Pendahuluan
Pendidikan pada abad ke-21 terutama pada pembelajaran IPA di sekolah dasar seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi siswa karena perlu memahami banyak konsep abstrak. Peserta didik diminta untuk memahami berbagai fenomena alam dan konsep ilmiah, seperti sifat materi, perubahan energi, dan siklus hidup makhluk hidup. Konsepkonsep ini seringkali sulit dijelaskan dengan cara konvensional. [1]. sehingga peserta didik kesulitan menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah dasar, siswa sering kesulitan memahami konsep IPA karena banyak materi yang abstrak dan sulit dipahami. Mereka seringkali hanya menerima penjelasan secara lisan atau hafalan jika mereka tidak memiliki media yang memadai. Karena keadaan ini, siswa sulit mengaitkan teori dengan situasi dunia nyata [2]. Diharapkan siswa memahami konsep-konsep dalam mata pelajaran ipa. Tidak hanya mereka harus mampu menghafal materi tanpa memahaminya, tetapi mereka juga harus mampu mengulas kembali materi dalam bahasa mereka sendiri dan menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari. Jika siswa tidak memahami konsep yang diajarkan, mereka tidak akan dapat mencapai tujuan pembelajaran. Siswa mungkin kurang memahami konsep ipa karena beberapa faktor. Akibatnya, konsep abstrak membutuhkan alat pembelajaran yang mudah digunakan. Media SBBC adalah contohnya. Dianggap dapat membantu siswa mengaitkan teori dengan fenomena dunia nyata dengan menggunakan media konkret seperti model visual atau alat peraga.. Dampaknya materi yang diberikan tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga lebih mudah diingat dan digunakan.
Pemahaman konsep merupakan kemampuan untuk menerima, menyerap, dan mengerti informasi dan materi yang diperoleh melalui serangkaian peristiwa atau kejadian yang dapat dilihat dan didengar. Kemampuan ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari [3]. Pemahaman konsep ipa didefinisikan sebagai keampuan menjelasan
Copyright © Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License
(CC BY). The use, distribution or reproduction in other forums is permitted, provided the original author(s) and the copyright owner(s) are credited and that the original publication in this journal is cited, in accordance with accepted academic practice. No use, distribution or reproduction is permitted which does not comply with these terms.
secara lengkap dan tepat yang diperoleh melalui pengamatan atau eksperimen langsung. Pemahaman konsep ipa artinya dapat menyampaikan fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori ipa secara menyeluruh [4].
Pemahaman konsep sains sejak anak sekolah dasar diharapkan meletakkan fondasi yang kuat untuk melanjutkan pendidikan sains ke jenjang yang lebih tinggi. Pemahaman dasar ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan minat dalam sains, yang akan mendorong mereka untuk menjadi lebih kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah sehari-hari [5]. Diharapkan peserta didik tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami dan menggunakan konsep dalam kehidupan nyata dengan bantuan pendekatan pembelajaran yang lebih variatif dan interaktif, seperti konflik kognitif dan inkuiri terbimbing. Diharapkan lebih banyak siswa mencapai kompetensi minimum dan lebih sedikit siswa dengan nilai di bawah rata-rata.
Menurut penelitian sebelumnya peningkatan pemahamman konsep didukung dengan adanya media sebagai penungjang keberhasilan dalam pembelajaran. Tentunya peningkatan pemahaman pada peserta didik tentang konsep sains di sekolah dasar sangat penting untuk pendidikan sains di masa depan [6]. Banyak metode pengajaran telah ditunjukkan dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep. Siswa kurang terlibat dalam mengubah apa yang mereka ketahui menjadi pemahaman. Siswa hanya diminta untuk merangkum dan menyelesaikan tugas di rumah tanpa diperlukan pemahaman yang mendalam tentang materi. Selain itu, guru kurang menggunakan alat belajar, sehingga pembelajaran tetap menggunakan metode konvensional. Siswa menghadapi kesulitan untuk memahami materi, terutama ketika materi IPA diajarkan. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelas empat menemukan bahwa hanya 10,81% dari peserta mendapatkan nilai rata-rata pada tes pemahaman konsep, dan 45,95% dari peserta mendapatkan nilai di bawah rata-rata [7]. Beberapa faktor yang memengaruhi bagaimana siswa memahami ide-ide tertentu, termasuk pengetahuan mereka tentang aktivitas belajar, metode pengajaran yang digunakan, dan ketersediaan fasilitas pendukung. menyarankan untuk mengatasi masalah ini dengan mempertimbangkan alokasi waktu, mengakui pemahaman siswa sebelumnya, dan menggunakan ujian dua tingkat di luar mata pelajaran tertentu.
