Pendahuluan
Anak usia dini berada pada periode kritis karena merupakan waktu yang paling penting untuk pengembangan dasar-dasar bahasa, konsep diri, emosi diri, seni, moral, dan nilai-nilai agama [1]. Dalam beberapa tahun pertama kehidupannya, anak melewati beberapa fase perkembangan dan pertumbuhan. Selama periode ini, otak berkembang dengan optimal, begitu pula dengan perkembangan fisik, munculnya perilaku, sikap, kepribadian, dan emosi [2]. Karena perkembangannya yang cepat, anak-anak di tahun-tahun emas mereka membutuhkan stimulasi yang tepat dari keluarga, guru, dan orang dewasa lainnya di lingkungan terdekat mereka. Anak-anak mulai belajar bagaimana bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri di zaman keemasan. Anak-anak belajar, membentuk persahabatan yang kuat dengan anak-anak lain, bercanda, dan mengembangkan kemampuan untuk berempati dengan orang lain. Anak- anak belajar untuk pertama kalinya selama masa keemasan bahwa orang yang berbeda memiliki respons emosional
yang berbeda [1]. Manusia selalu tumbuh dan berkembang secara signifikan lebih cepat dan mendasar di tahun-tahun awal mereka, dan ini juga berlaku pada anak usia dini. Stimulasi yang diterima anak sejak usia dini berdampak signifikan pada kualitas perkembangannya di masa depan [3].
Untuk memastikan bahwa periode emas ini berlangsung selama mungkin, stimulasi yang tepat harus diberikan. Anak-anak menerima kegiatan belajar melalui pendidikan anak usia dini yang dimasukkan ke dalam kegiatan bermain dengan tujuan memaksimalkan kecerdasan mereka di semua bidang [4]. Dalam hubungan pertemanan ini, anak ingin diterima oleh temannya, dan berusaha semaksimal mungkin. Anak mulai memahami bahwa tujuan dari persahabatan adalah untuk berbagi dan memberikan dukungan, bergiliran, serta mengembangkan berbagai keterampilan sosial. Anak juga mulai memahami mana yang benar dan mana yang salah. Interaksi anak dengan teman-temannya yang meningkat melalui aktivitas bermain di sekolah dan di rumah, dapat membantunya memahami bagaimana bersikap kooperatif dan toleran, menyesuaikan diri, dan menghormati aturan-aturan yang ada di sekolah, di rumah, dan diterapkan dalam lingkungan masyarakat [5].
Menurut para ahli, tahun-tahun awal anak adalah waktu ketika kecerdasan mereka berkembang paling cepat. Saat membahas sikap atau hubungan interpersonal, anak-anak perlu memiliki kecerdasan emosional, yang harus dipupuk sejak usia dini [6]. Perkembangan anak, terutama kecerdasan emosional mereka, terjadi dengan cepat pada usia ini. Menurut penilaian berbasis kemampuan, kecerdasan emosional, atau EQ, kadang-kadang didefinisikan sebagai bagian dari kecerdasan sosial yang mencakup kapasitas untuk mengenali, memahami, dan memanfaatkan emosi untuk mendukung proses berpikir [7]. Kecerdasan adalah representasi dari kemampuan rasional individu yang terdiri dari beberapa elemen, yaitu kemampuan untuk mengarahkan pemikiran atau mengatur tindakan serta kemampuan untuk mengubah atau mengevaluasi diri sendiri. Emosi, di sisi lain, merupakan kondisi organisme yang tidak tenang, termasuk perubahan mendalam dan sadar yang menyertai perubahan perilaku [8].
Kemampuan untuk memoderasi impuls dan menghindari kesenangan yang berlebihan, mendorong diri sendiri dan mentolerir frustrasi, mengatur suasana hati, dan mencegah stres melumpuhkan kapasitas seseorang untuk berpikir, empati, dan berdoa adalah contoh kecerdasan emosional. Mengenali emosi sendiri, mengendalikannya, menginspirasi diri sendiri, mengidentifikasi perasaan orang lain, dan memupuk hubungan dengan orang lain adalah komponen dari kecerdasan emosional [7]. Secara keseluruhan, Kemampuan untuk memahami, mengidentifikasi, merasakan, mengendalikan, dan membimbing emosi sendiri dan orang lain serta menerapkannya dalam konteks sosial dan pribadi dikenal sebagai kecerdasan emosional. Untuk memaksimalkan energi, informasi, hubungan, dan pengaruh dalam mencapai tujuan yang diinginkan, itu juga memerlukan memiliki kapasitas untuk memahami, mengendalikan, dan membimbing motivasi sendiri dan orang lain [9].
Emosi yang dimiliki anak berpengaruh pada kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya, biasanya setiap orang atau masing-masing anak akan mempunyai emosi yang berbeda-beda sesuai dengan suasana hati dan dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh sepanjang perkembangannya. Pada tahap ini diharapkan anak usia dini memiliki kecerdasan emosi untuk kemampuan dia dalam mengenali, mengolah, dan mengontrol emosi sehingga anak berkemampuan untuk memberikan tanggapan yang baik dalam setiap kondisi yang memicu timbulnya emosi. Fungsi emosi bagi anak sangat berperan penting bagi dirinya karena membantu anak dalam penyesuaian terhadap lingkungannya, sehingga seorang anak perlu mendapat bimbingan, arahan serta stimulus agar pertumbuhan dan perkembangan anak mencapai titik kemampuan yang optimal [10].
