Login
Section Education

Speaking Skills Distribution Through Storytelling in First Grade Students

Distribusi Keterampilan Berbicara Melalui Bercerita pada Siswa Kelas Satu
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Friska Nur Fadilah (1)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Speaking competence is a fundamental component of language education in elementary schools and supports daily communication and classroom participation. Specific Background: First grade students often demonstrate varied oral abilities, and storytelling activities are commonly used to elicit verbal expression. Knowledge Gap: Empirical descriptions of speaking skill levels and their underlying factors among early primary learners in authentic classroom settings remain limited. Aims: This research aims to identify the speaking skill levels of first grade students using a storytelling method and to explore factors associated with weak performance. Results: Using a descriptive qualitative design with classroom observation and teacher interviews, students’ abilities were categorized into high (21.4%), moderate (42.9%), and low (35.7%). Higher performance was associated with confidence and frequent family communication, moderate performance with limited fluency and uncertainty in pronunciation, and lower performance with shyness, fear of public speaking, and minimal communicative practice at home. Novelty: The study provides a structured qualitative classification of early primary speaking abilities linked to home interaction patterns within a real classroom context. Implications: These findings highlight the importance of communicative environments and storytelling activities in diagnosing and supporting oral language development in early elementary education.


Highlights:




  • Three performance tiers were identified among learners with unequal proportions.




  • Family interaction patterns were closely associated with verbal confidence.




  • Classroom hesitation was linked to fear, shyness, and limited practice.




Keywords:

Speaking Skills; Storytelling Method; Primary Education; Oral Communication; Qualitative Analysis

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas disebabkan oleh beberapa faktor,salah satu nya yaitu pendidikan. Pendidikan wajib dimiliki oleh setiap orang, karena pendidikan mampu untuk merubah dunia. [1] juga mengatakan bahwa pendidikan memiliki peranan yang sangat penting di dalam Sumber Daya Manusia (SDM). Menurut [2] dalam penelitiannya mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah dan menyebarkan sikap menjadi lebih baik lagi. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan [3] yang menyatakan bahwa proses pendidikan hendaknya dapat meningkatkan karakter positif dan mengurangi karakter negatif. Salah satu tujuan dari pendidikan yaitu mampu merubah karakter atau sifat yang dimiliki oleh anak.

Peneliti dari [[4] juga mengatakan bahwa tujuan dari pendidikan yaitu untuk merubah atau membentuk sifat seseorang dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak dalam bidang apapun. Di dalam pendidikan juga perlu dilakukannya proses pembelajaran yang maksimal. Proses pembelajaran yang maksimal dapat dicapai dengan berbagai cara, salah satunya yaitu menggunakan metode pembelajaran yang tepat, model pembelajaran yang tepat atau dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat pula. Peneliti juga mengatakan bahwa terdapat tiga komponen yang harus dipenuhi oleh guru agar mencapai pembelajaran yang maksimal, adapun komponen tersebut yaitu perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang harus dicapai secara maksimal adalah pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama pada pembelajaran di Sekolah Dasar. Pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran wajib yang ada di sekolah dasar, karena pelajaran Bahasa Indonesia sangat membantu setiap orang dalam melakukan komunikasi baik secara lisan maupun tulisan.

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar diarahkan kepada kemampuan komunikasi pada anak baik secara lisan maupun tulisan [5] menurutnya, tujuan dari pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yaitu untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia dalam semua kegiatan, serta bahasa juga berfungsi sebagai sarana komunikasi, pemersatu, dan juga mampu untuk mengembangkan IPTEK. Selain itu, kemampuan berbahasa dengan baik merupakan salah satu prasyarat dalam pembelajaran di semua jenjang. Maka dari itu pembelajaran Bahasa Indonesia selalu ada pada semua jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, hingga perguruan tinggipun selalu terdapat pembelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan yang terkandung dalam materi. Keterampilan tersebut yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Untuk mencapai penguasaan pembelajaran Bahasa Indonesia yang baik, empat aspek tersebut harus benar- benar dikuasai oleh anak, terutama pada keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara tidak bisa datang dengan sendirinya, keterampilan berbicara harus di latih setiap hari agar dapat dicapai secara maksimal .