Untuk meningkatkan pemahaman peserta didik tentang konsep sains, sangat penting untuk memberikan mereka pengalaman langsung yang memungkinkan mereka untuk membuat dan mempelajari konsep sains secara mandiri. Pembelajaran langsung mirip dengan ikut serta dalam percobaan yang sudah direncanakan dan menggunakan teori para ahli untuk membuat eksperimen baru [8]. Penggunaan media pembelajaran yang menarik, seperti simulasi digital, alat peraga, dan eksperimen sederhana yang dapat dilakukan di kelas, juga membantu menghubungkan teori dengan praktik. Dengan mengajarkan mereka berpikir kritis, memecahkan masalah, dan bekerja sama dengan temanteman, metode ini membantu siswa memahami konsep. Diharapkan bahwa peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang ide-ide sains dan menumbuhkan minat dan kepercayaan diri mereka terhadap bidang sains melalui latihan yang bervariasi dan berkelanjutan [9].
Salah satu capaian materi yang harus dipahami oleh peserta didik yakni materi sistem peredaran darah. Dalam kurikulum merdeka, materi sistem peredaran darah tidak hanya menuntut peserta didik untuk menghafal informasi tetapi juga memahami cara peredaran darah berfungsi untuk melakukan sirkulasi udara yang mengandung oksigen dan karbondioksida [10]. Hal ini memungkinkan siswa mempelajari lebih banyak tentang sistem peredaran darah dan fungsi darah pada tubuh manusia. Mereka juga dapat mengaitkan konsep-konsep ini dengan kehidupan sehari-hari melalui proyek atau fenomena. Misalnya, peserta didik diharapkan dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan darah dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan berolahraga secara teratur. [11].
Namun, permasalahan yang sering ditemui pada sekolah yakni mengenai pemahaman konsep ipa yang masih rendah. Salah satu faktor yang mendasari rendahnya pemahaman ipa disekolah dasar yakni karena pendekatan pembelajaran yang cenderung monoton dan kurang variatif, sehingga peserta didik sulit memahami konsep-konsep yang diajarkan [12]. Karena siswa masih menggunakan media buku dan lainnya selama proses pembelajaran, mereka tidak memahami konsep ipa tentang materi sistem peredaran darah. Hal tersebut menjadi kurang efektif dalam membangun pemahaman mendalam tentang konsep ipa. Pada sekolah dasar kelas 5, peserta didik juga menghadapi kesulitan dalam memahami konsep materi sistem peredaran darah karena keterbatasan media dan sumber belajar. Akibatnya, untuk meningkatkan pemahaman konsep ipa di tingkat sekolah dasar, pembelajaran harus dibuat lebih menarik dan mudah dipahami [13].
Salah satu kunci keberhasilan proses pembelajaran dengan memastikan pemahaman konsep, terutama dalam mata pelajaran ipa. dimana siswa harus memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan teori dan praktik Untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep ipa, banyak media pembelajaran baru telah dibuat. SBBC adalah salah satunya, yang diharapkan dapat membantu siswa memahami konsep ipa dengan cara yang lebih visual, interaktif, dan menarik. Untuk mengetahui pengaruh media ini, pengukuran dan analisis harus dilakukan untuk menentukan seberapa baik pemahaman siswa yang menggunakan media ini dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan pendekatan pembelajaran konvensional [14].
