Pendahuluan
Pendidikan di sekolah dasar harus dilaksanakan dengan optimal agar tercipta suasana belajar yang dinamis dan efisien. Kegiatan membaca dan menulis merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari manusia. Melalui membaca, siswa dapat mendapatkan ilmu baru dan memperluas wawasan mereka. Ini sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Pasal 4 Ayat 4 tentang Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan, yang menyatakan bahwa "Pendidikan dilakukan dengan membiasakan masyarakat untuk membaca, menulis, dan berhitung. " Pernyataan ini menegaskan bahwa kegiatan membaca dan menulis memiliki peranan yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran membaca dan menulis perlu disesuaikan dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang benar.[1]. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan sebuah pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Yang mana siswa siswi sekolah dasar saat ini untuk keterampilan bahasa sangatlah rendah dikarenakan siswa siswi sekolah dasar saat ini lebih memilih teknologi dari pada belajar berbahasa dengan baik [2]. Keterampilan bahasa yang ada dalam kurikulum nasional mencakup empat komponen utama, yaitu membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis. Membaca adalah salah satu kemampuan bahasa yang penting dimiliki sejak awal pendidikan, yaitu di tingkat sekolah dasar. Jika siswa tidak bisa melakukan kegiatan membaca dengan baik, mereka akan kesulitan dalam mengikuti proses belajar di semua materi pelajaran. Selain itu, siswa yang memiliki keterampilan pemahaman membaca yang kurang baik akan mengalami kesulitan dalam menyerap dan memahami informasi dari berbagai sumber, seperti buku pelajaran, buku lainnya, dan materi pembelajaran lainnya. Sebagai akibatnya, siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca cenderung mendapatkan prestasi akademis yang lebih rendah dibandingkan dengan teman-teman mereka yang tidak memiliki masalah membaca. Maka, dapat disimpulkan bahwa pemahaman membaca yang dimiliki siswa berpengaruh besar terhadap keberhasilan mereka dalam bidang akademis.[3].
Membaca merupakan kegiatan di mana orang yang membaca mengenali informasi yang ingin disampaikan oleh penulis melalui penggunaan kata-kata atau tulisan. Aktivitas ini tidak hanya sebatas mengenal huruf dan kata, tetapi juga melibatkan pemahaman terhadap isi dari teks yang dibaca. Tujuan utama membaca adalah mencari dan mendapatkan informasi, memahami isi, dan menangkap makna bacaan. Pemahaman tentang makna atau arti (meaning) berkaitan erat dengan maksud serta tujuan kita dalam membaca. Membaca adalah keterampilan yang perlu disadari dan dipahami oleh setiap guru bahasa sebagai suatu kemampuan yang kompleks, karena di dalamnya terdapat berbagai keterampilan kecil yang saling berkaitan.[4] Dengan kata lain, kemampuan membaca terdiri dari tiga elemen yang pasti dapat membantu pengajar dalam memahami dan menerapkannya kepada murid-murid di sekolah dasar, yaitu: 1. Pengertian mengenai huruf dan tanda baca, 2. Hubungan antara huruf dan tanda baca dengan elemen-elemen linguistik yang resmi, 3. Keterkaitan lebih dalam antara 1 dan 2 dengan arti atau makna..[5] Pembelajaran literasi di sekolah dasar terbagi menjadi dua tahap, yaitu literasi dasar dan literasi lanjutan.Tujuan pembelajaran membaca adalah untuk memungkinkan siswa mengenali huruf, suku kata, kata, dan kalimat, serta mampu membaca berbagai jenis bahan bacaan dalam berbagai konteks. Tujuan bacaan lebih lanjut adalah untuk membantu siswa memahami informasi yang disajikan. Kemampuan memahami bacaan adalah salah satu keterampilan berbahasa yang wajib dimiliki setiap siswa. Kebiasaan membaca yang sering akan membantu siswa memperkaya kosakatanya[6].