Keterampilan berbicara adalah kemampuan seseorang untuk menyampaikan gagasan yang diberikan oleh orang lain melalui lisan . Sedangkan menurut [[6] dalam penelitiannya mengatakan bahwa keterampilan berbicara adalah suatu keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap orang, karena berbicara adalah salah satu media komunikasi yang digunakan setiap hari kepada orang lain. Kemampuian berbicara juga sangat diperlukan saat pembelajaran dilaksanakan secara daring dimana komunikasi verbal sangat dibatasi [7]. Maka dari itu keterampilan berbicara wajib dimiliki oleh setiap orang, selain itu berbicara juga harus sesuai susunan bahasa yang benar, sehingga bahasa yang disampaikan mudah diterima oleh orang lain.

Terdapat 3 indikator dari keterampilan berbicara, indikator tersebut yaitu (1) menjelaskan permasalahan dalam cerita, (2) mengemukakan pendapat dari permasalahan pada cerita, dan (3) memberi saran dari permasalahan pada cerita [8]. Sedangkan indikator keterampilan berbicara adalah (1) ketepatan pengucapan, (2) intonasi yang jelas dan pemilihan kata yang tepat, (3) sistematis atau tersusun secara urut, (4) ketika berbicara memiliki sikap yang tenang, (5) pandangan diarahkan kelawan bicara, dan (6) kesediaan menghadapi pendapat dari orang lain.

Keterampilan berbicara memang sangat penting dimiliki oleh anak, tetapi keterampilan ini belum diajarkan secara maksimal di sekolah [5]. Pendapat tersebut juga dikuatkan dalam penelitiannya bahwa rendahnya keterampilan berbicara disebabkan adanya faktor internal dan faktor eksternal, adapun faktor internalnya yaitu kepribadian, cara berfikir, dan intelektual. Kurangnya kemampuan berbicara siswa dapat menyebabkan siswa enggan untuk berkomunikasi pada saat pembelajaran berlangsung . Peneliti [9] juga mengatakan bahwa kemampuan berbicara yang dimiliki oleh anak masih lemah, hal itu dibuktikan ketika guru meminta siswa untuk berbicara siswa tidak mau untuk berbicara, atau siswa masih terbata-bata dan malu disaat berbicara.

Lemahnya keterampilan berbicara ini juga dialami oleh siswa kelas 1B SDIT Nurul Fikri Sukodono Sidaoarjo. Berdasarkan hasil observasi pada Hari Rabu, 16 Maret 2023 di Kelas IB diperoleh hasil bahwa (1) siswa masih memiliki rasa malu, disaat bercerita di depan kelas, (2) siswa kelas 1B memiliki keterampilan berbicara yang berbeda-beda, (3) guru sering melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan (4) siswa disaat melakukan komunikasi sehari-hari, masih kesulitan dalam menyusun kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan adanya permasalahan tersebut maka perlu dilakukan sebuah perubahan. Salah satucara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada anak yaitu dengan pembelajaran menggunakan metode storytelling.

Metode Storytelling atau biasa disebut dengan metode bercerita merupakan salah satu cara yang efektif untuk melibatkan anak dalam meningkatkan kemampuan keterampilan berbicaranya [10]. Hal itu disebabkan karena metode storytelling tidak hanya memberi kebiasan kepada anak untuk bercerita atau berbicara, tetapi juga mampu untuk meningkatkan rasa percaya diri kepada anak. Menurut [11] bercerita adalah suatu kegiatan menyampaikan informasi yang dilakukan secara lisan dari satu orang ke orang lain. Melalui kegiatan bercerita kepada kawan kepercayaan diri siswa dan kemampuan berbicara dapat terbangun secara alami [12]. Dengan adanya anak yang selalu bercerita, lama kelamaan anak tersebut memiliki keterampilan berbicara yang tinggi dan mampu untuk menghilangkan rasa kurang percaya diri pada diri anak tersebut.