Media Smart Box merupakan alat pembelajaran interaktif yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman konsep melalui pengalaman langsung dan visualisasi. Media ini dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman anak usia 5-6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Smart Box dapat meningkatkan perkembangan pemahaman konsep anak secara signifikan, dengan nilai sebelum penggunaan media sebesar 41% dan meningkat menjadi 80,4% setelah penggunaan.Penggunaan media konkret smart box memungkinkan guru untuk menyajikan materi pelajaran secara lebih nyata dan mendalam, dengan visualisasi yang memudahkan pemahaman konsep ipa [15]. Selain itu, SBBC memungkinkan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan unik peserta didik. Konsep ini tidak hanya memperkaya metode pengajaran, tetapi juga mendorong peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif, yang menghasilkan hasil pembelajaran yang lebih baik dan lebih menarik.
Media SBBC, sebagai media konkret merupakan alat yang dirancang untuk membawa elemen-elemen pembelajaran yang interaktif dan visual secara langsung ke dalam kelas, memungkinkan siswa untuk berinteraksi langsung dengan materi yang disajikan [16]. Berbeda dengan pengajaran konvensional, yang biasanya bergantung pada penjelasan lisan atau tulisan di papan tulis. SBBC memberikan siswa pengalaman langsung dan visualisasi yang lebih mendalam tentang konsep yang kompleks seperti perubahan energi, siklus hidup, atau proses ilmiah lainnya. Mereka menggunakan objek fisik, animasi, atau simulasi langsung yang relevan dengan topik pembelajaran IPA.
Selain itu, SBBC dilengkapi dengan fitur yang dapat diadaptasi, misalnya alat peraga yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau minat khusus siswa, sehingga pembelajaran lebih bersifat personal. Dengan demikian, smart box memberikan peluang bagi guru untuk melakukan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual [17]. Siswa juga diajak untuk melakukan eksplorasi mandiri dan kolaborasi dengan teman-teman sekelasnya melalui percobaan atau simulasi yang ada dalam smartbox. Hasilnya, proses pembelajaran menjadi lebih dinamis, meningkatkan motivasi siswa, dan mendorong mereka untuk lebih kritis serta kreatif dalam memahami konsep-konsep IPA yang diajarkan [18].
Peserta didik dalam proses pemahaman konsep ipa tidak hanya membutuhkan metode pembelajaran yang sesuai. Media pembelajaran yang tepat juga dibutuhkan peserta didik dalam proses pembelajaran [19]. Dalam materi sistem peredaran darah, peserta didik membutuhkan gambaran nyata bagaimana aliran darah mengalir melalui tubuh manusia. Media pembelajaran yang disebut "kotak peredaran darah pintar" memungkinkan peserta didik melihat sistem peredaran darah yang biasanya hanya dapat dilihat melalui gambar yang dapat dilihat kasat mata. Diharapkan kotak ini akan membantu peserta didik memahami konsep sistem peredaran darah manusia. Dengan menggunakan media pembelajaran smartbox yang dapat dimanipulasi secara langsung dan menyajikan materi secara visual, membantu siswa lebih terlibat dalam pembelajaran, memperkuat konsep ipa, dan meningkatkan pemahaman mereka tentang materi, sehingga meningkatkan proses belajar dan hasil belajar peserta didik. [20].
