Pendahuluan
Pendidikan adalah upaya manusia untuk mengembangkan kepribadiannya sesuai nilai-nilai masyarakat atau budaya [1]. Istilah pendidikan atau pedagogi merujuk pada proses pengajaran dan bimbingan yang bertujuan membantu individu mencapai kedewasaan [2]. Lebih lanjut, pendidikan diartikan sebagai usaha individu atau kelompok untuk berkembang dan mencapai kehidupan yang lebih baik, baik secara material maupun spiritual, yang memungkinkan terjadinya pembelajaran dan perkembangan [3]. Secara keseluruhan, pendidikan merupakan interaksi antara guru dan siswa untuk meningkatkan perkembangan intelektual siswa agar mereka menjadi pribadi yang mandiri dan utuh, serta mendukung dan memfasilitasi pembelajaran [4].
Jenjang pendidikan di Indonesia dimulai dari sekolah dasar (SD), di mana bahasa Indonesia diajarkan secara khusus. Pembelajaran bahasa Indonesia sangat penting karena bahasa bersifat universal dan berperan vital. Pembelajaran bahasa Indonesia dianggap efektif jika peserta didik memahami konsep bahasa melalui keterampilan menulis dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum Merdeka memanfaatkan pembelajaran bahasa Indonesia sebagai alat mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik. Pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, dengan penekanan seimbang pada keempat aspek tersebut.Meskipun penting, tingkat kemampuan berbahasa peserta didik saat ini masih rendah, menjadi topik perbincangan praktisi pendidikan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kemampuan menulis, di mana Indonesia pernah menduduki posisi kedua dari bawah dalam hal kemampuan menulis, menunjukkan minat dan kemampuan menulis masyarakat yang masih sangat rendah [5].
Menulis adalah keterampilan berbahasa esensial yang penting bagi setiap individu. Untuk meningkatkannya, peserta didik perlu mengumpulkan berbagai ide, pengetahuan, serta pengalaman hidup sebagai modal dasar aktivitas sastra [6]. Menulis sendiri merupakan proses mengungkapkan pikiran, gagasan, serta perasaan melalui kata-kata tertulis. Keterampilan menulis memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan siswa, baik untuk masa kini maupun masa depan. Contohnya, saat peserta didik ingin menyampaikan pemikiran, perasaan, atau informasi, mereka diharapkan dapat melakukannya dengan cara yang jelas dan mudah dipahami pembaca, agar pesan tersampaikan dengan baik.Salah satu bentuk kegiatan menulis adalah puisi. Puisi merupakan cabang sastra yang memanfaatkan kata-kata untuk mengungkapkan imajinasi dan fantasi, mirip lukisan yang menggunakan garis dan warna untuk menggambarkan ide pelukis. Berdasarkan penjelasan tersebut, kemampuan menulis puisi menjadi salah satu keterampilan sastra yang harus dikuasai, namun tidak mudah diperoleh [7]. Menulis puisi bukanlah kemampuan yang diwariskan begitu saja, melainkan keterampilan yang membutuhkan latihan dan bimbingan efektif untuk dikuasai. Menulis puisi dapat melatih siswa mengekspresikan ide, perasaan, dan pengalaman. Guru berperan membantu siswa mengungkapkan isi pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka menggunakan bahasa yang indah dan penuh makna [8]. Aktivitas ini turut meningkatkan kepekaan berbahasa serta memperkaya perbendaharaan kosakata siswa. Selain itu, menulis puisi mendorong peserta didik bereksperimen dengan kata-kata, memandang dunia dengan cara yang segar dan kreatif, serta memahami bahwa imajinasi mereka bisa diwujudkan dalam bentuk puisi [9]. Oleh karena itu, penting mengembangkan kemampuan menulis peserta didik, termasuk dalam hal menulis puisi. Salah satu cara adalah menumbuhkan minat baca tanpa membatasi kreativitas peserta didik, serta memberikan umpan balik dan dukungan terhadap karya mereka. Guru juga perlu terus mengembangkan diri melalui pembelajaran berkelanjutan dan terbuka terhadap berbagai metode serta media yang dapat mendukung proses pengajaran. Hal ini akan membantu peserta didik memahami materi dengan lebih baik dan menjaga agar pembelajaran tetap menarik serta tidak membosankan [9].