Terdapat tujuh indicator dari bercerita, indikator tersebut yaitu (1) ketepatan isi cerita, (2) ketepatan penunjukan detail cerita, (3) ketepatan logika cerita, (4) ketepatan makna keseluruhan cerita, (5) ketepatan kata, (6) ketepatan kalimat, dan (7) kelancaran. Sedangkan menurut peneliti [13] terdapat tujuh indikator dari bercerita, yaitu (1) ketepatan isi cerita, (2) ketepatan penunjukan detil cerita, (3) ketepatan logika cerita, (4) ketepatan makna keseluruhan cerita, (5) ketepatan kata, (6) ketepatan kalimat dan (7) kelancaran.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka metode storytelling dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada anak. Maka dalam penelitian ini peneliti mengambil judul penelitian “Analisis Keterampilan Berbicara dengan Menggunakan Metode Storyteling Pada Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar pada Tahun Pelajaran 2023/2024”.

Metode

Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif, yang dilakukan di kelas 1B SDIT Nurul Fikri Sukodono Sidoarjo pada tahun pelajaran 2023/ 2024 dengan jumlah subjek sebanyak 6 orang. Metode diskriptif digunakan dalam penelitian ini, karena peneliti ingin mendiskripsikan mengenai keterampilan berbicara siswa serta faktor-faktor yang menyebabkan lemahnya keterampilan berbicara pada siswa dengan menggunakan metode storyteling.

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah instrument non tes, yang berupa wawancara dan observasi yang dilakukan di dalam kelas selama pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan wawancara dilakukan dengan guru kelas 1B serta 6 siswa kelas

1B SDIT Nurul Fikri Sukodono Sidoarjo yang memiliki kemampuan berbicara yang berbeda- beda. Di dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi selama pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas, yang kemudian di kelompokkan menjadi 3 kriteria kemampuan dari keterampilan berbicara. Adapun kriteria tersebut sebagai berikut.

Indikator Interpretasi
Tinggi Mampu melakukan bercerita secara rinci dan jelas
Sedang Mampu bercerita secara jelas tetapi tidak mampu bercerita secara rinci
Rendah Tidak mampu melakukan cerita
Table 1. Interpretasi Kriteria Kemampuan Berbicara

Setelah diperoleh data pengelompokan kategori keterampilan berbicara, peneliti mengambil 2 subjek dalam setiap kategori dengan cara tekhnik puposirve sampling. Setelah penentuan subjek peneliti melakukan wawancara dengan subjek-subjek tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal.

Hasil Dan Pembahasan

A. Hasil

Keterampilan berbicara siswa yang diteliti kaii ini adalah beberapa indikator pilihan yang diambil dari buku penilaian bahasa indonesia [13] yaitu (1) ketepatan isi cerita , (2) ketepatan kaimat, dan (3) kelancaran dari bercerita. Setelah peneliti melakukan observasi ke kelas 1B SDIT Nurul Fikri Sukdono Sidoarjo, diperoleh hasil pengelompokan dari kemampuan keterampilan berbicara menjadi 3 kriteria, yaitu tinggi, sedang dan rendah. Adapun pengelompokan tersebut sebagai berikut

Setelah pengelompokan tersebut, peneliti melakukan wawancara dengan urut mengenai penentuan 2 subjek dalm setiap kriteria, subjek tersebut nantinya yang akan dijdikan subjek wawancara pada penelitian selanjutnya. Pada pertemuan slanjutnya peneliti melakukan observasi kembali di kelas 1B SDIT Nurul Fikri Sukdono Sidoarjo dn dilajutkan wawancara kepada subjek - subjek tertentu

Penelitian dimulai dengan melakukan observasi kembali siswa kelas 1B SDIT Nurul Fikri Sukodo Sidoarjo yang bercerita mengenai anggota keluarga didepan kelas. Setelah semua siswa selesai bercerita didepan kelas , peneliti melakukan wawancaraa 2 subjek dalam setiap kriteria untuk memastikan cerita yang telah disampaikan didepan kels tersebut. Adapun hasil penelitian tersebut sebagai berikut.

Tabel 2. Contoh Tabel Hasil Pengolahan Data

Kriteria Jumlah Anak Prosentase

Tinggi621,4%

Sedang1242,9%

Rendah1035,7%

1. Keterampilan Berbicara Tinggi

Pada kriteria tinggi ini, peneliti mengambil subjek 1 dan 2 sebagai subjek penelitian, yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara. Adapun hasil penelitian tersebut sebagai berikut.

Subjek 1

kriteria tinggi, mampu menceritakan anggota keluarga dengan runtut, jelas dan mudah dipahami.

Peneliti : “kamu tadi didepan bercerita apa saja ?”

