessee Self Concept Scale 2nd Edition Short Form yang dikembangkan oleh Fitts & Warren (1996) [14]. Sedangkan variabel kemampuan adaptasi komunikasi diukur dengan alat ukur Communicative

Adaptability Scale yang diadopsi dari Saputra yang merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Duran dan Kelly (1992) [6]. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah uji korelasi pearson product moment yang diolah dengan software JASP 16.0.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dulu dilakukan uji normalitas dan uji linieritas data. Adapun hasil uji normalitas dapat diamati pada tabel di bawah ini:

Shapiro-Wilk Test for Bivariate Normality

Shapiro-Wilk p
SUM Y - SUM X 0.855 < .001
Table 1. Tabel 1. Uji Normalitas

Data terdistribusi normal apabila memiliki nilai signifikansi (p) lebih dari 0,05. Pada hasil analisis di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi (p) = 0,001 (kurang dari 0,05) yang berarti bahwa data terdistribusi tidak normal.

Sementara hasil uji linieritas dapat diamati pada grafik di bawah ini:

Figure 1. Gambar 1. Uji Linieritas

Berdasarkan hasil di atas dapat diketahui bahwa variabel konsep diri mempunyai hubungan yang linier dengan variabel kemampuan adaptasi komunikasi. Itu berarti kenaikan tingkat konsep diri diikuti dengan kenaikan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru.

Langkah berikutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan uji korelasi spearman’s rho. Adapunhasil uji korelasi spearman’s rho menunjukkan hasil di bawah ini

Spearman's rho p
SUM Y - SUM X 0.420 < .001
Table 2. Tabel 2. Uji Hipotesis Spearman's Correlations

Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,420 dengan signifikansi (p) 0,001 (<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan diterima. Semakin tinggi tingkat konsep diri mahasiswa baru, maka semakin tinggi pula tingkat kemampuan adaptasi komunikasi mereka. Sebaliknya, semakin rendah tingkat konsep diri mahasiswa baru, maka semakin rendah pula tingkat kemampuan adaptasi komunikasi mereka.

Selanjutnya dilakukan analisis koefisien determinasi untuk mengetahui besar koefisien determinasi konsep diri terhadap kemampuan adaptasi komunikasi.

Model R Adjusted RMSE
H₀ 0.000 0.000 0.000 10.493
H₁ 0.756 0.572 0.571 6.875
Table 3. Tabel 3. Analisis Koefisien Desterminasi Model Summary - SUM Y

Pada hasil analisis tersebut dapat diketahui nilai R2 = 0,572. Nilai tersebut berarti bahwa variabel konsep diri memiliki pengaruh sebesar 57,2% terhadap kemampuan adaptasi komunikasi mahasiswa baru. Sedangkan sisanya yaitu 42,8% merupakan faktor lain yang memberi pengaruh terhadap variabel kemampuan adaptasi komunikasi.

Responden pada penelitian adalah mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tahun 2023 yang berjumlah 339 orang. Gambaran responden berdasarkan jenis kelamin dapat diamati pada tabel di bawah ini.

Jenis Kelamin Jumlah Presentase
Laki-laki 126 37%
Perempuan 213 64%
JUMLAH 339 100%
Table 4. Tabel 4. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Gambaran tingkat konsep diri dan Kemampuan adaptasi komunikasi pada responden dapat diamati pada tabel di bawah ini:

Kategori Konsep Diri Kemampuan Adaptasi Komunikasi
Jumlah Responden Persentase Jumlah Responden Persentase
Rendah 38 11% 31 9%
Sedang 259 77% 290 86%
Tinggi 42 12% 18 5%
JUMLAH 339 100% 339 100%
Table 5. Tabel 5. Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Konsep Diri dan Kemampuan Adaptasi Komunikasi

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat 38 responden (11%) dengan tingkat konsep diri rendah, 259 responden (76%) dengan tingkat konsep diri sedang, dan 42 responden (14%) dengan tingkat konsep diri tinggi. Sementara berdasarkan kategori kemampuan adaptasi komunikasi dapat disimpulkan bahwa terdapat 31 responden (9%) dengan tingkatan kemampuan adaptasi komunikasi rendah, 290 responden (86%) dengan tingkatan kemampuan adaptasi komunikasi sedang, dan 18 responden (5%) dengan tingkatan kemampuan adaptasi komunikasi tinggi.

Gambaran tingkat konsep diri responden berdasarkan jenis kelamin dapat diamati pada tabel di bawah ini.

Jenis Kelamin Rendah Tingkat Konsep Diri Sedang Tinggi
Laki-laki 10 102 14
Perempuan 28 157 28
JUMLAH 38 259 42
Table 6. Tabel 6. Gambaran Tingkat Konsep Diri Berdasarkan Jenis Kelamin

Gambaran tingkat kemampuan adaptasi komunikasi responden berdasarkan jenis kelamin dapat diamati pada tabel di bawah ini.