Dalam proses menulis puisi, perhatian terhadap berbagai aspek pendukung sangat penting untuk menciptakan karya yang bermakna dan terstruktur dengan baik. Aspek-aspek tersebut meliputi tema, emosi, nada, pesan, frasa, gambaran (imajinasi), gaya bahasa, rima, serta ejaan kata yang tepat sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) [10]. Semua elemen ini harus dikelola dengan baik untuk menghasilkan puisi yang tidak hanya estetis tetapi juga komunikatif. Meskipun demikian, dalam praktiknya, banyak peserta didik menghadapi berbagai tantangan dalam menulis puisi. Beberapa kesulitan umum yang sering dijumpai termasuk kesulitan memilih tema yang sesuai, mengorganisasikan ide secara sistematis, serta menyusun baris dan bait puisi yang efektif. Selain itu, kesulitan menciptakan rima yang harmonis dan menyusun unsur-unsur suara dan pengalaman dalam puisi juga menjadi hambatan signifikan [11]. Kesulitan-kesulitan ini sering bervariasi antar peserta didik, tergantung latar belakang dan pengalaman masing-masing. Penelitian di berbagai sekolah menunjukkan bahwa peserta didik cenderung kesulitan dalam aspek-aspek ini, yang dapat memengaruhi kualitas karya puisi yang dihasilkan.
Berbagai penelitian telah mengkaji kemampuan menulis puisi pada jenjang pendidikan dasar, menyoroti tantangan dan strategi peningkatannya. Menemukan bahwa keterampilan menulis puisi peserta didik sekolah dasar masih perlu ditingkatkan, terutama dalam aspek penggunaan diksi dan majas. Mereka menyarankan penggunaan media visual untuk memancing imajinasi peserta didik [12]. Mengidentifikasi bahwa kurangnya pemahaman tentang unsur intrinsik puisi, seperti tema dan amanat, menjadi kendala utama bagi peserta didik kelas V. Studi mereka merekomendasikan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif [13]. Dalam penelitiannya tentang efektivitas metode pembelajaran berbasis proyek dalam menulis puisi menunjukkan bahwa metode ini mampu meningkatkan kreativitas dan motivasi peserta didik dalam berkarya. Namun, mereka juga mencatat bahwa bimbingan individual masih sangat diperlukan untuk siswa yang mengalami kesulitan [14]. Sementara itu, menyoroti pentingnya peran guru dalam memberikan apresiasi dan umpan balik konstruktif terhadap karya puisi peserta didik untuk membangun kepercayaan diri dan keinginan untuk terus menulis [15].
Faktor lain yang memengaruhi kemampuan menulis puisi adalah minat baca. Bahwa minat baca yang rendah berkorelasi negatif dengan kemampuan menulis puisi, karena kurangnya paparan terhadap berbagai gaya bahasa dan perbendaharaan kata [16]. Oleh karena itu, upaya menumbuhkan minat baca melalui penyediaan bacaan puisi yang bervariasi menjadi krusial. Menambahkan bahwa lingkungan belajar yang kondusif, termasuk dukungan dari teman sebaya dan keluarga, juga berperan signifikan dalam mengembangkan potensi menulis puisi peserta didik [17]. Beberapa penelitian juga mengulas inovasi dalam pembelajaran menulis puisi. Model pembelajaran menulis puisi berbasis kearifan lokal yang terbukti efektif meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengekspresikan ide dengan lebih otentik. Mengeksplorasi penggunaan teknologi digital, seperti aplikasi menulis puisi sederhana, untuk menarik minat siswa dalam menulis dan mempublikasikan karyanya. Meskipun demikian, mengingatkan bahwa penggunaan teknologi harus diimbangi dengan pemahaman dasar unsur-unsur puisi agar hasilnya tidak kehilangan esensi sastra [18].
Analisis kesalahan dalam menulis puisi juga menjadi fokus. Melakukan studi tentang kesalahan umum yang dilakukan siswa dalam penulisan rima dan irama, menyimpulkan bahwa latihan berulang dengan contoh yang tepat dapat meminimalisir kesalahan tersebut [19]. Terakhir, Menekankan bahwa penilaian yang komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek teknis tetapi juga pada ekspresi emosi dan orisinalitas, dapat memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kemampuan menulis puisi siswa [20]. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan menulis puisi peserta didik kelas V. Penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan utama: apakah peserta didik kelas V dapat menghasilkan puisi dengan baik dan sesuai standar penulisan yang diharapkan. Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini akan mengkaji mendalam keterampilan menulis puisi peserta didik kelas V. Fokus utama adalah mengeksplorasi pemahaman peserta didik terhadap unsur esensial puisi seperti tema, emosi, dan gaya bahasa, serta tingkat kreativitas mereka dalam mengungkapkan gagasan melalui puisi [12].
Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa kemampuan menulis puisi memiliki peran signifikan dalam perkembangan keterampilan berbahasa dan kreativitas peserta didik. Kemampuan ini tidak hanya menunjang aspek bahasa, tetapi juga mendukung ekspresi artistik dan pemahaman mendalam terhadap dunia sekitar. Meskipun demikian, sejumlah besar peserta didik masih menghadapi kesulitan mengembangkan kemampuan menulis puisi mereka, menunjukkan adanya kebutuhan perbaikan metode pembelajaran. Hal ini menjadi perhatian utama karena kemampuan menulis puisi mencerminkan kemampuan intelektual dan emosional peserta didik, yang dapat mencakup keterampilan berpikir kritis, imajinasi, serta penguasaan bahasa yang lebih mendalam [13].