Subjek 1: “saya bercerita tentang saya dan keluarga saya bu”

Peneliti : “keuargamu terdiri dari siapa saja ?”

Subjk 1 : “ada bapak,ibu,saya dan kakak saya “

Peneliti : “kamu tadi bisa bercerita dengan runtut dan jelas. Kamu kok bisa bercerita seperti itu, apakah kamu dirumah diajari oleh orang tuamu agar bisa bercerita seperti itu ?”

Subjk 1 : “iya bu, saya selalu diajari orang tua saya untuk becerita tentang itu, katanta kalau semisal saya hilang, saya bisa menjawabnya dan diantarkan kerumah. “

Penelti : “apakah kamu tadi merasa takut ketika maju kedepan ?”

Subjek 1 : “tidak bu saya merasa biasa saja “

Subjek 2

Subjek 2 bercerita mengenai identitas diri pribadi yang sangat lengkap, kemudian mengenalkan anggota keluarga yang ada dirumah. Adapun hasil penelitian tersebut sebagai berikut.

Pneiti : “kamu tadi di depan becerita apa saja ?”

Subjek 2 : “menceritakan tentang keluarga saya bu “

Peneliti : “keluargamu terdiri dari siapa saja ?”

Subjek 2: “ada 4 orang bu, bapak, ibu,dan adik saya”

Peneliti : “kamu tadi bisa bercerita dengan runtut dan jelas.

Apakah kamu dirumah diajari oleh oranmgtuamu agar bosa becerita seperti itu”

Subjek 2: “iya bu, saya diajari oleh orang tua saya”

Peneliti : “apakah kamu tadi merasa takut, ketika maju kedepan ?”

Subjek 2: “tidak bu sudah terbiasa berbicara didepan

2. Ketrampilan Berbicara Sedang

Keterampilan berbicara dengan kriteria sedang ini, peneliti mengambil 2 subjek penelitian untuk dijadikan sebagai subjek wawancara, subjek tersebut yaitu subjek 3 dan 4.

Subjek 3

Dalam penelitian ini, subjek 3 mampu bercerita secara jelas tetapi tidak rinci, subjek kurang memahami apa saja yang harus disampaikan ketika bercerita di depan kelas. Tidak hanya itu subjek, subjek juga tidak runtut disaat melakukan pelafalan. Adapun hasil penelitian tersebut sebagai berikut.

Peneliti: “Kamu tadi didepan bercerita apa saja?”

Subjek 3: “Perkenalan saya dan keluarga bu”

Peneliti: “Keluargamu terdiri dari siapa saja?”

Subjek 3: “Saya, nenek, adik, dan bapak ibuku bu”

Peneiti: “Kamu tadi waktu bercerita didedpan, sering mengatakan “heem” atau “teruss” itu pun diulang secara berkali-kali. Kenapa kamu kok sering berkata seperti itu?”

Subjek 3: “Saya lupa bu, urutannya apa saja. Jadinya bercerita sambal mikir.”

Peneliti: “Apakah kamu dirumah tidak pernah diajari oleh orang tuamu? Mengenai identitas dirimu, seperti alamat, nama bapak ibu dan sebagainya?”

Subjek 3: “Pernah bu, tapi sudah lama. Jadinya lupa.”

Peneliti: “Apakah kamu tadi merasa takut, ketika maju kedepan?”

Subjek 3: “Iya, saya sedikit takut untuk bercerita tadi bu.”

Subjek 4

Subjek 4 merupakan sample dari keterampilan berbicara sedang. Subjek 4 mampu menceritakan dengan runtut dan jelas, tetapi terkadang juga dengan suara kurang jelas. Adapun hasil penelitian tersebut sebagai berikut.

Peneiti: “Kamu tadi didepan ercerita apa saja?”

Subjek 4:”Perkenalan bu, nama saya dan nama ibu bapak saya bu”

Peneliti:”Keluargamu terdiri dari siapa saja?”

Subjek 4:”Hanya tiga bu, saya, ibu, dan bapak saya bu”

Penelti:”Kenapa kamu tadi waktu bercerita di depan kelas suaramu kadang jelas, kadang kurang jelas, dan tidak bisa berbicara dengan runtut?”