Berdasarkan uraian yang telah diberikan di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai bagaimana media SBBC terhadap pemahaman konsep ipa. Peserta didik diharapkan dapat mengamati dan memahami sistem rangka manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh media smart box dalam meningkatkan pemahaman konsep ipa peserta didik kelas 5 tentang sistem rangka manusia di sekolah dasar dibandingkan dengan pendekatan pengajaran konvensional.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif eksperimen dengan jenis Quasi Eksperiment dengan menggunakan satu kelompok eksperimen (experimental group) dan kelompok yang dikontrol (controlled group), untuk melihat perbedaan keterampilan membaca pemahaman siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka media SBBC terhadap variabel dependen yaitu pemahaman konsep ilmu pengetahuan alam. Desain penelitian ini yaitu pretest-posttest control group design. Kelompok eksperimen akan diterapkan media SBBC, sedangkan untuk kelompok kontrol tidak diterapkan media SBBC tetapi media 2D. menurut Sugiyono, (2016: 79) dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
| Kelompok | Pretest | Perlakuan | Posttest |
| Eksperimen | O1 | X1 | O2 |
| Kontrol | O3 | X2 | O4 |
Keterangan:
O 1 : Pretest untuk kelompok eksperimen X 2 : Perlakuan menggunakan pembelajaran 2D
O 2 : Posttest untuk kelompok eksperimen O 3 : Pretest untuk kelompok kontrol
X 1 : Perlakuan menggunakan video Pembelajaran O 4 : Posttest untuk kelompok control
Jenis penelitian menggunakan eksperimental karena tujuan utamanya untuk menemukan pengaruh antara variabel independen dan dependen secara lebih akurat dan tepat. Dengan membagi dua kelompok yakni kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memungkinkan peneliti untuk secara lebih objektif membandingkan hasil antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.Pretest memungkinkan peneliti untuk menilai kondisi awal variabel dependen sebelum adanya penerapan media pembelajaran [21]. Sementara posttest digunakan untuk menilai perubahan yang terjadi setelah penerapan media pembelajaran. Jika hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen berbeda signifikan dengan hasil kelompok kontrol, maka perubahan tersebut dapat dikatakan bahwa penerapan media SBBC berpengaruh terhadap pemahaman konsep ipa.
Penelitian ini dilaksanakan di MI Sunan Ampel Tanjekwagir, yang terdiri dari 30 siswa di kelas 5 yang terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas 5A dan 5B. Sampel probabilitas 15 siswa dari kelas A dan 15 siswa dari kelas B digunakan untuk memilih sampel untuk kelompok eksperimen dan kontrol. Metode ini memastikan bahwa setiap siswa dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Semua siswa kelas 5 dibagi menjadi kelompok dan diundi secara acak untuk kelompok eksperimen dan kontrol.Random sampling digunakan dalam desain ini untuk menentukan subjek penelitian dengan memastikan bahwa setiap subjek memiliki peluang yang sama untuk masuk ke dalam kelompok eksperimen atau kontrol Ini dilakukan untuk menjaga validitas hasil penelitian dan memastikan bahwa perbedaan hasil antara kedua kelompok benar-benar disebabkan oleh penerapan media SBBC.
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes soal berupa pilihan ganda. Tes soal digunakan untuk mengukur pemahaman konsep siswa tentang media SBBC. Soal tes yang digunakan untuk pengumpulan data terdiri dari pretest dan posttest, yang diberikan kepada seluruh siswa pada awal penelitian untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap konsep ipa sebelum intervensi diberikan. Kelompok eksperimen menerima pembelajaran SBBC, dan kelompok kontrol menggunakan metode konvensional. Setelah itu, posttest diberikan kepada kedua kelompok untuk mengukur sejauh mana peningkatan pemahaman siswa setelah intervensi. Variabel bebas (X) adalah variabel media SBBC, variabel terikatnya (Y) pemahaman konsep ipa. Indikator dalam penelitian ini terdiri dari indikator pemahaman konsep meliputi menafsirkan, mencontohkan, menklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan dan menjelaskan.
Teknik pengumpulan data menggunakan instrument penelitian berupa instrumen tes dan lembar observasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes berupa pilihan ganda yang sudah divalidasikan oleh para ahli materi dan ahli media. berkaitan dengan pemahaman konsep IPA tentang penerapan media SSBC dengan menafsirkan, mencontohkan, menklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, menjelaskan [22].
Dalam penelitian ini teknik analisis yang digunakan adalah statistika uji prasyarat statistik Uji prasyarat yang pertama adalah uji normalitas yang bertujuan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak.Uji normalitas adalah uji prasyarat pertama yang dimaksudkan untuk menentukan apakah data berdistribusi normal. Karena jumlah sampel dalam masing-masing kelompok kurang dari 50 siswa, uji ini menggunakan Shapiro–Wilk [23]. Untuk kelas eksperimen dan kontrol, skor pretest, posttest. Menurut kriteria pengambilan keputusan, data memiliki distribusi normal jika nilai signifikansi (Sig) lebih dari 0,05, dan jika nilai signifikansi kurang dari 0,05, maka data tersebut tidak memiliki distribusi normal Selanjutnya dilakukan uji homogenitas varians untuk mengetahui apakah varians data antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol bersifat sama atau berbeda secara signifikan.