Penelitian ini bertujuan melakukan analisis komprehensif terhadap kemampuan menulis puisi peserta didik kelas V. Penelitian ini akan mengeksplorasi berbagai dimensi keterampilan menulis puisi, seperti pemilihan tema, pengorganisasian ide, penggunaan bahasa figuratif, serta kemampuan peserta didik dalam membentuk struktur puisi yang jelas dan menarik. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat keberhasilan peserta didik dalam menulis puisi. Faktor-faktor tersebut bisa bersifat internal (seperti kemampuan kognitif dan kreativitas masing-masing siswa) maupun eksternal (seperti dukungan dari lingkungan sekolah, bimbingan dari guru, serta akses terhadap sumber daya belajar yang memadai).
Penelitian ini juga akan berupaya menemukan solusi tepat untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi peserta didik [13]. Solusi yang dimaksud dapat mencakup pengembangan teknik pengajaran yang lebih efektif, pemanfaatan metode pembelajaran inovatif, dan penerapan strategi yang dapat merangsang minat peserta didik untuk lebih mengapresiasi dan menulis puisi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berarti terhadap upaya peningkatan kualitas pengajaran bahasa dan sastra di tingkat dasar, serta memberikan wawasan bagi para pendidik dalam merancang pembelajaran yang dapat lebih mengasah kreativitas dan kemampuan berbahasa siswa secara menyeluruh.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Pendekatan kualitatif dipilih karena tujuannya adalah untuk memahami secara mendalam fenomena yang dialami subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, dan pengalaman mereka terkait aktivitas menulis puisi. Metode fenomenologi digunakan untuk menganalisis secara mendalam kemampuan peserta didik kelas V dalam menulis puisi dengan cara menggali pengalaman hidup subjektif mereka. Metode ini berfokus pada bagaimana partisipan mengalami dan menafsirkan proses menulis puisi, bukan sekadar hubungan sebab-akibat. Tujuannya adalah menangkap makna yang diberikan peserta didik terhadap aktivitas menulis puisi dan kemampuan yang mereka miliki [21].
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas V. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Berdasarkan tingkat keaktifan dan keterlibatan mereka dalam tugas, penelitian ini memilih tiga sampel dari total 21 peserta didik kelas V. Pemilihan ini bertujuan untuk mendapatkan data yang kaya dan mendalam dari individu yang memiliki pengalaman atau karakteristik yang representatif terhadap fokus penelitian [1].
Analisis data dalam penelitian ini adalah proses mengelola dan menginterpretasikan data yang telah dikumpulkan untuk menemukan makna dan pemahaman mendalam. Menggunakan pendekatan kualitatif, fokus utama analisis bukan hanya pada hubungan sebab-akibat, melainkan pada pemahaman menyeluruh terhadap fenomena menulis puisi yang dialami oleh peserta didik. Proses ini bersifat siklus dan interaktif, yang berarti pengumpulan data dan analisis tidak dilakukan secara terpisah, melainkan berjalan secara bersamaan dan saling memengaruhi. Pendekatan ini dipilih karena peneliti berusaha menggali pengalaman subjektif dan makna yang diberikan oleh peserta didik terhadap aktivitas menulis puisi.
Tahap pertama adalah reduksi data, sebuah proses memilah, memilih, dan menyederhanakan data yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti transkrip wawancara, catatan observasi, dan hasil tes. Peneliti meninjau seluruh data mentah untuk fokus pada informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, yaitu kemampuan menulis puisi. Data yang tidak relevan akan disisihkan, sementara data yang penting diringkas dan dikategorikan. Proses ini membantu mengorganisir data yang besar dan kompleks menjadi lebih terstruktur dan mudah dianalisis.Setelah data direduksi, tahap berikutnya adalah penyajian data. Data disajikan dalam bentuk yang sistematis, seperti narasi deskriptif, matriks, atau bagan yang menggambarkan hubungan antar-tema atau fenomena yang ditemukan. Tujuannya adalah untuk memudahkan peneliti dan pembaca dalam memahami pola, kecenderungan, dan makna yang terkandung dalam data. Dalam konteks ini, penyajian data akan menyoroti pengalaman, kesulitan, dan kreativitas peserta didik dalam menulis puisi.
Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan, yaitu interpretasi akhir dari data yang telah disajikan. Peneliti mencari makna yang lebih dalam dari pola-pola yang muncul, mengaitkan temuan dengan teori yang relevan, dan menarik kesimpulan yang valid. Kesimpulan ini bukan hanya ringkasan, melainkan pemahaman baru yang dikonstruksi dari data lapangan. Hasilnya akan menjelaskan secara komprehensif bagaimana peserta didik memaknai aktivitas menulis puisi dan faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan mereka.