Subjek 4:”Saya takut kaau saya ngomong bu, dan saya malu untuk maju”

Peneliti:”Kamu kalau di rumah diajari sama bapk atau ibumu mengenai kamu anak siapa,alamatnya dimana, nama lengkapmu siapa?pernah diajari seperti itu tidak?”

Subjek 4:”Tidak diajari bu, tapi pernah diajari seperti itu.’

Peneliti:”Apakah kamu tadi merasa takut, ketika maju di ke depan?”

Subjek 4:”Tidak takut bu, tapi malu”

3. Keterampilan Berbicara Rendah

Peneliti mengambil 2 subjek dari siswa yang memiliki keterampilan berbicara rendah untuk dijadikan subjek wawancara dalam penelitian ini, subjek tersebut yaitu subjek 5 dan subjek 6. Adapun hasil penelitian tersebut sebagai berikut.

Subjek 5

Dalam penelitian ini subjek 5 tidak mampu untuk bercerita secara rinci dan juga jelas.

Peneiti:”kamu tadi di depan bercerita apa saja?”

Subjek 5:”Nama saya bu?”

Peneliti:”Keluargamu terdiri dari siapa saja?”

Subjek 5:”Ada kakak perempuan, adik, bapak sama ibu bu”

Peneliti:”Kamu tadi waktu bercerita di depan kok tida mengatakan seperti itu? Kamu hanya ngmong kalau di rumah hanya ada bapak ibu saja? Kenapa tidak menyebutkan kakak perempuan dan adikmu?”

Subjek 5:”Saya lupa bu, tak kirain sudah”

Peneliti:”Kenapa ketika maju di depan tadi kamuharus dipancing oleh guru, nama ayah siapa, nama ibu siapa, dan sebagainya. Kalau guru tidak memancing dahulu, kamu diam saja.”

Subjek 5:”Saya bingung bu, mau ngomong apa dulu”

Peneliti:”Kamu kalau di rumah diajari oleh orang tuamu, siapa namamu?alamatmu dimana? Dan sebagainya. Pernah diajari seperti itu apa tidak?”

Subjek 5:”Saya tidak pernah diajari sepert itu bu”

Peneliti:”Apakah kamu tadi merasa takut ketika maju ke depan?”

Subjek 5:”Iya bu, saya takut kalau disuruh untuk maju.”

Subjek 6

Subjek 6 tidak mampu untuk bercerita, subjek hanya berdiam diri duduk di dpan kelas.

Peneliti:”Kenapa kamu waktu disuruh untuk bercerita di depan sama bu guru tadi kamu diam saja?”

Subjek 6:”Saya bingung bu mau bercerita apa”

Peneliti:”Kan kamu tadi disuruh bu guru perkenalan tentang nama sendiri dan nama-nama orang yang ada di rumah. Terus kenapa tadi harus dituntun bu guru terleih dahulu, alamatmu mana? Nama bapak siapa? Dan sebagainya.”

Subjek 6:”Saya tidak tau urut-urutannya bu, dan saya bingung mau ngmong apa.”

Peneliti:”Kamu kalau di rumah diajari bapak atauibumu tentang siapa kamu? Alamatmu mana? Diajari sepertiitu apa tidak?”

Subjek 6:”Tidak bu, saya tidak diajari seperti itu.”

Peneliti:”Apakah kamu tadi merasa takut, ketika maju ke depan?”

Subjek 6:”Iya bu, saya malu kalau di depan.”

B. Pembahasan

Kemampuan cerita digital guru SD IT Nurul Fikri

Setelah peneliti melakukan wawancara kepada 2 subjek dalam setiap kriteria, untuk memastikan cerita yang telah disampaikan didepan kelas tersebut. Adapun hasil pembahasan sebagai berikut. (1) Keterampilan berbicara tinggi. Pada kriteria tinggi ini, peneliti mengambil 1 dan 2 subjek sebagai subjek penelitian, yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara. Subjek 1 mampu bercerita dengan baik, hal ini dapat dikuatkan melalu hasil wawancara antara peneliti dengan subjek. Dan dari hasil wawancara peneliti dengan subjek 1, bahwa subjek 1 mampu bercerita dengan runtut dan jelas, hal itu dikarenakan siswa sering diajak komunikasi oleh orangtua, dan sering melakukan komunikasi dengan orang banyak, siswa tidak merasa malu atau takut saat bercrita di depan orang banyak. Hal itu dikuatkan oleh pernyataan [14] dalam penelitiannya bahwa orang tua yang terlibat dalam pembelajaran anak mampu untuk meningkatkan keterampilan berbicara dengan cara bercerita.