Jenis Kelamin Tingkat Kemampuan Adaptasi Komunikasi
Rendah Sedang Tinggi
Laki-laki 8 113 5
Perempuan 23 177 13
JUMLAH 31 290 18
Table 7. Tabel 7. Gambaran Tingkat Kemampuan Adaptasi Komunikasi Berdasarkan Jenis Kelamin

Pembahasan

Berdasarkan hasil uji korelasi spearman rho, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,420 dan nilai signifikansi p= 0,001 (<0,05). Semakin tinggi tingkat konsep diri, maka semakin tinggi pula tingkat kemampuan adaptasi komunikasipada mahasiswa. Sebaliknya, semakin rendah tingkat konsep diri maka semakin rendah pula tingkat kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru.

Hasil pada penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sabrina pada mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala Aceh yang juga menyebutkan bahwa konsep diri memiliki hubungan yang signifikan dengan kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru [12]. Konsep diri memiliki peran penting dalam menentukan perilaku mahasiswa baru di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa yang memiliki konsep diri yang tinggi akan memiliki pandangan yang lebih positif terhadap diri mereka sendiri sehingga mereka dapat dengan mudah membangun komunikasi dengan lawan bicara mereka [12].

Hasil yang sama juga ditunjukkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Garnis dkk. terhadap siswa kelas X di MAN Sidoarjo yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konsep diri dengan penyesuaian diri [16]. Siswa yang memiliki konsep diri yang baik, maka semakin baik pula penyesuaian dirinya. Sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Selliana dkk. terhadap siswa kelas X SMK Tunas Binjai bahwa terdapat hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri [21].

Pada penelitian ini diketahui nilai R2 = 0,572. Nilai tersebut berarti bahwa konsep diri memberikan pengaruh sebesr 57,2% terhadap kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sujudi pada mahasiswa baru di Surakarta yang memperoleh hasil bahwa bahwa konsep diri memiliki peran terhadap percepatan adaptasi budaya pada mahasiswa baru [18]. Faktor lain yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: motif, persepsi, sikap, intelegensi dan minat, serta kepribadian. Sedangkan faktor eksternal meliputi: keluarga, kondisi sekolah, kelompok sebaya, prasangka sosial, hukum dan norma [16].

Berdasarkan hasil kategorisasi konsep diri, diperoleh hasil bahwa sebagian besar subjek pada penelitian ini memiliki tingkat konsep diri pada kategori sedang yakni sebanyak 259 orang (77%). Begitu pula berdasarkan kategorisasi Kemampuan adaptasi komunikasi, diperoleh hasil bahwa sebagian besar subjek pada penelitian ini memiliki tingkat Kemampuan adaptasi komunikasi pada kategori sedang, yakni sebanyak 290 orang (86%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat konsep diri yang sedang yang dapat menyebabkan timbulnya kemampuan adaptasi komunikasi dengan tingkat sedang pula.

Responden dengan tingkat konsep diri rendah didominasi oleh mahasiswa perempuan. Sejalan dengan yang dikemukanan oleh Dai bahwa konsep diri Perempuan cenderung lebih rendah daripada laki-laki dikarenakan seorang perempuan biasanya menemukan persoalan-persoalan pada penampilan fisiknya yang mengakibatkan kurang mampu menerima kondisi fisiknya dan merasa tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya sehingga mereka melakukan diet untuk merubah penampilan fisiknya. Sedangkan pada laki-laki penampilan bukanlah suatu hal yang terlalu dipikirkan matang, sehingga pada aspek fisik laki-laki lebih memiliki konsep diri yang tinggi dibandingkan perempuan [22].

Begitu pula dengan tingkat kemampuan adaptasi komunikasi yang rendah dinominasi juga oleh mahasiswa perempuan. Berry. dkk mengemukanan bahwa laki-laki dan perempuan sangat berbeda satu sama lain, yaitu lewat pandangan bahwa lelaki lebih dominan, tak tergantung, dan memiliki sifat petualangan, sementara perempuan emosional, tunduk (submisif) dan lemah. Hal tersebut cukup menggambarkan bahwa laki-laki lebih bisa menyesuaikan karena sifat mereka petualangan. Sedangkan perempuan lebih lama menyesuaikan disebabkan faktor emosi yang melekat pada mereka [23].

Tingkat kenaikan konsep diri pada individu akan diikuti dengan tingkat kenaikan kemampuan adaptasi individu tersebut. Individu yang memiliki konsep diri positif memiliki pemahaman diri yang sebenarnya mengenai sejumlah fakta tentang dirinya sehingga evaluasi terhadap dirinya positif dan dapat menerima keberadaan orang lain, sedangkan individu dengan konsep diri yang negatif akan memandang dirinya sebagai sosok individu yag memiliki banyak kekurangan, kurang percaya diri, dan enggan membuka diri terhadap orang lain, sehingga individu tersebut akan menemui hambatan dalam melakukan adaptasi di lingkungan yang baru, salah satunya adalah dalam adaptasi komunikasi [12].

Simpulan

Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dengan kemampuan adaptasi komunikasi mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat konsep diri, maka semakin tinggi pula tingkat kemampuan adaptasi komunikasi pada mahasiswa baru. Sebaliknya, semakin rendah tingkat konsep diri maka semakin rendah pula tingkat kemampuan adaptasi komuikasi pada mahasiswa baru. Variabel konsep diri memberikan pengaruh sebesar 57,2% terhadap kemampuan adaptasi komunikasi. Sebagian besar subjek pada penelitian ini, memiliki tingkat konsep diri pada kategori sedang. Begitu pula tingkatan kemampuan adaptasi komunikasi pada sebagian besar subjek juga berada pada kategori sedang.

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan psikologi, terutama pada bidang psikologi pendidikan dan psikologi sosial. Selain itu bagi mahasiswa bahan informasi bagi mahasiswa untuk dapat mengenal konsep diri serta kemampuan adaptasi berkomumunikasi agar dapat diterapkan di lingkungan Universitas. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan teori dalam melakukan penelitian serupa pada penelitian selanjutnya.

Penelitian ini tentu tidak lepas dari sejumlah kekurangan. Limitasi pada penelitian ini di antaranya yaitu hanya menggunakan dua variabel saja. Sumbangan pengaruh konsep diri terhadap kemampuan adaptasi komunikasi mahasiswa baru masih berkisar 57,2%. Masih terdapat faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap kemampuan adaptasi komunikasi yang dirasa juga perlu diteliti lebih lanjut oleh penelitian berikutnya

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektorat dan Direktorat Akdemik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah

Sidoarjo yang berpartisipasi dalam penelitian ini serta pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu

References

[1] R. P. Sari, T. Rejeki, and A. Achmad, “Self Adjustment Among University Students,” Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, vol. 3, no. 2, pp. 11–25, 2006.

[2] T. P. Setiani and H. C. Haryanto, “Psychoeducation and Social Adaptation Ability of New Students,” Psikoislamika Journal of Psychology and Islamic Psychology, vol. 16, no. 1, pp. 1–9, 2019.

[3] W. E. Saputra, “Organizing and Coordination on Employee Performance,” Edunomika, vol. 4, no. 2, pp. 1–11, 2020.

[4] M. N. M. Rahayu and R. Arianti, “First Year Student Adjustment in Higher Education,” Journal of Psychological Science and Profession, vol. 4, no. 2, pp. 73–80, 2020.

[5] P. N. Bilicha et al., “Interpersonal Communication of New Students Viewed from Humility and Self Adjustment,” Psikis Journal of Islamic Psychology, vol. 5, no. 2, pp. 109–118, 2019.

[6] A. Saputra, Student Adaptation Ability in Communication Study Program, Undergraduate Thesis, 2012.

[7] Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Definition of Adaptation,” 2023.

[8] T. Tukina, “Adaptation Process of Regional Students,” Humaniora, vol. 5, no. 1, pp. 425–432, 2014.

[9] A. F. Sari, “Communication Ethics,” Tanjak Journal of Education and Teaching, vol. 1, no. 2, pp. 127–135, 2020.

[10] N. Nasir, “Adaptation Difficulties of New Students,” Gema Wiralodra, vol. 13, no. 2, pp. 883–892, 2023.

[11] R. L. Duran, “Communicative Adaptability: A Review of Conceptualization and Measurement,” Communication Quarterly, vol. 40, no. 3, pp. 253–268, 1992.

[12] A. Sabrina, Self Concept and Communication Adaptation of Medical Students, Undergraduate Thesis, Universitas Syiah Kuala, 2015.

[13] A. Astari, “Self Concept Description from Cultural Perspective,” 2017.

[14] A. A. Akhmadi, Student Self Development Study, 2022.

[15] S. Damarhadi et al., “Self Concept Based on Gender,” Psikostudia Journal of Psychology, vol. 9, no. 3, pp. 251–260, 2020.

[16] F. E. Garnis and W. Widyastuti, “Self Concept and Student Adjustment,” Proyeksi, vol. 16, no. 1, pp. 92–99, 2021.

[17] K. Widya, “Self Concept and Interpersonal Communication,” Jurnal Bikotetik, vol. 3, no. 2, pp. 50–56, 2020.

[18] F. F. Sujudi, Cultural Adaptation of Migrant Students, 2022.

[19] R. Pratama et al., “Correlational Research Design,” JIIP Journal of Educational Sciences, vol. 6, no. 3, pp. 1754–1759, 2023.

[20] Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D, 2nd ed. Bandung: Alfabeta, 2019.

[21] Selliana, Nengsih, and D. R. Sitepu, “Self Concept and Adjustment of Vocational Students,” Serunai Journal of Guidance and Counseling, vol. 10, no. 1, pp. 1–10, 2021.

[22] N. Hidayati, Psychological Adjustment of New Students, 2021.

[23] U. S. A. M. Ratulangi, “Communication Studies in Acta Diurna,” Acta Diurna, vol. 3, no. 4, pp. 1–11, 2014.