Figure 1. Gambar 1. Alur Analisis data
Untuk menilai kemampuan menulis puisi peserta diidk, ada beberapa indikator kriteria yang dapat digunakan sebagai acuan [1]. Indikator ini mencakup aspek - aspek penting yang membentuk sebuah puisi yang baik. Pertama, diksi atau pilihan kata yang digunakan haruslah tepat, imajinatif, dan mampu membangkitkan emosi pembaca. Kedua, majas (gaya bahasa) dan citraan berperan penting dalam menghidupkan puisi, memberikan kesan visual, auditori, atau sensoris lainnya yang kuat. Ketiga, rima dan irama menciptakan harmoni musikal dalam puisi, membuat alur bunyinya terdengar indah dan teratur. Keempat, tema dan amanat menunjukkan pemahaman peserta didik terhadap gagasan utama yang ingin disampaikan, memastikan puisi memiliki makna yang mendalam. Yaitu : struktur puisi, seperti bait dan larik, harus disusun secara rapi dan koheren, mendukung penyampaian pesan secara efektif. Dengan demikian, penilaian kemampuan menulis puisi tidak hanya fokus pada satu aspek, melainkan keseluruhan komponen yang saling melengkapi.
Penelitian ini tidak hanya sekadar mengukur kemampuan, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk memahami secara mendalam proses yang terjadi. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan rubrik penilaian yang dirancang secara khusus untuk mengukur berbagai aspek keterampilan menulis puisi. Rubrik ini akan mengevaluasi kualitas tulisan peserta didik dari segi kreativitas dan keterampilan bahasa. Aspek kreativitas mencakup orisinalitas ide, penggunaan majas yang efektif, dan gaya bahasa yang unik [1]. Sementara itu, aspek keterampilan bahasa akan menilai ketepatan penggunaan diksi, rima, irama, serta struktur kalimat yang sesuai dengan kaidah puisi.
Hasil dan Pembahasan
A. Pengalama Subjektif Peserta Didik dalam Puisi
Berdasarkan hasil wawancara mendalam, pengalaman menulis puisi pada peserta didik kelas V teridentifikasi sebagai sebuah fenomena yang sangat bervariasi dan kompleks. Pengalaman ini dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal, seperti motivasi dan imajinasi, serta faktor eksternal, yaitu bimbingan guru dan lingkungan belajar. Secara umum, partisipan penelitian menunjukkan perasaan campur aduk antara antusiasme dan tantangan yang signifikan selama proses kreatif. Antusiasme mereka utamanya muncul dari kesempatan untuk berekspresi secara bebas. Partisipan A, mengungkapkan bahwa puisi menjadi medium baginya untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran yang sulit diungkapkan secara lisan, karena ia merasa malu [1]. Perasaan ini selaras dengan pandangan para ahli yang menekankan pentingnya peran guru dalam memfasilitasi kebebasan berekspresi agar puisi yang dihasilkan tidak terasa kaku. Partisipan D menambahkan, ia merasa seperti “melukis dengan kata-kata” dan bisa “membayangkan banyak hal,” sebuah pernyataan yang menggarisbawahi adanya ruang kreativitas yang mereka rasakan saat menulis.
Meskipun demikian, antusiasme tersebut seringkali berbenturan dengan tantangan yang signifikan. Sebagian besar partisipan menghadapi kesulitan besar saat mengawali dan mengembangkan ide. Mereka sering bingung mencari tema yang menarik atau merasa buntu saat mencoba “memulai bait pertama.” Partisipan C, mengungkapkan bahwa bagian tersulit adalah memulai dan terkadang ide yang ada terasa sedikit lalu habis. Hal ini sejalan dengan temuan berbagai penelitian yang mengindikasikan bahwa keterbatasan imajinasi dan diksi merupakan kesulitan utama yang dihadapi oleh penulis pemula. Hambatan ini diperparah oleh kesulitan dalam mengorganisasikan ide-ide secara sistematis, yang merupakan aspek penting dari proses penulisan [1].
Selain kendala konseptual, peserta didik juga menghadapi tantangan teknis yang substansial. Wawancara menunjukkan bahwa mereka kesulitan menemukan kata-kata yang “indah” atau “puitis,” sehingga cenderung menggunakan bahasa sehari-hari. Partisipan F secara jujur mengatakan bahwa “susah cari kata-kata yang bagus biar puisinya nggak biasa aja.” Pernyataan ini mencerminkan rendahnya penguasaan diksi puitis. Lebih jauh lagi, beberapa partisipan mengeluhkan kesulitan dalam menciptakan rima yang konsisten atau mengatur jumlah baris dalam setiap bait, merasa terbatasi oleh aturan [1]. Partisipan B bahkan menyatakan, “Kalau harus sama rimanya, jadi susah cari kata yang pas, kadang jadi maksain.” Aspek-aspek teknis ini, termasuk pemahaman dan penerapan rima, masih menjadi tantangan besar yang memerlukan bimbingan lebih lanjut dari guru.