Dari hasil wawancara dan observasi, subjek 2 mampu bercerita dengan runtut dan jelas, hal itu dikarenakan subjek tidak merasa malu saat berbicara di tempat umum dan subjek ketika di rumah selalu diajak komunikasi oleh orang tuanya. Pernyataan tersebut dikuatkan oeh [15] bahwa peran rang tua di dalam dunia pendidikan sangat dperukan oleh anak, karena hal tersebut mampu meningkatkan kemampuan komunikasi pada anak serta mampu membentuk karakter pada anak. Yang kedua (2) Keterampilan berbicara sedang. Keterampilan berbicara dengan kriteria sedang ini, peneliti mengambil 2 subjek penelitian untuk dijadikan sebagai subjek wawancara, subjek tersebut yaitu subjek 3 dan 4. Hasil wawancara antara peneliti dengan subjek 3. Berdasarkan hasil wawancara tersebut bahwa subjek 3 tidak mampu untuk bercerita dengan lancar. Hal tersebut karena subjek lupa apa yang harus diceritakan didepan kelas. Tidak hanya itu, disaat bercerita didapatkan beberapa kaimat yang tidak tepat, sehingga memiiki makna yang kurang jelas. Hal itu disebabkan karena subjek kurang diajak komunikasi oleh kedua orang tuanya ketika dirumah sehingga subjek merasa bingung dan merasa malu disaat diminta untuk bercerita didepan kelas. Tidak hanya itu, disaat bercerita didapatkan beberapa kalimat yang tidak tepat, sehingga memiliki makna yang kurang jelas. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh [16] bahwa masih banyak anak yang tidak percaya diri disaat diminta untuk maju kedepan kelas, hal itu dikarenakan anak merasa takut salah untuk berbicara dan takut ditertawakan oleh teman – temannya.

Dari hasil subjek 4 mampu bercerita dengan jelas runtut, tetapi terkadang juga dengan suara yang kurang jelas. Subjek juga tidak mampu bercerita secara runtut, sedangkan dalam pelafalan subjek kurang begitu jelas, tidak hanya itu disaat bercerita terdapat beberapa kalimat yang disampaikan tidak tepat. Hal itu disebabkan subjek merasa bingung kaimat apa yang disampaikan, dan subjek juga merasa takut jika kalimat yang disampaikan salah berdasarkan wawancara subjek ketika dirumah jarang melakukan komunikasi mengenai diri sendiri dengan orang tua, dengan adanya beberapa faktor tersebut sehingga subjek kurang memiliki rasa percaya diri ketika berbicara ditempat umum. Pernyataan tersebut juga sama dikatakan oleh [17] yang mengatakan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter pada anak, terutama pada rasa percaya diri. Anak mampu menembangkan potensi diri dan mampu menyesuaikan diri pada lingkungannya. 3. Keterampilan berbicara rendah. . Keterampilan berbicara dengan kriteria rendah ini, peneliti mengambil 2 subjek penelitian untuk dijadikan sebagai subjek wawancara, subjek tersebut yaitu subjek 5 dan 6.