Tingkat capaian perkembangan anak (indikator) emosional anak usia 4-5 tahun yang terdapat pada permendikbud
137 tahun 2014 meliputi kesadaran diri terdiri dari, menunjukkan kemandirian dalam pemilihan aktivitas, pengendalian emosi, kepercayaan diri, pengetahuan tentang aturan dan disiplin, ketekunan (tidak mudah menyerah), dan kebanggaan pada pekerjaan sendiri. Menjauhkan diri dari lingkungan, menghargai kualitas orang lain, dan bersedia memberi, menolong teman, dan mendukung teman adalah komponen dari rasa tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain [11]. Anak-anak yang mempunyai kecerdasan emosi tinggi berarti memiliki keterampilan yang terdapat dalam elemen-elemen kecerdasan emosional, yaitu kemampuan untuk mengendalikan dan mengarahkan emosi, berempati, mempertahankan hubungan sosial, memotivasi diri sendiri, mandiri, bertanggung jawab, mengelola stres, optimis dan memecahkan masalah. Komponen kecerdasan emosional inilah yang mendukung kesuksesan anak di masa depan, ketika mereka sudah dewasa [8]. Kecerdasan emosional pada anak mirip dengan aspek perkembangan lain yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang dewasa. Kecerdasan emosional perlu ditanamkan dalam diri anak sejak ia dilahirkan. Anak harus belajar untuk memahami dirinya sendiri, mengenali emosi, dan mengerti perasaan orang lain agar dapat berkembang dalam masyarakat [12].
Peran guru dalam membangun kecerdasan emosional pada anak sangatlah penting dalam pendidikan. Guru bukan hanya mengajar materi akademik, tetapi juga berperan sebagai model dan fasilitator dalam pembelajaran kecerdasan emosional [8]. Guru berperan sebagai contoh bagi anak-anak dalam mengelola emosi mereka sendiri. Dengan menunjukkan cara yang positif dan sehat dalam menanggapi stres, kekecewaan, atau konflik, guru membantu anak- anak belajar bahwa emosi normal dan dapat diatasi dengan cara yang konstruktif. Sikap guru yang tenang dalam menghadapi situasi sulit dapat mengajarkan anak-anak untuk tidak terburu-buru dalam menanggapi perasaan mereka sendiri. Guru juga dapat menggunakan kurikulum yang terstruktur untuk mengajarkan keterampilan kecerdasan
emosional. Ini bisa mencakup kegiatan seperti refleksi diri, latihan pernapasan untuk menenangkan diri, dan berbagai teknik komunikasi yang memperkuat hubungan sosial positif di antara siswa. Dengan mendidik anak-anak tentang pentingnya empati, kerjasama, dan pengambilan perspektif, guru membantu mereka menjadi individu yang lebih terhubung secara emosional dengan orang lain. Selain itu, melalui pendekatan yang inklusif dan mendukung, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak merasa diterima dan didengar. Ini menciptakan landasan yang kokoh bagi perkembangan kecerdasan emosional, karena anak-anak yang merasa aman dan dihargai cenderung lebih mampu mengelola emosi mereka dengan baik [13].
Peran guru juga mencakup membangun hubungan positif dengan anak-anak. Ketika guru menciptakan ikatan yang kuat dengan siswa, anak-anak merasa lebih aman untuk mengekspresikan emosi mereka. Ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat di mana anak-anak merasa diterima dan dihargai. Hal ini menekankan bahwa interaksi positif antara guru dan siswa sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan emosional anak [14]. Di samping itu, guru perlu menerapkan metode pembelajaran yang tepat untuk mendukung perkembangan kecerdasan emosional. Metode ini harus mencakup pembelajaran aktif yang melibatkan anak-anak dalam proses belajar, sehingga mereka dapat belajar dari pengalaman langsung. Misalnya, melalui kegiatan bermain peran atau kerja kelompok, anak- anak dapat berlatih keterampilan sosial dan belajar bagaimana berinteraksi dengan baik dengan teman-teman mereka. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran aktif dapat meningkatkan kecerdasan emosional anak [15].
Titik fokus kecerdasan emosional anak yang memerlukan peran guru meliputi beberapa aspek penting yang dapat membangun kecerdasan emosional anak yaitu, pengembangan kesadaran diri anak-anak perlu belajar mengenali dan memahami emosi mereka sendiri. Guru berperan dalam membantu anak-anak mengidentifikasi perasaan mereka, baik positif maupun negatif. Pengelolaan emosi selain mengenali emosi, anak-anak juga perlu diajarkan cara mengelola emosi tersebut. Empati mengembangkan kemampuan empati adalah aspek kunci dari kecerdasan emosional. keterampilan sosial kecerdasan emosional juga berkaitan erat dengan keterampilan sosial. Guru memiliki peran penting dalam mengajarkan anak-anak bagaimana berkomunikasi secara efektif, bekerja sama dalam kelompok, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif. Motivasi diri anak-anak perlu belajar untuk memotivasi diri sendiri dan menetapkan tujuan pribadi. Guru dapat membantu dengan memberikan pujian dan umpan balik positif ketika anak mencapai tujuan kecil, sehingga mendorong rasa percaya diri dan motivasi intrinsik. Kemandirian mengajarkan kemandirian adalah bagian dari pengembangan kecerdasan emosional yang tidak kalah pentingnya. Guru dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk membuat pilihan dan mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
Penelitian Siti Nur Aisyah, Suyadi, Suharti (2023) yang berjudul “Peran Kepala Sekolah, Guru dan Orang Tua dalam Memahami Sosial Emosional Anak Usia Dini“menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua, guru, dan kepala sekolah bagi perkembangan dan keterampilan sosial anak-anak. Kolaborasi antara pendidik dan orang tua sangat penting untuk perkembangan sosial-emosional anak kecil. Dalam kapasitas mereka sebagai pendidik, guru dipandang sebagai jumlah kontribusi individu mereka terhadap proses pendidikan di lingkungan tempat mereka bekerja [16]. Selanjutnya penelitian Yuli Pitria, Suri Handayani Damanik (2024) yang berjudul “Analisis Peran Guru Dalam Pembentukan Kecerdasan Emosional Anak Usia 5-6 Tahun Di TK An-Nur Gunting Saga” mengatakan bahwa peran guru dalam pembentukan kecerdasan emosional anak sebagai model, motivator dan evaluator dapat dilakukan secara verbal berupa kata-kata atau kalimat pujian dan secara non verbal berupa sentuhan, pendekatan kepada peserta didik [17].
TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede adalah lembaga pendidikan taman kanak-kanak yang berada di desa Sedati Gede yang sebagian besar muridnya adalah anak usia dini yang berada di desa Sedati Gede, tetapi ada juga beberapa anak usia dini yang berasal dari desa lainnya. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede memiliki peran yang signifikan dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini. Melalui pendekatan yang tepat dan lingkungan belajar yang mendukung, guru dapat membantu anak- anak mengembangkan keterampilan emosional yang akan bermanfaat bagi mereka di masa depan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggali lebih dalam tentang strategi spesifik yang digunakan oleh guru serta dampaknya terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana peran guru kelompok A dalam membangun kecerdasan emosional anak usia 4-5 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede dan bentuk kegiatan apa yang dilakukan guru dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede. Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat mengetahui serta mengungkap peran guru kelompok A anak usia 4-5 tahun dalam membangun kecerdasan emosional, agar penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi orang tua anak usia dini dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Metode
Penelitian ini memakai metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang berfokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena sosial dan perilaku manusia melalui pengumpulan data non- numerik. Adapun jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif dalam penelitian adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menjelaskan karakteristik suatu fenomena, populasi, atau situasi tertentu secara sistematis dan mendetail [18]. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menarasikan peran guru kelompok A anak usia 4-5 tahun dalam membangun kecerdasan emosional di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede. Lokasi penelitian ini adalah di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede. Objek penelitiannya adalah guru kelompok A dan kepala sekolah. Penelitian ini dilakukan untuk menggali informasi tentang peran guru kelompok A anak usia 4-5 tahun dalam membangun kecerdasan emosional sesuai dengan yang dilakukan setiap hari di sekolah. Menurut metode kualitatif yang digunakan, peneliti sendiri berfungsi sebagai instrumen penelitian dalam penelitian ini. Dokumentasi, panduan observasi, dan panduan wawancara membentuk instrumen.
Pertanyaan langsung atau penggunaan pedoman wawancara adalah dua cara untuk mengumpulkan data melalui wawancara. Wawancara ditujukan kepada guru kelompok A dan kepala sekolah untuk mengetahui bagaimana peran guru kelompok A dalam membangun kecerdasan emosional anak. Tujuan dari panduan wawancara adalah untuk dijadikan acuan untuk menjamin bahwa informasi yang dikumpulkan selama wawancara selaras dengan tujuan penelitian. Pengamatan ini secara langsung menunjukkan bagaimana guru kelompok A dalam membangun kecerdasan emosional mereka serta melihat apakah peran guru disana dapat membangun kecerdasan emosional anak. Untuk menjamin bahwa prosedur observasi sesuai dengan tujuan penelitian ini, observasi yang dilakukan disertai dengan pedoman observasi. Salah satu metode pengumpulan data adalah dokumentasi, yang melibatkan pengumpulan dokumen yang berkaitan dengan topik penelitian. Setelah pengumpulan, data diatur untuk memastikan validitasnya. Jenis triangulasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu triangulasi data. Dimana pada triangulasi ini menggunakan data dari berbagai sumber, waktu, dan orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metodologi Milles dan Huberman. Pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan adalah fase analisis data dalam pendekatan ini [19].