Di tengah semua tantangan tersebut, peran guru dan lingkungan belajar menjadi faktor kunci yang sangat memengaruhi pengalaman mereka. Peserta didik mengakui bahwa bimbingan guru dan suasana kelas yang positif sangat penting untuk menumbuhkan semangat. Partisipan E menyebutkan bahwa ia merasa senang jika guru memberikan banyak contoh dan memberinya ruang untuk berkreasi, namun ia juga “takut salah.” Ketergantungan ini menunjukkan bahwa mereka membutuhkan arahan yang jelas sekaligus ruang untuk berekspresi tanpa rasa takut. Dukungan dari teman sebaya dan suasana kelas yang positif juga memengaruhi semangat mereka, sejalan dengan pandangan bahwa lingkungan sosial yang kondusif dapat meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa dalam berkarya [1].
B. Analisis Kajian Mendalam Terhadap Karya Puisi Peserta Didik
Analisis dokumen berupa karya puisi dari ketiga partisipan berfungsi sebagai validasi konkret terhadap temuan-temuan yang diperoleh dari metode lain seperti wawancara, observasi, dan tes. Puisi-puisi yang mereka hasilkan tidak hanya sekadar cerminan kemampuan teknik, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana mereka mengaplikasikan pemahaman dan kreativitasnya dalam sebuah karya. Kajian mendalam ini membuktikan adanya keselarasan yang kuat antara apa yang peserta didik utarakan secara lisan dan apa yang mereka tuangkan dalam tulisan. Keterbatasan yang mereka akui dalam wawancara, seperti kesulitan mencari ide dan diksi, tercermin dengan jelas dalam hasil akhir karya mereka, menegaskan bahwa tantangan yang mereka hadapi bukanlah sekadar pengakuan verbal, melainkan hambatan nyata yang mempengaruhi proses kreatif mereka.
Pada aspek tema, puisi-puisi yang dibuat menunjukkan pemilihan topik yang sederhana dan konkret, seperti alam, keluarga, atau pengalaman sehari-hari [1]. Tema-tema ini sangat sesuai dengan dunia dan lingkup pengalaman anak kelas V, sehingga memudahkan mereka untuk memulai proses penulisan tanpa perlu memikirkan konsep yang terlalu abstrak. Namun, kendala yang ditemukan adalah kedalaman eksplorasi tema yang masih sangat terbatas. Puisi-puisi tersebut jarang menembus permukaan untuk menyentuh makna yang lebih dalam atau abstrak. Misalnya, ketika menulis tentang “hujan,” mereka cenderung hanya menggambarkan hujan turun dan genangan air, tanpa menghubungkannya dengan perasaan sedih, nostalgia, atau harapan. Mereka cenderung menceritakan apa yang mereka lihat secara langsung, tanpa menambahkan lapisan interpretasi atau simbolisme yang lebih kompleks. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun peserta didik memiliki ide, kemampuan mereka untuk mengolah ide tersebut menjadi narasi puitis yang mendalam masih perlu dikembangkan. Mereka butuh bimbingan untuk melihat bahwa objek sederhana seperti pohon atau awan bisa menjadi representasi dari emosi atau gagasan yang lebih besar [1].
Aspek diksi dan pilihan kata juga menjadi perhatian utama dalam analisis ini. Puisi yang dihasilkan menunjukkan penggunaan kata yang cenderung sederhana dan lugas, didominasi oleh kosakata sehari-hari yang biasa mereka gunakan dalam percakapan. Sangat sedikit variasi diksi yang ditemukan untuk menciptakan efek estetis atau makna yang lebih dalam. Hal ini secara langsung mengonfirmasi kesulitan yang diutarakan para partisipan dalam wawancara, di mana mereka mengaku bingung dalam mencari kata-kata yang “indah” atau “puitis.” Temuan ini selaras dengan penelitian yang mengidentifikasi keterbatasan diksi sebagai salah satu hambatan utama dalam menulis puisi di tingkat dasar. Keengganan atau ketidakmampuan mereka untuk bereksperimen dengan kosakata baru membuat puisi-puisi yang dihasilkan terasa monoton dan kurang berkarakter [1]. Mereka masih memandang kata sebagai alat komunikasi belaka, bukan sebagai instrumen artistik yang dapat dibentuk untuk membangkitkan emosi atau citra tertentu.