Uji ini menggunakan Levene’s Test dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05). Apabila hasil uji menunjukkan nilai Sig. > 0,05, maka data dianggap homogen sehingga perbedaan hasil belajar kedua kelompok dapat dibandingkan secara adil. Namun, apabila nilai Sig. ≤ 0,05,. Pretest dan posttest dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam penerapan media pembelajaran. Pretest diberikan kepada peserta didik untuk mengetahui kondisi awal kemampuan pemahaman konsep ipa sedangkan posttest diberikan agar dapat memberikan gambaran keberhasilan setelah penerapan media pembelajaran [24]. Ketika terdapat perubahan yang signifikan terjadi dalam pemahaman konsep pemahaman ilmu pengetahuan alam pada kelompok eksperimen peserta didik maka dapat dikatakan bahwa hasil eksperimen berpengaruh. Untuk mengetahui apakah hasil berdistribusi normal atau tidak maka perlu dilakukan uji normalitas dengan menggunakan IBM SPSS Statistika 25 [25].dalam penelitian ini uji soal telah saya lakukan pada MI Amanatul Izzah cangkring krembung. Hasil uji soal sudah dianalisis dan diuji oleh para ahli media dan materi. Sehingga uji soal tes dapat digunakan untuk penelitian.
Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui distribusi data dari hasil belajar siswa. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk Test dengan kriteria pengujian pada signifikansi > 0.05, maka data penelitian berdistribusi normal uji homogenitas varians dengan melakukan perbandingan varians terbesar dengan varians terkecil dilakukan dengan cara membandingkan dua buah variabel dari variabel penelitian. Pada bagian Based on Mean diperoleh missal nilai signifikansi (Sig) sebesar 0.330. Hal tersebut menunjukkan bahwa P = 0.330 > 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varians dari kelas eksperimen dan kelas control. uji.Paired sampel t-Test merupakan uji beda dua sampel berpasangan. Sampel berpasangan merupakan subjek yang sama, tapi mengalami perlakuan yang berbeda. Model uji beda ini digunakan untuk menganalisis model penelitian sebelum dan sesudah. Menurut Widiyanto (2013:35), paired sample t-test merupakan salah satu metode pengujian yang digunakan untuk mengkaji keefektifan perlakuan, ditandai adanya perbedaan rata-rata sebelum dan rata-rata sesudah diberikan perlakuan.Data skor yang telah dianalisis kemudian dikategorikan menjadi skor tinggi, sedang dan rendah sesuai dengan hasil perolehan skor rata-rata siswa setelah melakukan eksperimen dengan media SSBC. Keterangan tinggi – rendah [26].
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media SBBC terhadap pemahaman konsep Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada siswa sekolah dasar. Sampel penelitian adalah siswa kelas V dari dua kelas dasar memiliki karakteristik serupa. Penelitian menggunakan metode eksperimen langsung dengan desain pretest-posttest control group. Kelas eksperimen diberikan pembelajaran dengan menggunakan media SBBC, sedangkan kelas kontrol menggunakan media 2D. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda sebanyak 15 soal, yang telah melalui proses validasi isi oleh ahli materi dan ahli media.
Figure 1. Tabel 2.1 Hasil Pretes dan Posttest kelas eksperimen
Figure 2. Tabel 2.2 Hasil pretest dan posttest kelas kontrol
Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai dikelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol, nilai di kelas eksperimen bisa mencapai 15 sementara di kelas kontrol tidak bisa oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa media SBBC berpengaruh untuk meningkatkan pemahaman konsep dan rata-rata pretest pada kelas eksperimen adalah 6,26 sedangkan nilai posttest meningkat menjadi 12,6. Sementara itu, pada kelas kontrol, nilai rata-rata pretest adalah 4,4 dan meningkat menjadi 7,66 pada posttest. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji hipotesis (uji normality, uji homogenitas, uji hipotesis paired sampel t test).menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest di kelas yang mendapatkan perlakuan media SBBC.