Pengumpulan data adalah langkah awal yang krusial dalam penelitian. Dalam konteks penelitian kualitatif, teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dapat berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi mendalam dari responden mengenai pengalaman dan pandangan mereka. Observasi memungkinkan peneliti untuk melihat langsung interaksi dan perilaku subjek dalam konteks alami mereka. Dokumentasi melibatkan pengumpulan dokumen yang relevan untuk mendukung informasi yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Reduksi data adalah proses penyaringan dan pemfokusan informasi yang telah dikumpulkan. Dalam penelitian kualitatif, tidak semua data yang dikumpulkan akan digunakan oleh karena itu, peneliti perlu mereduksi data dengan cara mengidentifikasi tema-tema utama dan mengelompokkan informasi yang relevan. Proses ini melibatkan pengkodean data, di mana peneliti memberikan label atau kategori pada potongan- potongan data untuk memudahkan analisis lebih lanjut. Penyajian data adalah langkah di mana peneliti menyusun dan menyajikan hasil analisis data dalam format yang dapat dipahami oleh pembaca. Penyajian dapat dilakukan melalui narasi deskriptif yang menggambarkan temuan utama dari penelitian. Dalam konteks penelitian kualitatif, penyajian sering kali berbentuk cerita atau narasi yang menggambarkan pengalaman subjek secara mendalam. Hal ini bertujuan untuk memberikan konteks dan makna terhadap data yang telah dianalisis serta menunjukkan hubungan antara tema- tema yang muncul. Penarikan kesimpulan adalah tahap akhir dalam proses analisis data kualitatif di mana peneliti menyimpulkan temuan berdasarkan analisis yang telah dilakukan. Kesimpulan ini biasanya bersifat induktif, di mana peneliti menarik generalisasi dari data spesifik yang telah dianalisis. Penarikan kesimpulan juga melibatkan refleksi terhadap pertanyaan penelitian dan tujuan awal penelitian [19].
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede, khususnya pada kelompok A2 yang terdiri dari 20 anak usia 4-5 tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung pada tanggal 10 juni 2025 sampai 20 juli 2025, wawancara mendalam dengan guru kelas dan kepala sekolah, serta dokumentasi aktivitas pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara guru sangatlah berperan dalam proses belajar mengajar, selama peneliti melaksanakan penelitian di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede, peneliti melihat bahwa beberapa peran guru telah diterapkan dan dijalankan oleh semua guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede.
Peran guru dalam membangun kecerdasan emosional anak usia 4-5 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati melalui bentuk-bentuk kegiatan . Guru sangat berperan penting dalam membangun segala aspek kecerdasan anak, salah satunya yaitu kecerdasan emosional. Sebagai seorang contoh yang baik bagi anak peran guru dalam membangun kecerdasan emosional anak sangat besar. Hasil wawancara dengan Ibu Kepala Sekolah TK Dharma Wanita Persatuan
Sedati Gede, mengatakan bahwa: “Guru adalah kunci utama dalam membangun kecerdasan emosional anak, mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing dan pendidik. Guru membantu anak mengenal berbagai perasaan, memberikan contoh bagaimana menanggapi emosi secara sehat, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman secara emosional. Guru juga harus peka terhadap perubahan emosi anak dan segera memberikan respons yang tepat.“
Guru seperti istilahnya yaitu “digugu lan ditiru” bukan hanya sebagai pendidik di sekolah, tetapi guru berperan sebagai penasehat serta pemberi contoh yang baik kepada anak, karena guru merupakan role model (panutan) anak- anak di sekolah. Sehingga apa yang dikerjakan oleh guru akan diikuti oleh anak, apa yang di ucapkan oleh guru akan dipatuhi oleh anak. dengan demikian guru harus memberikan contoh yang baik, serta nasehat yang baik, dalam setiap proses belajar mengajar dengan anak-anak di kelas.
Informasi yang peneliti peroleh dari hasil wawancara dengan guru kelas A2 mengenai kecerdasan emosional anak di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede mengatakan bahwa: “Sebagai guru, saya punya peran yang sangat besar. Saya harus menjadi contoh atau model bagi anak-anak dalam mengelola emosi. Selain itu, saya juga menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, agar anak-anak merasa nyaman mengekspresikan perasaan mereka. Saya juga menerapkan salah satu pembelajaran seperti kegiatan bermain peran, dan secara rutin menerapkan kegiatan pembiasaan yang dapat membangun kecerdasaan emosional anak.”
Penelitian ini mengungkapkan bahwa peran guru dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede terbagi menjadi empat peran utama, yaitu sebagai edukator, inovator, komunikator, dan motivator. Keempat peran ini dijalankan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan pembiasaan sehari-hari, sehingga mampu memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak. Adapun hasil observasi dan pembahasan yang peneliti lakukan mengenai peran guru dalam membangun kecerdasan emosional anak di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede adalah sebagai berikut:
Peran guru sebagai edukator
Peran guru sebagai edukator merupakan peranan yang sangat utama bagi peserta didik. Guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede memberikan edukasi melalui kegiatan role play (bermain peran) secara langsung agar dapat meningkatkan keterlibatan siswa, mengembangakan keterampilan sosial memperdalam pemahaman konsep, mendukung pembelajaran berbasis pengalaman,membantu siswa memahami berbagai perspektif, dan meningkatkan kreatifitas dan imajinasi [17]. Kegiatan role play (bermain peran) yang dilaksanakan di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede yang diterapkan seminggu 2 kali. Dalam pembelajaran ini, peserta didik mengambil peran yang berbeda- beda dan terlibat dalam interaksi sosial yang memungkinkan mereka menjalankan skenario tertentu, memecahkan masalah, dan bereaksi terhadap situasi yang dihadapi [20]. Penerapan kegiatan bermain peran dalam membangun kecerdasan emosional anak di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede harus sesuai dengan tema dan tujuan yang direncanakan yang sudah disusun dalam rencana pembelajaran. Tujuan dan tema hendaknya harus menanamkan nilai- nilai sosial, dan moral. Begitu pula dengan guru harus menyiapkan tema serta tujuan yang dekat dengan kehidupan anak di rumah, sekolah, maupun lingkungan. Tema yang diangkat dalam bermain peran juga harus menarik perhatian anak-anak, menantang anak untuk mencoba memainkan peran tersebut. Pada kegiatan bermain peran ini guru kelas TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede memilih tema profesi. Ketika memainkan peran anak juga dapat merasakan atau mendalami menjadi peran tersebut.