Dalam hal gaya bahasa, khususnya penggunaan majas, analisis menunjukkan bahwa bahasa figuratif dalam puisi peserta didik masih sangat minim. Jika ada, majas yang digunakan umumnya adalah personifikasi sederhana, di mana mereka memberikan sifat manusia pada benda mati, seperti “pohon menari” atau “angin berbisik.” Metafora atau majas kompleks lainnya jarang sekali ditemukan, menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap kekayaan bahasa figuratif masih perlu diasah. Padahal, majas adalah salah satu unsur esensial yang membedakan puisi dari prosa. Kurangnya penguasaan ini membuat karya mereka terkesan datar dan kurang memiliki daya tarik imajinatif. Mereka belum mampu memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk menciptakan gambaran yang hidup dan tidak biasa dalam pikiran pembaca, yang seharusnya menjadi kekuatan utama sebuah puisi. Pelatihan lebih lanjut dalam mengidentifikasi dan menggunakan majas dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan ini [1].
Sementara itu, aspek rima dan irama menunjukkan variasi yang cukup besar. Beberapa puisi memiliki pola rima yang konsisten, seperti A-A-B-B atau A-B-A-B. Namun, terkadang pengulangan ini terasa dipaksakan. Peserta didik tampaknya lebih mengutamakan konsistensi rima daripada kealamian kalimat, sehingga terkadang makna menjadi terdistorsi. Puisi lain menunjukkan rima bebas yang tidak mengikuti pola tertentu, mencerminkan kebebasan yang lebih besar namun juga kurangnya pemahaman terhadap struktur puisi formal. Irama puisi cenderung sederhana dan mengikuti pola bicara sehari-hari, Aspek ritmis dalam puisi masih menjadi tantangan besar [1]. Mereka belum mampu menciptakan irama yang mengalir dan berkarakter, yang bisa memberikan nuansa khusus pada puisi mereka. Mereka masih belum menyadari bahwa irama adalah alat untuk menguatkan makna dan menciptakan alur yang lebih menarik bagi pembaca.
Di balik semua keterbatasan teknis tersebut, ada satu hal yang patut digarisbawahi, yaitu potensi kreativitas dan imajinasi. Meskipun menghadapi kesulitan dalam diksi dan majas, potensi imajinasi peserta didik cukup terlihat dari ide-ide yang mereka coba sampaikan. Mereka mampu menuangkan pengalaman pribadi dan pengamatan sederhana menjadi sebuah karya, meskipun dengan keterbatasan bahasa. Kerapian dan ejaan tulisan juga cukup baik, meskipun masih terdapat beberapa kesalahan minor yang bisa diperbaiki. Potensi ini menjadi modal penting yang dapat diasah melalui bimbingan yang tepat dan metode pembelajaran yang lebih inovatif. Mengembangkan kemampuan mereka untuk memilih diksi yang tepat dan menggunakan majas akan menjadi kunci untuk membuka potensi kreatif ini. Dengan pendekatan yang tepat, guru dapat membantu siswa melampaui keterbatasan teknis mereka dan benar-benar mengeksplorasi potensi kreatif mereka secara penuh [1].
C. Triangulasi Data dan Prnarikan Kesimpulan
Dalam upaya menjamin validitas dan keandalan temuan, penelitian ini mengimplementasikan triangulasi metode. Ini merupakan pendekatan strategis yang dilakukan dengan membandingkan dan mensintesis data yang dikumpulkan dari tiga sumber utama: observasi, wawancara, dan analisis karya (tes). Proses ini dilakukan secara cermat dan sistematis untuk memastikan bahwa setiap temuan yang dihasilkan tidak hanya berdasarkan satu perspektif, tetapi didukung oleh bukti dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, kredibilitas hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah [1].
Proses tinjauan silang data ( crosstabulation ) menjadi langkah kunci untuk menemukan konsistensi di antara ketiga sumber data. Hasil observasi di kelas yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik tampak pasif dan minim inisiatif ternyata diperkuat oleh temuan wawancara. Para peserta didik terbuka mengakui kesulitan mereka dalam memulai ide atau “takut salah,” yang menjelaskan mengapa mereka cenderung pasif dan menunggu instruksi. Keterbatasan ini, yang awalnya hanya berupa pengamatan, kini memiliki penjelasan yang lebih dalam dari perspektif siswa itu sendiri. Hubungan timbal balik antara pengamatan dan pengakuan ini memberikan fondasi yang kuat bagi kesimpulan yang akan ditarik.