Dari hasil wawancara subjek 5 tidak mampu untuk bercerita secara rinci dan juga jelas. Disaat bercerita subjek hanya menceritakan sebagian anggta keluarganya. Subjek juga tidak mampu bercerita secara mandiri, subjek harus dipancing oleh gurunya terlebih dahulu. Tidak hanya itu,ditemukan beberapa kalimat yang penyusunannya kurang tepat, dan subjek tidak lancar dalam bercerita. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh hasil wawancara. Maka dari itu subjek tidak mampu menyusun kalimat yang benar.permasalahan tersebut disebabka beberapa faktor salah satunya yaitu orang tua tidak memberikan didikan terhadap anakmengenai pengenalan diri sendiri dan keluarga, tidak hanya itu anak juga tidak terbiasa berbicara di tempat umum, sehingga anak tersebut malu saat diminta bercerita di tempat umum. Permasalahan tersebut juga sama yang dikatakan oleh peneliti dbahwa peran orang tua sangat dibutuhkan oleh anak dalam masa perkembangan bahsanya,sehingga semakin sering orang tua mengajak komunikasi pada anak, semakin tinggi pula keterampilan berbicara yng dimiliki oleh anak. Selain itu, kmunikasi yang efektif merupakan sarana untuk melatih kemampuan pada siswa . Dari hasil wawancara subjek 6 diperoleh informasi bahwa subjek tidak mampu untuk bercerita, kalimat yang digunakan oleh subjek juga masih belum tepat, sehingga cerita yang disampaikan sulit untuk dipahami oleh orang lain. Permasalahan tersebut disebabkan oleh kurangnya interaksi antara anak dengan orang tua, dan kurangnya pergaulan anak ditempat umum. Salah satu akibat dari permasalahan terebut adalah anak masih kesulitan dalam penyusunan kalimat yang baik serta anak masih memiliki rasa malu untuk berbicara ditempat umum, pernyataan dikuatkan oleh [18] bahwa masih banyak anak yang kusilatan dalam penyusunan ketepatan kalimat tidak baku, hal itu disebabkan anak masih kesulitan dalam penyusunan kalimat yang baku.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Siswa kelas 1B SDIT Nurul Fikri memiliki kemampuan berbicara yang berbeda – beda, yaitu memiliki kemampuan tinggi, sedang dan juga rendah. Siswa yang memiliki kemampuan berbicara tinggi sebanyak 21,4%. Sisw mampu bercerita dengan jelas, runtut dan lancar hal itu disebabkan siswa ketika dirumah selalu diajak komunikasi yang baik dengan orang tuanya, dan tidak hanya itu siswa juga merasa percaya diri ketika sedang melakukan komunikasi dengn orang lain. Sedangkan siswa yang memiliki kemampuan berbicra sedang sebanyak 42,9%. Siswa yang memiliki keterampilan berbicra sedang ini ,mampu untuk bercerita tetapi ditemukan beberapa kalimat yang tidak baku, hal tersebut dikarenakan siswa jarang melakukan komunikasi dengan orang tua dan siswa juga tidak memiliki rasa percaya diri disaat melakukan komunikasi. Selain itu, siswa yang memiliki keterampilan berbicara rendah sebanyak 35,7%. Siswa tidak mampu untuk bercerita sama sekali, hal itu disebabkan siswa tidak pernah melakukan komunikasi yang baik dengan orang tuanya, sehingga mengakibatkan siswa tidak pernah melakukan komunikasi yang baik dengan orang tuanya, sehingga mengakibatkan siswa tidak memiliki rasa percaya diri untuk berbicara ditempat umum,

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur diucapkan atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penelitian ini penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan serta support yang telah diberikan hinga penelitian ini selesai. Kepada Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, yang telah memebrikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD IT Nurul Fikri. Kepada bu Kemil Wachidah, M.Pd selaku Kaprodi PGSD dan bu Ermawati Zulikhatin Nuroh selaku dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi serta semangat kepada penulis sehingga penelitian ini selesai. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Kepala Sekolah bu Siti Maemunah serta Guru kelas 1 SD IT Nuru Fikri yang telah memberikan izin serta bersedia menjadi subjek penelitian penulis. Dan yang terakhir terimakasih untuk Kedua Orang tua penulis yang telah memberikan doa serta dukungan yang tiada henti kepada penulis serta terimakasih kepada pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

References

[1] M. Maryam, R. Masykur, and S. Andriani, “Pengembangan E-Modul Matematika Berbasis Open Ended Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Kelas VIII,” Aksioma: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika UPGRIS Semarang, vol. 10, no. 1, pp. 1–12, 2019, doi: 10.26877/aks.v10i1.3059.

[2] N. F. N. Fitria, N. Hidayani, H. Hendriana, R. Amelia, and Amekia, “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa SMP Pada Materi Segitiga dan Segiempat,” Edumatica: Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 8, no. 1, pp. 49–57, 2018.

[3] W. E. Kusuma, Husniati, and H. Setiawan, “Pengaruh Metode Paired Storytelling Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas IV Sekolah Dasar,” Renjana Pendidikan Dasar, vol. 1, no. 2, pp. 50–56, 2021.

[4] I. A. Pratiwi, S. D. Ardianti, and M. Kanzunnudin, “Peningkatan Kemampuan Kerjasama Melalui Model Project Based Learning (PjBL) Berbantuan Metode Edutainment Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial,” Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 8, no. 2, 2018, doi: 10.24176/re.v8i2.2357.

[5] I. Magdalena, M. Khofifaturrahmah, L. Nurbaiti, and Padyah, “Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Peninggilan 1,” Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, vol. 3, no. 1, pp. 41–47, 2021.

[6] D. Ratnasari, I. B. K. Gunayasa, and H. H. Saputra, “Pengaruh Model Pembelajaran Artikulasi Terhadap Keterampilan Berbicara Kelas IV Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia,” Renjana Pendidikan Dasar, vol. 2, no. 1, pp. 39–45, 2022.

[7] D. Iswari, D. Setiawan, and W. N. Huda, “Analisis Kemampuan Berkomunikasi Siswa Kelas IV di SD Bulungcangkring Selama Pembelajaran Daring,” Jurnal Prasasti Ilmu, vol. 2, pp. 42–47, Apr. 2022, doi: 10.24176/jpi.v2i1.7181.

[8] A. A. Pangestu, M. F. A. Untari, and I. Listyarini, “Analisis Kemampuan Bercerita Siswa Kelas IV SDN 4 Kertosari Kabupaten Kendal,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 9, no. 1, pp. 259–272, 2023, doi: 10.36989/didaktik.v9i1.699.

[9] S. Said, “Penerapan Model Pembelajaran Role Playing Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas VI SD 2 Padurenan,” INOPENDAS: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 2, no. 1, 2019, doi: 10.24176/jino.v2i1.3437.

[10] A. Suriani, Chandra, E. Sukma, and Habibi, “Keterampilan Berbicara Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 6, pp. 6349–6356, 2021.

[11] N. Asrul and R. Rahmawati, “Pelatihan Membaca Bahasa Inggris Dengan Metode Storytelling Bagi Siswa Kelas 4 SD Muhammadiyah 1 Medan,” Journal of Human Education, vol. 2, no. 1, pp. 43–49, 2022, doi: 10.31004/jh.v2i1.39.

[12] W. D. S. Wahyuni, Edi, A. Al Atok, and A. Rosyid, “Peningkatan Kemampuan Berbicara di Depan Kelas Melalui Model Pembelajaran Storytelling,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 6, no. 2, pp. 538–544, 2021.

[13] T. Cahyono, H. Ulya, and R. Ristiyani, “Media Konkret Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengungkapkan Kalimat Permintaan Maaf Pada Kelas II SD,” Jurnal Prakarsa Paedagogia, vol. 3, 2021, doi: 10.24176/jpp.v3i2.5858.

[14] D. Sukenti, Buku Ajar Penilaian Pembelajaran Dalam Bahasa Indonesia. Pekanbaru: Penerbit Universitas Riau, 2021.

[15] T. A. Yani and C. N. Irma, “Keterlibatan Orang Tua Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Masa Pandemi Pada Siswa SD Negeri 02 Pengarasan Kecamatan Bantarkawung,” Metalingua: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 6, no. 1, pp. 11–18, 2021, doi: 10.21107/metalingua.v6i1.9084.

[16] M. U. Batoebara and B. S. Hasugian, “Peran Orang Tua dalam Komunikasi Pembelajaran Daring,” Warta Dharmawangsa, vol. 15, no. 1, pp. 166–176, 2021, doi: 10.46576/wdw.v15i1.1058.

[17] S. N. A. Hikmah, “Problematika Pencapaian Kompetensi Keterampilan Berbicara Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Peneroka, vol. 1, no. 1, p. 59, 2021, doi: 10.30739/peneroka.v1i01.739.

[18] A. S. Nababan and F. Z. Nasution, “Peran Orang Tua di Dalam Membangun Kepercayaan Diri Anak Sejak Dini,” Psikologi Prima, vol. 5, no. 2, pp. 47–53, 2022, doi: 10.34012/psychoprima.v5i2.3136.

[19] L. Susanti, “Analisis Keterampilan Berbicara Siswa Kelas IV Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Pasar Baru 1 Kota Tangerang,” Jurnal Elementary, vol. 5, no. 1, p. 91, 2022, doi: 10.31764/elementary.v5i1.5434.