Penerapan kegiatan bermain peran di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak usia dini. Hasil pengamatan selama lima hari penerapan, anak-anak melakukan simulasi profesi yang berbeda setiap harinya, yaitu polisi dan penyebrang jalan, guru dan murid, profesi di bidang kesehatan, petugas pemadam kebakaran, serta kasir dan pembeli. Setiap kegiatan dirancang untuk memberi pengalaman sosial yang nyata, melatih empati, rasa tanggung jawab, percaya diri, kontrol emosi, dan keterampilan berinteraksi. Misalnya, saat menjadi polisi, anak belajar peduli dan melindungi; saat menjadi guru, anak belajar memimpin dan berbagi peran; dalam profesi kesehatan, anak berlatih mengekspresikan emosi secara sehat; saat menjadi petugas pemadam kebakaran, anak belajar kerja sama dan solidaritas; dan dalam simulasi kasir serta pembeli, anak belajar sabar menunggu giliran serta memahami peran sosial. Guru kelas dan guru pendamping menilai kegiatan ini efektif membentuk perilaku positif, membuat anak lebih ekspresif, mam pu mengendalikan emosi, serta memahami perasaan orang lain melalui interaksi yang menyenangkan dan terarah.
Figure 1. Gambar 1.Kegiatan Anak Bermain Peran
Terlihat dari perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang mengintegrasikan kegiatan bermain peran sesuai tema. Bermain peran memungkinkan anak mengalami interaksi sosial yang menyerupai kehidupan nyata, sehingga mereka dapat melatih keterampilan mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi. Pada kegiatan bermain peran dengan tema polisi dan penyebrang jalan, guru memandu anak untuk memahami peran masing-masing, memberikan arahan mengenai sikap sopan, dan mencontohkan bagaimana polisi memberikan rasa aman kepada penyebrang. Kegiatan ini membentuk sikap peduli, empati, dan rasa tanggung jawab pada anak.
Tema guru dan murid melatih anak untuk memimpin, berbicara di depan teman, dan belajar mengatur peran dalam kelompok. Anak yang berperan sebagai guru menunjukkan perhatian kepada “murid”-nya, sementara anak yang berperan sebagai murid belajar menghargai instruksi. Hal ini membantu menyeimbangkan sifat kepemimpinan dan kerja sama. Pada tema profesi di bidang kesehatan, guru memfasilitasi anak memerankan dokter, perawat, apoteker, dan pasien. Anak yang biasanya pendiam menjadi lebih percaya diri saat menjelaskan “gejala” pasien kepada dokter, sedangkan anak yang memerankan dokter belajar menghibur pasien. Kegiatan ini menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab. Tema petugas pemadam kebakaran melatih anak untuk bekerja sama dalam memadamkan “api” dan menyelamatkan “korban”. Anak belajar mengatur strategi, mengambil keputusan cepat, dan berkoordinasi dengan teman, sehingga mengasah keterampilan kerja sama dan kontrol diri. Tema kasir dan pembeli melatih anak mengendalikan emosi saat menunggu giliran, bersikap sopan saat bertransaksi, dan menghargai peran sosial. Guru mengarahkan agar anak mengucapkan terima kasih setelah berinteraksi, sehingga membiasakan perilaku positif.
Peran guru sebagai innovator
Guru harus memiliki kemauan belajar yang tinggi agar dapat menambah pengetahuan serta keterampilannya sebagai guru. Dalam hal ini guru harus memiliki inovasi-inovasi yang kreatif dan baru serta bermanfaat untuk membangun kecerdasaan emosional anak. guru perlu menciptakan kegiatan kreatif, inovatif, dan bermakna.Guru TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede menerapkan kegaiatan ice breaking yaitu aktivitas ringan dan menyenangkan yang dilakukan untuk mencairkan suasana, menumbuhkan semangat, serta membangun kedekatan antara anak dan lingkungan belajarnya misalnya dengan kegiatan ice breaking. Ice breaking dilakukan sebelum memulai pelajaran inti, di sela-sela kegiatan, atau saat anak terlihat bosan/lelah. Dengan diterapkannya ice breaking dapat mengurangi rasa takut, malu, atau canggung di lingkungan sekolah. Melalui gerak, nyanyian, atau permainan, anak berani mengekspresikan diri di depan orang lain. Kegiatan ice breaking bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat penting dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini. Melalui ice breaking anak belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengatur emosinya. Anak merasa nyaman, aman, dan senang berada di lingkungan belajar. Hubungan sosial dengan guru dan teman menjadi lebih hangat dan positif.
Figure 2. Gambar 2. Kegiatan Ice Breaking
Kemampuan guru TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede dalam menciptakan variasi kegiatan yang menyenangkan, seperti ice breaking di sela-sela pembelajaran. Ice breaking membantu mengurangi kejenuhan, mengembalikan fokus anak, dan memotivasi mereka untuk aktif kembali. Ice breaking yang dilakukan guru meliputi permainan gerak dan lagu, tepuk tangan berirama, atau permainan sederhana yang melibatkan kerja sama. Kegiatan ini mengajarkan anak untuk mengikuti instruksi, bergiliran, dan berinteraksi dengan teman secara positif. Guru juga berinovasi dalam penyajian materi dengan menggabungkan kegiatan bercerita, bermain, dan bernyanyi, sehingga anak belajar dalam suasana yang rileks namun tetap fokus. Hal ini membuat anak lebih mudah menerima pesan emosional yang terkandung dalam kegiatan.
Peran guru sebagai komunikator
Guru sebagai komunikator hendaknya dapat memberikan nasehat-nasehat yang dapat menambah anak. Dalam hal ini guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede berperan juga sebagai sahabat siswa yang dapat memberikan arahan dan juga masukan dalam kecerdasaan emosional yang baik, di sekolah, di rumah maupun di lingkungan luar. Melalui kegiatan bercerita yang diterapkan oleh guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini. Guru PAUD efektif mengembangkan kecerdasan emosional anak dengan melibatkan mereka dalam memilih judul buku, memberikan ruang untuk melanjutkan cerita, serta melibatkan orang tua dalam proses belajar. Dengan demikian, anak menjadi lebih mampu mengenali diri dan mengendalikan emosinya [6].
Guru TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede memberikan pembelajaran melalui kegiatan bercerita atau story telling sebagai sarana untuk menyampaikan pesan, nilai, dan pengalaman kepada anak. Cerita bisa disampaikan secara langsung oleh guru dengan menceritakan kembali isi dari buku tersebut. Kegiatan ini juga bermanfaat untuk membangun kecerdasan emosional anak, anak mampu mengenali berbagai perasaan. Misalnya senang, sedih, marah, takut. Meningkatkan kemampuan bersosialisasi mengendalikan pemahaman diri, menunbuhkan kreativitas dan imajinasi, menumbuhkan kepercayaan diri dan meningkatkan kemampuan berbahasa. Penerapan kegiatan ini berada di bagian penutup kegiatan pembelajaran.
Figure 3. Gambar 3. Kegiatan Bercerita
Dalam kegiatan bercerita yang disertai tanya jawab, guru membacakan cerita yang memuat pesan moral, kemudian mengajak anak mengidentifikasi perasaan tokoh cerita dan menghubungkannya dengan pengalaman pribadi anak. Melalui komunikasi ini, anak belajar mengenali emosi seperti senang, sedih, marah, atau takut, sekaligus memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang perlu dihargai. Guru menjadi penghubung antara pengalaman emosional anak dan pemahaman sosial mereka. Kegiatan bercerita juga membentuk keterampilan bahasa anak, karena mereka
diajak untuk menjawab pertanyaan, menceritakan kembali isi cerita, dan berdiskusi dengan teman. Hal ini sekaligus memperkuat hubungan emosional antara guru dan anak.
Peran guru sebagai motivator
Guru sebagai motivator adalah dapat membangun kecerdasaan emosional, seorang siswa khususnya siswa TK memerlukan banyak motivasi yang tinggi baik dari dirinya sendiri, orang tua, ataupun guru. Kolaborasi antara kepala sekolah, guru, dan orang tua sangat penting dalam memahami dan mengembangkan sosial-emosional anak usia dini, serta guru memiliki peran yang sinergis dalam pendidikan anak [16]. Begitu pun guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede telah banyak memberikan motivasi-motivasi terhadap anak terkait kecerdasan emosional yang baik. Kegiatan pengelolaan emosi diri yang diterapkan oleh guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede yang dilakukan melalui pembiasaan positif dalam rutinitas sehari-hari, yang bertujuan untuk melatih anak mengenali, mengontrol, dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang tepat. Bentuk-bentuk kegiatannya meliputi :
- Antri saat mencuci tangan, Anak diminta menunggu giliran saat mencuci tangan sebelum makan atau setelah bermain. Dalam kegiatan ini, anak belajar menahan diri, bersabar, dan menghormati giliran teman. Mengenali bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan yang sama.
- Berbagi dan bekerja sama saat bermain, Anak diajak bermain dalam kelompok, berbagi mainan, dan bekerja sama menyelesaikan permainan. Dalam kegiatan ini, anak belajar memahami perasaan orang lain dan membangun hubungan sosial yang sehat. Belajar mengelola perasaan kecewa saat tidak mendapat mainan yang diinginkan.
- Merapikan mainan kembali setelah dimainkan, setelah selesai bermain anak diminta merapikan mainan secara mandiri atau berkelompok. Dalam kegiatan ini, anak belajar menyelesaikan aktivitas dengan tertib dan merasa bangga atas kemandiriannya. Menyadari konsekuensi dari tindakan (jika mainan tidak dirapikan, akan berantakan).
- Tidak menangis saat berpisah dengan orang tua, anak belajar mandiri saat masuk ke sekolah tanpa menangis atau tantrum saat ditinggal orang tua. Anak belajar mengelola rasa takut, cemas, dan sedih dengan lebih stabil serta menunjukkan perkembangan kemandirian dan kesiapan sosial.
- Percaya diri saat diminta tampil di depan untuk memimpin, anak diberi kesempatan memimpin doa, menyanyi, atau bercerita di depan teman-temannya. Anak mengenali potensinya dan menunjukkan ekspresi positif terhadap dirinya. Anak terdorong untuk menunjukkan keberanian dan tanggung jawab.
Figure 4. Gambar 4. Kegiatan sabar menunggu giliran
Selain itu guru sebagai motivator juga berperan menerapkan beberapa kebiasaan keagamaan yaitu :
a) Doa Sebelum dan Sesudah Kegiatan
Guru menerapkan doa sebelum kegiatan setiap hari dilakukan diawal saat selesai berbaris dihalaman anak-anak berdoa bersama didepan kelas beberapa doa yang di lafadzkan yaitu : surah Al- Fatihah, doa sebelum belajar, surah An-nasr, sholawat Nariyah, ayat kursi. Saat sebelum istirahat guru mengajak anak-anak untuk membaca doa sebelum makan. Kemudian saat anak-anak selesai kegiatan guru menajak anak-anak untuk melafadzkan doa-doa berikut : doa sesudah makan, Doa selesai belajar, doa keluar kelas, doa naik kendaraan
Figure 5. Gambar 5. Kegiatan berdoa bersama
b) Sholat Dhuha
Guru TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede menerapkan kegiatan sholat dhuha setiap hari jumat. Penerapannya yaitu, salah satu anak laki-laki bergantian ditunjuk sebagai imam sholat yang didampingi dan dituntun oleh guru dalam pembacaan dan gerakan sholat, siswa yang lain menjadi makmum. Kegiatan ini bertujuan membiasakan anak mengenal ibadah sejak dini, menanamkan disiplin dan tanggung jawab, dan menumbuhkan kesadaran spiritual dan ketenangan jiwa. Kegiatan ini bukan hanya sebagai ibadah saja tetapi mempunyai banyak peran untuk membangun kecerdasan emosional anak. Anak belajar mengenali perasaan sebelum dan sesudah beribadah, serta memahami makna ketenangan setelah salat. Gerakan dan bacaan salat melatih anak untuk menenangkan diri, melambatkan ritme, serta mengontrol emosi seperti marah atau gelisah. Kegiatan ini membangun semangat anak untuk melakukan hal positif, merasa bangga setelah berhasil menyelesaikan salat. Dalam salat berjamaah, anak belajar menghargai giliran, mengikuti imam, dan bersikap tenang bersama teman-teman. Kegiatan bersama melatih anak untuk tertib, bersabar, dan bekerja sama dalam suasana yang tenang dan religius.
Figure 6. Gambar 6. Kegiatan anak sholat dhuha
c) Infaq
Kegiatan infaq setiap hari jumat adalah pembiasaan yang dilakukan di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede, di mana anak-anak membawa uang infaq dari rumah untuk disumbangkan ke kotak amal atau program sosial sekolah. Guru membimbing kegiatan ini dengan penjelasan sederhana tentang berbagi dan membantu sesama. Penerapannya yaitu guru menyiapkan kotak infaq dan menjelaskan maknanya dengan bahasa sederhana. Anak-anak satu per satu memasukkan uang ke dalam kotak infaq dengan senang hati. Guru memberikan penguatan seperti: “Kamu hebat sudah mau berbagi.”“Uangnya akan kita berikan untuk teman-teman yang membutuhkan.” Kegiatan ini bertujuan menanamkan kebiasaan berbagi sejak dini, meningkatkan kepekaan sosial dan empati, serta menumbuhkan nilai-nilai keikhlasan, kejujuran, dan kepedulian. Dari kegiatan ini anak belajar merasakan dan memahami kebutuhan orang lain yang kurang beruntung. Anak mengenal bahwa ada orang lain yang membutuhkan bantuan dan bahwa ia bisa memberi kontribusi. Anak belajar mengalahkan sifat egois dan serakah, serta merasa tenang dan senang setelah berbagi. Anak mulai menyadari bahwa perbuatannya memiliki nilai, dan bahwa ia dapat berbuat baik. Anak merasa bangga dan dihargai setelah melakukan sesuatu yang baik, yang memperkuat hubungan sosialnya dengan teman dan guru.
Pembiasaan keagamaan bukan hanya membentuk spiritualitas, tetapi juga berkontribusi besar dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini. Kegiatan sederhana seperti berdoa ketika sebelum dan sesudah kegiatan, sholat dhuha, dan infaq setiap hari jumat terbukti membantu anak mengenal, memahami, mengekspresikan dan mengelola perasaan serta berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Mendorong perilaku sosial positif seperti empati, toleransi, dan kerja sama. Membentuk kontrol diri, kesadaran moral, serta rasa aman dan damai. Konsistensi dan
keterlibatan guru menjadi kunci utama dalam menjadikan kegiatan keagamaan sebagai sarana untuk membangun kecerdasan emosional.
Figure 7. Gambar 7. Kegiatan anak infaq
Peran guru sebagai motivator tampak dalam pemberian pujian, dorongan, dan penghargaan saat anak menunjukkan perilaku positif. Guru mendorong anak untuk sabar menunggu giliran, membantu teman, dan berani mencoba hal baru. Guru menggunakan penguatan positif seperti kata- kata semangat, tepuk tangan, atau stiker bintang untuk meningkatkan motivasi anak. Hal ini membuat anak merasa dihargai dan terdorong untuk mengulang perilaku baik tersebut. Kegiatan pembiasaan keagamaan untuk membangun kecerdasan emosional anak termasuk dalam peran guru sebagai motivator, karena guru berperan aktif memberikan dorongan, semangat, dan inspirasi agar anak mau melaksanakan kegiatan keagamaan dengan penuh kesadaran dan kegembiraan. Dalam pelaksanaannya, guru memulai kegiatan dengan ajakan yang hangat dan antusias, seperti mengajak anak berdoa sebelum belajar, mengucapkan salam, membaca doa harian, infaq serta mengikuti kegiatan ibadah bersama seperti sholat dhuha dengan suasana menyenangkan.