Kesulitan yang diutarakan peserta didik dalam wawancara, seperti kesulitan memilih diksi dan majas, tervalidasi kuat melalui analisis karya puisi mereka. Puisi-puisi tersebut visual dan tekstual menunjukkan penggunaan kata-kata yang sederhana dan minimnya majas, persis seperti yang mereka sampaikan secara lisan. Tidak ada kesenjangan antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan dalam karya mereka. Konsistensi ini membuktikan bahwa kesulitan tersebut adalah masalah nyata, bukan sekadar keluhan tanpa dasar. Ini menunjukkan bahwa temuan dari satu metode penelitian tidak berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat dan memvalidasi temuan dari metode lainnya, menciptakan gambaran yang utuh dan akurat.
Sinergi data juga terlihat dalam aspek teknis penulisan. Ketika peserta didik dalam wawancara mengaku bahwa “kalau harus sama rimanya, jadi susah” dan “kadang jadi maksain,” pengakuan ini diperkuat oleh analisis karya. Puisi-puisi mereka menunjukkan rima yang konsisten, tetapi seringkali terasa dipaksakan, mengorbankan kealamian kalimat demi memenuhi aturan rima. Keselarasan antara pengakuan subjektif dan bukti objektif ini mempertegas bahwa pemahaman teoritis tentang rima masih belum terintegrasi dengan baik dalam praktik mereka [1]. Hal ini menunjukkan adanya ketidakmampuan untuk mengaplikasikan konsep abstrak ke dalam karya nyata secara efektif.
Demikian pula, keterbatasan bimbingan guru yang terlihat dari observasi juga dijelaskan oleh guru sendiri saat wawancara. Guru mengakui kendala yang ia hadapi, seperti alokasi waktu yang terbatas dalam kurikulum dan tidak adanya rubrik penilaian yang spesifik untuk aspek kreativitas. Pengakuan ini memberikan konteks yang lebih luas terhadap apa yang diamati oleh peneliti di lapangan. Ini tidak hanya menegaskan temuan, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang berada di luar kendali peserta didik, yang secara langsung memengaruhi pengalaman belajar mereka. Proses ini memungkinkan peneliti untuk melihat fenomena dari berbagai sisi, mengungkap lapisan-lapisan kompleks yang tidak akan terlihat jika hanya menggunakan satu metode.
Berdasarkan sintesis data yang kuat dan konsisten ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan mendasar mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan menulis puisi peserta didik kelas V. Faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan membentuk sebuah ekosistem yang kompleks [1]. Mengidentifikasi faktor-faktor ini secara terperinci menjadi kunci untuk merancang intervensi atau strategi pembelajaran yang lebih efektif di masa depan. Kesimpulan yang ditarik ini merupakan puncak dari seluruh proses penelitian, di mana data dari berbagai sumber digabungkan untuk menghasilkan wawasan yang solid dan dapat dipertanggung jawabkan.
Pertama, keterbatasan kosa kata dan diksi merupakan hambatan mendasar yang memengaruhi kualitas puisi. Kurangnya perbendaharaan kata puitis dan ketidakmampuan memilih kata yang tepat untuk mengekspresikan ide secara indah sangat memengaruhi kualitas estetika puisi mereka. Puisi yang mereka hasilkan menjadi monoton dan kurang berkarakter, seperti yang terlihat dalam analisis karya. Masalah ini diperparah oleh minat baca yang rendah,rendahnya minat baca membatasi eksposur mereka terhadap berbagai gaya bahasa dan diksi yang dapat memperkaya tulisan mereka. Dengan demikian, masalah ini bukanlah sekadar masalah teknis, tetapi juga masalah kebiasaan dan lingkungan belajar [1].
Kedua, pemahaman unsur intrinsik puisi yang belum mendalam juga menjadi kendala. Meskipun telah diajarkan secara teoritis, pemahaman praktis peserta didik terhadap unsur-unsur seperti tema, rima, dan gaya bahasa masih terbatas. Mereka kesulitan mengaplikasikan konsep abstrak ke dalam karya nyata. Mereka mungkin tahu apa itu rima, tetapi tidak tahu bagaimana menciptakan rima yang mengalir dan tidak dipaksakan. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan keterampilan praktis, yang hanya bisa diatasi melalui latihan yang intensif dan bimbingan yang tepat.
Ketiga, kurangnya motivasi dan kepercayaan diri juga menjadi faktor krusial. Rasa cemas atau takut akan kesalahan saat menulis puisi sangat terlihat dari pengakuan mereka dalam wawancara. Mereka enggan untuk bereksperimen atau mengambil risiko kreatif karena takut dinilai salah. Hal ini menciptakan lingkaran setan: kurangnya kepercayaan diri menghambat inisiatif, dan minimnya inisiatif membuat mereka tidak berkembang. Umpan balik positif dan apresiasi dari guru, sangat penting untuk membangun kepercayaan diri ini. Dengan memberikan apresiasi, guru dapat mengubah persepsi siswa bahwa menulis puisi adalah hal yang sulit dan penuh kesalahan, menjadi kegiatan yang menyenangkan dan memuaskan [1].