Kesulitan membaca masih menjadi salah satu penyebab utama rendahnya kemampuan membaca siswa. Rendahnya minat baca anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya orang tua kurang menyadari pentingnya belajar membaca sejak dini, serta terbatasnya variasi buku di perpustakaan sekolah, misalnya buku yang tersedia kurang menarik karena tidak ada gambar atau warna. Ketidakmampuan peserta didik untuk menguasai skill membaca membuat mereka kesulitan dalam mengikuti pelajaran di semua disiplin ilmu. Di samping itu, siswa yang belum bisa membaca akan menemui tantangan dalam mendapatkan dan memahami informasi dari berbagai sumber, seperti buku pelajaran, buku umum, atau media pendidikan lainnya. Sebagai hasilnya, pencapaian belajar siswa yang kesulitan membaca jauh lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak menghadapi masalah tersebut.[7]
Media pembelajaran adalah proses pembelajaran yang menggunakan alat sebagai peningkatan minat belajar terhadap siswa. Dengan menggunakan media pembelajaran dapat membantu guru dalam menyampaikan materi sehingga proses belajar menjadi lebih mudah. Penggunaan media pembelajaran membantu siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan guru. Dalam pembelajaran, media dapat berupa media nyata maupun audiovisual, yang pemilihannya harus sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk mendukung proses belajar megajar sekolah perlu melengkapi fasilitas, sementara guru dapat mengembangkan media melalui kreativitas dan inovasi. Dalam mengembangkan media pembelajaran, menyesuaikan kebutuhan dan minat siswa SD yang masih menyukai permainan dan tertarik pada hal baru.Peembelajaran yang disertai permainan membuat siswa lebih tertarik, aktif dan menumbahkan minat belajar siswa[8]. Permainan kartu berupa kartu kata dan kartu gambar dapat menjadi alat pembelajaran yang membuat siswa lebih terlibat, sehingga mendorong minat mereka untuk mengikuti pelajaran di kelas. Kartu kata dan kartu gambar merupakan media cetak yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Media berupa kartu kata dan kartu gambar digunakan agar siswa bisa belajar kosakata dengan metode lain, tidak hanya melalui guru dan buku. Kartu kata berfungsi sebagai media yang melatih fokus siswa, mengembangkan kemampuan mengingat, dan memperkaya kosakata. Dengan penggunaan media kartu kata dan kartu gambar membuat siswa lebih mudah memahami materi kosakata yang diajarkan dan membantu siswa memahami maknanya [9]. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang sudah dilakukan terhadap siswa kelas II di SDN Kludan menyatakan bahwa masalah yang terdapat di sekolah tersebut adalah ada beberapa siswa yang belum lancar untuk membaca dan belum bisa mebedakan huruf contonya ketika guru menulis 2 sampai 3 kata di papan sebagian siswa masih kesulitan untuk membaca. Dari hasil wawancara dengan guru kelas II yang telah dilakukan oleh peneliti, terdapat beberapa alasan mengapa siswa belum fasih dalam membaca, salah satunya adalah pemanfaatan media pembelajaran yang masih terbatas dalam pelajaran bahasa Indonesia. Guru hanya menggunakan buku ajar dari sekolah dan papan tulis, sehingga siswa dapat merasa bosan karena materi yang diberikan kurang menarik. Mengingat masalah yang ditemukan dalam kelas II, peneliti ingin memanfaatkan media kartu huruf bergambar untuk meningkatkan kemampuan membaca awal.
Referensi berupa teori atau kesimpulan yang diambil dari banyak hasil penelitian sebelumnya akan digunakan sebagai data pendukung penelitian ini. Hasil penelitian sebelumnya dengan topik yang hampir sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti antara lain.
Putri Wahyuni, Dkk, Menulis Jurnal ilmiah yang berjudul, “Pengaruh Kartu Huruf Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas II di Sekolah Dasar” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan media kartu huruf terhadap kemampuan membaca permulaan siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas II sekolah dasar [10]. Sementara itu, Itsna Oktaviyanti dan rekan-rekannya dalam jurnal ilmiah berjudul “Analisis Pengaruh Media Gambar terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar” menekankan tujuan penelitiannya untuk mengetahui sejauh mana media gambar dapat memengaruhi kemampuan membaca permulaan siswa kelas II di SDN 23 Ampenan.[10]. Rosida I dkk, menulis jurnal ilmiah yang berjudul “Analisis dalam Kemampuan Membaca Permulaan pada Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar” Tujuan Penelitian ini yaitu dilandasi oleh mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas 1 SDN Segarjaya II. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa siswa kelas 1 mempunyai kemampuan membaca permulaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Berdasarkan hasih yang di dapat dalam penelitian ini yaitu wawancara, tes dan dokumentasi.[11]
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, peneliti bermaksud untuk mengkaji lebih mendalam mengenai kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas II. Atas dasar tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Media Kartu Huruf Bergambar terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar.” Tujuan dalam penelitian yaitu untuk mengenalkan model pembelajaran media kartu huruf bergambar kepada guru dan peserta didik. Sehingga diharapkan peneliti dapat mengetahui efektif atau tidaknya media kartu huruf bergambar dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan dalam proses pembelajaran terutama di peserta didik di kelas II SDN Kludan.
Metode
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif jenis Pre-eksperimen. Desain yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan desain One Grup Pretest Posttest Desain [12]. Pada desain ini terdapat satu kelompok yang sama tidak ada kelompok control yang dibandingkan dalam kelompok tersebut, diberikan pretest dan posttest. Penelitian ini dilakukan di SDN kludan tanggulangin yang berfokus pada siswa sekolah dasar. Populasi yang digunakan adalah peserta didik kelas II SDN kludan tanggulangin. Sampel yang digunakan yakni seluruh peserta didik kelas II yang berjumlah 25 laki- laki 11 Perempuan 14 Teknik sampling yang digunakan adalah dengan sampling jenuh. Menurut Sugiono 2019 sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel dengan jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan test dan dokumentasi pada penelitian ini instrume yang digunakan adalah performence test dengan cara peserta didik satu persatu membaca dengan tulisan biasa (pretest) dan dengan menggunakan media pembelajaran kartu huruf bergambar (posttest) ke depan kelas yang mencakup indikator membaca permulaan meliputi Ketepatan menyuarakan tulisan, Kewajaran lafal, Kelancaran, Kejelasan suara, serta Kewajaran intonasi (Muammar 2022).
Dokumetasi berupa foto kegiatan sebelum dan sesudah penerapan media pembelajaran. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu uji normalitas, digunakan untuk mengetahui hasil data nilai bernilai distribusi normal atau tidak, selanjutnya uji hipotesis untuk mengukur uji dugaan kelayakan, menentukan taraf signifikansi, menghitung nilai t hitung dengan t tabel, dan menarik kesimpulan. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji T- paired sampel dengan bantuan software SPSS versi 26.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian yang dilaksanakan pada siswa kelas II SDN Kludan Tanggulangin dengan jumlah 25 peserta, berlangsung dari tanggal 28 Mei hingga 9 Juni 2025. Dari pelaksanaan tersebut diperoleh data pretest dan posttest yang kemudian diolah menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Selanjutnya, peneliti menganalisis kemampuan membaca permulaan melalui uji hipotesis Paired Sample T-Test. Hasil analisis data ini menjadi dasar dalam menginterpretasikan pengaruh penggunaan media kartu huruf bergambar terhadap kemampuan membaca permulaan siswa sekolah dasar.
| N | Nilai Minimum | Nilai Maksimum | Rata- Rata | |||||||
| Pretest posttest | 25 25 | 35 40 | 90 95 | 1.64 2.92 | ||||||
Berdasarkan hasil tabel 1, tes berupa performance test sebelum dan sesudah diterapkan media pembelajaran kartu huruf bergambarmendapat nilai rata-rata sebesar 1.64 dengan skor minimum sebesar 35, sedangkan skor maksimum sebesar 90. Kemudian untuk mengetahui pengaruh apakah ada pengaruh dari media pembelajaran kartu huruf bergambartersebut peneliti memberikan soal posttest yang mendaptkan hasil rata- rata sebesar 2.92 dengan skor minimum sebesar 40, sedangkan skor maksimum 95. Sehingga diketahui terdapat peningkatan nilai rata-rata antara pretest dan posttest sebesar 1.28. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran kartu huruf bergambarmembuat peserta didik lebih antusias dan lebih konsentrasi, Selain itu, penggunaan media kartu huruf bergambar juga membantu peserta didik dalam memahami dan memperdalam materi pembelajaran secara lebih optimal.Pada pengujian prasyarat, yakni uji normalitas dan uji homogenitas dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
| Kolmogorov – Smirnov | Shapiro – Wilk | Sig. | |||||
| Kelas | Statistic | Df | Sig. | Statistic | Df | ||
| Pretest dan Posttest | Pretes posttest | .180 .220 | 25 25 | .036 .003 | .913 .892 | 25 25 | .035 .012 |
Berdasarkan tabel 2, hasil data uji tes normalitas menggunakan Shapirowilk, diketahui nilai signifikan dari data pretest dan postest lebih besar dari 0,005. Sehingga data keterampilan membaca permulaan dinyatakan berdistribusi normal. Hasil uji tes homogenitas ditunjukan pada tabel 3.
| Hasil tes membaca Permulaan | Nilai rata-Rata | Levene statistic | df1 | df2 | Sig. |
| 4. 353 | 1 | 48 | 0.42 | ||
Berdasarkan tabel 3, menggunakan metode Levene statistic diperoleh nilai sig. 0.42> 0,05 hasil data penelitian tersebut dinyatakan homogen. Sesudah dilakukan perhitungan uji prasyarat analisis data uji normalitas dan homogenitas dengan hasil data normal dan homogen, Langkah berikutnya peneliti melakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji paired t-test pada tabel 4 berbantuan SPSS.
| Paired Samples Test | |||||||||
| Paired Difference | |||||||||
| 95% Confidence Interval of theDifference | |||||||||
| Mean | Std. Dev iation | Std Eror Mean | Lowes | Upper | T | Df | Sig. (2tailed) | ||
| Pair | Pretest -posttest | -1.280 | 1.990 | .398 | -2.101 | -.459 | -3.216 | 24 | .004 |
Berdasarkan hasil tabel 5, hasil Uji Paired Sampel T-Test dengan SPSS versi 26, pengambilan keputusan jika nilai Sig. (2-tailed) lebih kecil dari nilai α (0,05) maka H0 ditolak dan H diterima. Dilihat dari perhitungan tabel 5 diatas, nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu 0.000 < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan media pembelajaran kartu huruf bergambarterhadap keterampilan membaca permulaan peserta didik sekolah dasar kelas II SDN Kludan Tanggulangin.
Berdasarkan dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran kartu huruf bergambar dapat dijadikan sebagai salah satu media pembelajaran yang inovatif dan kreatif sehingga dapat mempengaruhi keterampilan membaca permulaan. Artinya penggunaan media pembelajaran kartu huruf bergambardata membantu meningkatkan keterampilan membaca permulaan. Karena dilihat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sangat aktif dan pembelajaran tidak terlihat membosankan. Melalui penerapan media pembelajaran kartu huruf bergambar. Oleh karena itu penelitian ini memberikan banyak manfaat bagi peserta didik dan guru maupun dalam lingkup pendidikan.
Penelitian ini bisa dibilang sejalan dengan penelitian lain menggunakan media pembelajaran kartu huruf bergambar. Penelitian lain menunjukkan media pembelajaran kartu huruf bergambar berpengaruh positif terhadap siswa siswi kelas II diantaranya : Pertama, penelitian yang menjelaskan tentang media pembelajaran kartu huruf bergambar pada pembelajaran bahasa[13]. Kedua, Penggunaan dua media pembelajaran yaitu media kartu huruf dan poster bergambar merupakan salah satu inovasi keterampilan membaca permulaan di sekolah dasar, dengan penggabungan dua media tersebut dalam pembelajaran keterampilan membaca permulaan diharapkan peserta didik kelas II mampu mengenal huruf serta membaca dengan lancar. Media gambar (media visual) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan membaca permulaan serta memberikan pengaruh terhadap keaktifan peserta didik. Penelitian ini penting dilakukan karena dengan melakukan penelitian ini, pembaca dapat mengetahui inovasi terbaru dalam pembelajaran serta bermaksud untuk mengetahui bagaimana implementasi inovasi keterampilan membaca permulaan[14]. Ketiga, kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang wajib dimiliki siswa agar dapat memahami semua mata pelajaran. Siswa yang belum menguasai membaca permulaan akan mengalami hambatan dalam belajar, dan hal tersebut akan berpengaruh pada pembelajaran di kelas selanjutnya[15]. Keberhasilan membaca permulaan dapat dilihat dari berkembangnya budaya literasi serta munculnya kesadaran siswa untuk membaca dengan penuh makna. Aktivitas membaca awal dianggap efektif apabila siswa menjalankannya sebagai kebutuhan dan keinginan, bukan sebagai beban. Dengan kata lain, diperlukan dorongan kesadaran dari dalam diri siswa agar mampu memiliki keterampilan membaca, sebab apabila kesadaran tersebut hadir, siswa akan berusaha mempelajarinya secara mandiri. [16]. Oleh karena itu Media pembelajaran sangat penting dalalm proses belajar mengajar, sehingga guru lebih mudah dalalm menyampaikan materi juga peserta didik tidalk mudah bosan dan jenuh selama pembelajaran berlangsung. Dalam memilih media pembelajaran, seorang guru harus mengetahui jenis-jenis media yang ada. Media pembelajaran merupakan salah satu elemen yang sangat berpengaruh dalam proses pendidikan. Pada fase pemaparan materi, pemanfaatan media pembelajaran akan sangat mendukung jalannya proses belajar serta penyampaian informasi dan materi ajar [17]. Seorang pendidik juga perlu menyadari bahwa tanpa keberadaan media pembelajaran, kegiatan belajar akan terasa membosankan dan proses pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif [17].
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran menggunakan media kartu huruf bergambar yang dilakukan dikelas II SDN Kludan Tanggulangin dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan peseta didik Sekolah Dasar. Hasil ini ditunjukkan dari nilai signifikasi dari analisis paired sample test yang nilainya sebesar 0.001 kurang dari 0.005 Dan dilihat dari mean yang sebesar 4.56 serta standar deviation yang sebesar 2.902 sehingga ada pengaruh yang signifikan dari sebelum dan sesudah diberi perlakuan treatment model pembelajaran menggunakan media kartu huruf bergambar kepada peserta didik. Maka dapat disimpulkan, bahwa model pembelajaran menggunakan media kartu huruf bergambar dapat digunakan untuk solusi peserta didik mengenai kemampuan membaca permulaan. Serta dapat menjadi solusi atau strategi guru dalam mengembangkan pembelajaran yang sangat efektif di pembelajaran Bahasa Indonesia. Karena dengan adanya pembelajaran ini, peserta didik mendapatkan pengetahuan dan kemampuan yang dapat menjadi bekal untuk jenjang yang lebih tinggi.
Ucapan Terima Kasih
Alhamdulillāhi robbil ‘ālamīn, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga artikel ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam proses penelitian ini, khususnya kepada kedua orang tua tercinta, Bapak Palik dan Ibu Sarofah, atas cinta, dukungan, serta pengorbanan yang tiada ternilai. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada keluarga serta sahabat yang senantiasa mendampingi, membantu, dan memberi semangat. Selain itu, apresiasi yang sebesar-besarnya ditujukan kepada siswa-siswi serta guru SDN Kludan Tanggulangin yang telah memberikan fasilitas dan kesempatan untuk melaksanakan penelitian ini. Terakhir, penulis juga berterima kasih kepada diri sendiri yang telah berusaha bertahan, konsisten, dan bertanggung jawab menyelesaikan apa yang telah dimulai, serta tidak menyerah meskipun melalui berbagai tantangan dalam prosesnya.