Guru juga memberikan pujian dan apresiasi ketika anak melafalkan doa dengan baik atau menunjukkan sikap sopan sesuai ajaran agama, sehingga anak merasa dihargai dan termotivasi untuk mengulangi perilaku positif tersebut. Guru memotivasi anak dalam kegiatan keagamaan dengan cara yang menyenangkan, misalnya bernyanyi doa dengan gerakan atau menceritakan kisah teladan.Selain itu, guru mengaitkan kegiatan keagamaan dengan manfaat emosional, seperti menenangkan hati, menumbuhkan rasa syukur, dan mengajarkan kesabaran. Melalui pendekatan ini, anak tidak hanya terbiasa menjalankan ibadah, tetapi juga belajar mengelola emosi, berempati, dan membangun hubungan positif dengan orang lain sesuai dengan nilai-nilai moral dan spiritual yang ditanamkan.
Dari hasil observasi dapat peneliti simpulkan bahwa guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede telah menjalankan perannya dengan sangat baik dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede. Guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede selalu berusaha menjadi panutan yang baik untuk seluruh peserta didik, hal tersebut dilakukan agar perlahan dapat membangun kecerdasaan emosional anak. Melalui perannya sebagai pendidik, guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede selalu memberikan stimulasi secara terus menerus kepada anak agar seluruh kecerdasan anak berkembang sesuai harapan, khususnya pada kecerdasan emosional anak. Pada TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede, guru menerapkan kegiatan pembelajaran yang sudah disusun dalam rancangan pembelajaran dan disesuaikan dengan tema selain itu, guru juga menerapkan kegiatan pembiasaan yang dilakukan sehari-hari untuk membangun kecerdasan emosional anak.
Secara keseluruhan, peran guru dalam penelitian ini mencakup kombinasi antara bimbingan langsung, pemberian teladan, inovasi kreatif, komunikasi efektif, dan motivasi berkelanjutan. Pendekatan ini menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif bagi perkembangan emosional anak. Keberhasilan pelaksanaan peran ini sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik, psikologis, dan sosial sementara keberagaman budaya dan status sosial dapat menjadi tantangan [4]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak menjadi lebih ekspresif, mampu mengendalikan emosi, berempati pada teman, dan berani berinteraksi dengan lingkungan. Perubahan positif ini terjadi karena kegiatan yang dilakukan relevan dengan dunia anak dan dilaksanakan secara konsisten. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peran guru sebagai edukator, inovator, komunikator, dan motivator memiliki kontribusi yang besar dalam membangun kecerdasan emosional anak usia dini. Strategi pembelajaran yang bervariasi, menyenangkan, dan bermakna menjadi kunci keberhasilan proses ini.
Simpulan
Penelitian mengenai Peran Guru dalam Membangun Kecerdasan Emosional Anak Usia 4–5 Tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak usia dini. Peran tersebut diwujudkan melalui empat fungsi utama, yaitu
sebagai edukator, inovator, komunikator, dan motivator. Sebagai edukator, guru memberikan stimulasi langsung melalui kegiatan role play (bermain peran) yang membantu anak mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosinya, sekaligus mengembangkan empati, kepercayaan diri, dan keterampilan sosial. Sebagai inovator, guru menciptakan kegiatan kreatif seperti ice breaking untuk mencairkan suasana belajar, menumbuhkan semangat, serta membangun kedekatan emosional antara anak dan lingkungannya.Sebagai komunikator, guru menanamkan nilai-nilai religius melalui pembiasaan doa harian, sholat dhuha, dan infaq. Kegiatan ini bukan hanya membentuk kesadaran spiritual, tetapi juga menumbuhkan rasa disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Sebagai motivator, guru membiasakan anak untuk mengelola emosi melalui kegiatan sehari-hari seperti antri, berbagi, dan tampil di depan kelas sehingga anak lebih sabar, percaya diri, dan mandiri. Secara keseluruhan, kegiatan yang dilakukan guru di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede terbukti efektif dalam membantu anak usia 4–5 tahun mengenali dan mengelola emosi, membangun empati, serta mengembangkan keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini juga menggaris bawahi bahwa keteladanan guru serta pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan kecerdasan emosional anak usia dini.
Ucapan Terima Kasih
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peran Guru dalam Membangun Kecerdasan Emosional Anak Usia 4-5 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede” dengan baik. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, doa, bimbingan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa, motivasi, serta dukungan moril maupun materil yang tiada henti. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu/Bapak Dosen Pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah memberikan arahan, bimbingan, dan masukan yang sangat berarti selama proses penyusunan skripsi ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh dosen di Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini yang telah memberikan ilmu, wawasan, dan pengalaman berharga selama masa perkuliahan. Penulis juga menyampaikan penghargaan setulusnya kepada Kepala TK Dharma Wanita Persatuan Sedati Gede beserta para guru dan staf yang telah memberikan izin, bantuan, serta kesempatan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman seperjuangan di Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan kebersamaan selama menempuh pendidikan. Akhirnya, penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, namun telah memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga segala bantuan, dukungan, serta kebaikan yang diberikan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca pada umumnya.