Test of Normality
| Shapiro-wilk | ||||
| Pemahaman konsep | Kelas | Statistic | df | Sig. |
| Pre-Test Eksperimen | .872 | 15 | .037 | |
| Post-Test Eksperimen | .924 | 15 | .218 | |
| Pre-Test Kontrol | .883 | 15 | .052 | |
| Post-Test Kontrol | .891 | 15 | .070 |
Berdasarkan hasil analisis uji normalitas yang terdapat pada tabel Pada bagian uji Shapiro-Wilk diperoleh nilai signifikasi (Sig) pada post-test kelas eksperimen sebesar 0.218 sedangkan nilai signifikasi (Sig) pada post-test kelas kontrol sebesar 0.070. Uji normalitas pada SPSS 25 dikatakan berdistribusi normal jika nilai signifikasi > 0.05. dari table data berdistribusi normal karena nilai Sig. pada kelas eksperimen 0.218 > 0.05 dan nilai Sig. pada kelas kontrol 0.070 > 0.05 jadi dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal.
Test of Homogeneity of Variance
| Levene Statistic | df1 | df2 | Sig. | ||
| Pemahaman Konsep | Based on Mean | .565 | 1 | 28 | .458 |
| Based on Median | .529 | 1 | 28 | .473 | |
| Based on Median and with adjusted df | .529 | 1 | 27.562 | .473 | |
| Based on trimmed mean | .611 | 1 | 28 | .441 |
Berdasarkan hasil analisis Test of Homogeneity of Variances yang terdapat pada tabel. Pada bagian Based on Mean diperoleh nilai signifikansi (Sig) sebesar 0.458. Hal tersebut menunjukkan bahwa P = 0.458 > 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varians dari kelas eksperimen dan kelas kontrol. Selain itu, terbukti bahwa penggunaan media memiliki kemampuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Misalnya, media SBBC dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dan membuat mereka lebih aktif dan fokus. Karena pemahaman konsep tidak hanya diperoleh dari mendengarkan, tetapi juga melalui aktivitas mental seperti mengaitkan, mengklasifikasi, dan menyimpulkan informasi yang dipelajari, keterlibatan aktif ini sangat penting untuk membangun pemahaman konsep. Media berfungsi sebagai penghubung antara pelajaran dan struktur kognitif siswa [27]. Paired Samples Test
| Mean | Std. Deviation | Paired Differences Std. Error Mean | 95% Confidence Interval of the Difference | t | df | Sig. (2tailed) | |||
| Lower | Upper | ||||||||
| Pair 1 | Pretest - Postest | -6.333 | 1.799 | .465 | -7.330 | -5.337 | - 13.631 | 14 | .000 |
Berdasarkan hasil uji Independent Samples T-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh nilai sig 0.00, hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara posttest kelas eksperimen dan kontrol. Hasil tersebut menunjukkan bahwa P < 0.05 yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh media SBBC terhadap pemahaman konsep materi sistem peredaran darah manusia kelas V MI sunan ampel tanjekwagir.
Saat proses pembelajaran berlangsung di kelompok eksperimen, peserta didik diberikan materi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik disajikan sebuah pernyataan dan diminta untuk menjelaskan gangguan pada sistem peredaran darah. menjelaskan fungsi organ pada sistem peredaran darah yang sudah disediakan [28]. Pembelajaran berlangsung aktif, peserta didik antusias belajar pemahaman konsep ipa menggunakan media yang telah disediakan yakni SBBC. Selain pada saat pembelajaran berlangsung, pada saat proses pengerjaan soal posttest peserta didik pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan.