Keempat, metode pembelajaran memainkan peran krusial dalam membentuk kemampuan mereka. Metode konvensional yang cenderung satu arah, seperti yang diamati dalam penelitian ini, kurang efektif dalam memicu kreativitas spontan siswa. Sebaliknya, metode yang inovatif dan partisipatif, seperti penggunaan media visual, teknik model berbasis proyek, terbukti lebih efektif dalam merangsang imajinasi dan motivasi peserta didik [1]. Penerapan teknologi digital juga dapat menarik minat mereka, namun tetap perlu diimbangi dengan pemahaman dasar unsur sastra agar mereka tidak hanya terfokus pada alat, tetapi juga pada esensi.
Figure 2. Gambar 2. Wawancara Guru
Figure 3. Gambar 3. Menjelas Materi Puisi
Figure 4. Gambar 4. Peserta Didik Menulis Puisi
Kelima, lingkungan pendukung merupakan fondasi yang sangat penting. Dukungan dari guru, teman sebaya, dan keluarga sangat berperan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peserta didik untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan menulis puisi mereka. Ketika peserta didik merasa didukung dan dihargai, mereka cenderung lebih berani untuk bereksperimen dan belajar dari kesalahan. Pentingnya lingkungan sosial dalam memfasilitasi proses belajar. Lingkungan yang positif tidak hanya mengurangi kecemasan, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat untuk terus berkarya [1].
Simpulan
Secara keseluruhan, temuan dari triangulasi metode menunjukkan bahwa hambatan utama dalam menulis puisi pada peserta didik kelas V berakar pada dua aspek fundamental: keterbatasan teknis dan kendala non-teknis. Secara teknis, masalah utama terletak pada penguasaan unsur-unsur esensial puisi. Peserta didik menunjukkan kesulitan signifikan dalam pemilihan diksi, di mana kosakata yang mereka gunakan cenderung lugas dan minim variasi, persis seperti yang mereka akui dalam wawancara. Selain itu, pemahaman mereka terhadap majas masih sangat dangkal, dengan penggunaan bahasa figuratif yang sangat minim. Meskipun beberapa mencoba menerapkan rima, hasilnya sering kali terasa dipaksakan, yang menunjukkan kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan kemampuan praktis. Keterbatasan teknis ini, yang terbukti secara konkret melalui analisis karya, adalah cerminan langsung dari pengakuan mereka sendiri akan kesulitan.
Namun, keterbatasan teknis tersebut tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor non-teknis yang berperan penting. Motivasi dan kepercayaan diri yang rendah menjadi kendala psikologis yang menghambat proses kreatif. Rasa takut salah, seperti yang diungkapkan dalam wawancara, membuat mereka enggan bereksperimen dengan ide atau bahasa yang lebih kompleks. Lingkungan belajar juga memegang peranan krusial; metode pembelajaran yang konvensional dan kurangnya bimbingan interaktif dari guru membuat mereka merasa kurang terdorong untuk berkreasi secara spontan. Terbatasnya minat baca, yang juga menjadi temuan penting, semakin memperburuk masalah ini karena membatasi eksposur mereka terhadap beragam diksi dan gaya bahasa.
Meski demikian, di balik semua tantangan ini, terlihat potensi kreatif yang cukup besar pada para peserta didik. Mereka mampu menuangkan pengamatan dan pengalaman pribadi ke dalam tulisan, menunjukkan bahwa ide dan imajinasi sebenarnya ada. Potensi ini adalah modal berharga yang perlu diasah. Dengan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan partisipatif, guru dapat menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan keterampilan praktis. Penggunaan metode yang memicu imajinasi, seperti teknik model berbasis proyek atau penggunaan media visual, dapat membantu mereka mengatasi blok kreatif.
Ucapan Terimakasih
Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi, memberikan dukungan, dan semangat yang tak ternilai dalam proses penyelesaian artikel ini. Perjalanan ini tidaklah mudah, namun berkat dedikasi, bimbingan, dan masukan berharga yang telah diberikan, artikel ini dapat terwujud dengan baik.Kami sangat menghargai setiap waktu dan upaya yang telah Anda curahkan. Kontribusi Anda, baik dalam bentuk ide, kritik membangun, maupun dukungan moral, telah menjadi pilar utama yang menyokong kami. Tanpa bantuan dan kepercayaan dari Anda, naskah ini hanyalah sebuah konsep yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Semoga apa yang telah kita kerjakan bersama ini dapat memberikan manfaat yang luas bagi para pembaca. Kami berharap, kolaborasi yang terjalin dengan indah ini tidak berakhir di sini, melainkan dapat terus berlanjut di masa mendatang dalam karya-karya lain yang lebih baik.
Sekali lagi, terima kasih yang tulus dari lubuk hati terdalam.