Media SBBC memberikan akses kepada siswa terhadap materi ajar yang disajikan dalam box yang didalamnya terdapat video,gambar dan hal yang baru bagi mereka. Penyajian materi yang menarik secara visual ini membantu siswa memahami konsep abstrak dalam IPA, seperti sistem peredaran darah,fungsi organ pada sistem peredaran darah dan gangguan pada sistem peredaran darah. Hal tersebut menumbuhkan rasa ingin tahu siswa tentang sistem peredaran darah pada manusia [29]. Selain video dapat mengoptimalkan partisipasi siswa dalam proses belajar(Kurniawan & Triharsiwi, 2017: 25) video juga dapat mengembangkan pikiran dan pendapat siswa (Munadi, 2013: 127).
Selain itu, karakteristik SBBC yang memungkinkan pembelajaran berbasis mandiri dan berbasis kelompok juga mendukung perbedaan gaya belajar siswa. Siswa yang lebih suka belajar dengan melihat gambar atau melakukan simulasi akan lebih terbantu. Sementara itu, siswa yang lebih suka belajar dengan cara memikirkan kembali materi dapat mengulang materi kapan saja sesuai dengan kebutuhan mereka [30]. Media SBBC dapat digunakan untuk materi sistem peredaran darah siswa kelas lima. Peserta didik dapat melihat video dengan menscan barcode melalui media pembelajaran smartbox. Selain itu, media pembelajaran SBBC sangat menarik bagi siswa, sehingga mereka dapat menggunakannya untuk mengikuti instruksi guru dan mempelajari fungsi organ dan gejala penyakit peredaran darah. Media ini juga membantu guru menyampaikan materi dan melacak perkembangan belajar siswa. [31].
Meskipun demikian, pengaruh penggunaan media SBBC tetap dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur teknologi dan kemampuan digital guru maupun siswa. Di beberapa kasus, kendala seperti keterbatasan perangkat, jaringan internet, atau rendahnya literasi digital dapat menjadi hambatan. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi SBBC perlu didukung oleh pelatihan guru, penyediaan fasilitas yang memadai, serta dukungan dari pihak sekolah dan orang tua. Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali ciptaan Allah SWT. Mengenai hal tersebut peneliti menyadari bahwa keterbatasan tersebut antara lain penelitian ini hanya dilaksanakan di satu sekolah, sehingga jika diterapkan pada sekolah lain dengan kemampuan peserta didik yang berbeda perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu. Oleh karena itu, temuan yang dihasilkan mungkin sulit untuk digeneralisasi ke semua peserta didik kelas 5 MI secara keseluruhan. Selain itu, penelitian ini dilakuakan dengan keterbatasan waktu sehingga penelitian yang akan dilakukan selanjutnya diharapkan memaksimalkan waktu penelitian.
Simpulan
Berdasarkan Hasil deskripsi data pengujian hipotesis penelititan maka kesimpulannya adalah Pemahaman konsep IPA siswa yang diajarkan dengan menggunakan media pembelajaran SBBC lebih tinggi dibandingkan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran media 2D. Dari hasil perhitungan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh nilai sig 0.00, hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara posttest kelas eksperimen dan kontrol. Hasil tersebut menunjukkan bahwa P < 0.05 yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima, Dengan demikian sesuai dengan pengajuan hipotesis, untuk uji T-test data postest dapat disimpulkan bahwa Ha diterima atau dapat dikatakan terdapat perbedaan Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas V antara kelas eksperimen yang diberi perlakuan media pembelajaran berupa SBBC dengan siswa kelas kontrol yang menggunakan media pembelajaran 2D diperoleh rata-rata kelas sebesar 7,66 dan dengan menggunakan media pembelajaran SBBC diperoleh rata rata sebesar 12,6. Maka dapat disimpulkan bahwa, terdapat Pengaruh Media SBBC Terhadap Pemahaman Konsep IPA diajarkan pada penelitian ini adalah materi tentang sistem peredaran darah pada kelas V di MI sunan ampel tanjekwagir.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua, dosen pembimbing, sahabat yang senantiasa membersamai pembuatan artikel, seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo serta teman-teman yang telah membantu dan mensupport sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik dan sukses. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, Guru, dan khususnya peserta didik kelas 5 MI sunan ampel tanjekwagir yang bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini.